Amanat.news – Minggu lalu, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan mendapat gelar Datuk Haji Dalom Laksana dari  Sultan Pontianak, Sultan Syarif Mahmud Melvin Alkadrie. Sebuah anugerah gelar yang istimewa karena merupakan gelar kekerabatan dari Kesultanan Pontianak untuk tokoh bangsa.

Penganugerahan gelar dilakukan di Istana Kadriah, sebuah istana yang menjadi monumen sejarah dan perjuangan pendirian Kesultanan Pontianak. Bagaimana sejarah istana ini berdiri dan seperti apa keistimewaannya, simak sajian amanat.news berikut ini.

Istana Kadriah berlokasi di Kampung Bugis Dalam, Pontianak Timur, sekitar empat kilometer dari pusat Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Lokasi ini tak jauh dari pertemuan tiga sungai; Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak.

Berupa sebuah rumah panggung yang hampir semua bagiannya terbuat dari kayu belian (kayu besi), mulai tangga masuk, dinding, hingga atap sirapnya. Warna kuning menjadi nuansa utama bangunan, termasuk puluhan perabot yang ada di dalamnya.

Balairung istana, tempat kursi singgasana raja berada.

“Warna kuning kan warnanya bangsawan, juga lambang kemakmuran seperti yang dicita-citakan pendiri Kesultanan Pontianak,” jelas Safirah Zohora, salah satu kerabat istana kepada wartawan media ini saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.

Di dalam istana bisa dijumpai perabot-perabot asli peninggalan kesultanan masa lampau. Ada ‘kaca seribu’, yaitu dua cermin pemberian orang Perancis pada 1823, yang bisa memantulkan bayangan berkali-kali.

Ada pula kursi singgasana, tempayan, keris pusaka, tombak penobatan, pedang, baju kesultanan, dan sebuah kitab Al Quran. Benda terakhir menjadi yang paling menarik karena ditulis sendiri oleh Sultan Syarif Abdurrahman dua abad lalu.

Al Quran pusaka tersebut diletakkan di atas sebuah meja dalam sebuah kamar yang konon secara turun-temurun digunakan oleh Sultan Pontianak pertama hingga keenam.

Layaknya kamar peraduan, sebuah tempat tidur yang juga seluruhnya bernuansa kuning terdapat di dalamnya. Ada lipatan kertas bertulis larangan untuk menduduki tempat tidur ini.

Al Quran yang ditulis tangan oleh Sultan Syarif Abdurahhman dua abad lalu.

“Meski sudah diperingatkan, pernah ada pengunjung yang nekat duduk di sini dan berfoto. Anehnya, di foto tersebut nampak bayangan hitam menakutkan,” ungkap seorang ibu tua kerabat istana yang lain.

Menurut penuturan Safirah, pada 2004, sebelum terpilih menjadi presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah bermunajat di kamar ini.

Di ruang balairung, terdapat sebuah meriam bercat kuning yang tergeletak di samping dua kursi singgasana. Meriam bercat kuning juga terdapat di halaman istana yang dikenal sebagai Meriam Stimbol. Sebutan ini merujuk pada jasanya dalam menentukan letak istana saat digunakan oleh Sultan Syarif Abdurrahman.

Suatu ketika, untuk mencari daerah baru, Syarif Abdurrahman Alkadrie harus menyusuri Sungai Landak dan Sungai Kapuas.  Menantu Raja Mempawah, Daeng Opu Manambon itu ingin memperluas syiar Agama Islam di wilayah Kalimantan yang lain.

Menggunakan 14 perahu kakap dan bersenjatakan beberapa pucuk meriam, Syarif Abdurrahman bersama rombongannya memulai perjalanan lewat Sungai Peniti. Setelah lebih lima malam mengarungi sungai, ia mendapatkan petunjuk untuk menembakkan meriam ke tepian sungai.

Sultan juga memerintahkan anak buahnya untuk menembakkan meriam ke arah hutan dan menyuruh mereka mencari jatuhnya peluru. Setelah delapan hari membabat hutan, peluru akhirnya ditemukan di bawah sebuah pohon, dekat persimpangan Sungai Kapuas Kecil, Sungai Kapuas, dan Sungai Landak.

Kaca seribu, dua cermin pemberian orang Perancis pada 1823, yang bisa memantulkan bayangan berkali-kali.

Syarif memerintahkan membangun sebuah masjid di tempat peluru ditemukan. Setelah itu, Sultan kembali memerintahkan anak buahnya menembakkan meriam. Di tempat jatuhnya peluru meriam ini, ia kemudian mendirikan rumah tempat tinggal.

Rumah itulah yang kemudian berkembang menjadi istana, yang sekarang dikenal sebagai Istana Kadriaah. Sedangkan masjid yang didirikannya disebut Masjid Jamik Sultan Syarif Abdurrahman.

Peristiwa penembakan meriam untuk memilih lokasi istana itu terjadi pada 14 Radjab 1185 H atau 23 Oktober 1771 M. Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada Senin, 8 Sya’ban 1192 H, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama.

Saat ini, keberadaan Istana Kadriah dan Masjid Jami’, menjadi simbol sejarah dan perjuangan pendirian kota yang dibelah dua sungai besar itu. Masyarakat sangat menghormati dan menyakralkan bangunan-bangunan tua itu.

Sayang, saksi utama pendirian kota dan Kesultanan Pontianak ini kurang terawat dengan baik. Menurut pewaris tahta Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abu Bakar kepada Pontianak Post beberapa waktu lalu, 70 persen pondasi bawah istana tak dapat dipertahankan lagi.

Peraduan yang konon secara turun-temurun digunakan oleh Sultan Pontianak pertama hingga keenam.

Sementara atap istana yang mencirikan bangunan masa lalu telah mengalami kebocoran di beberapa sisi. Sudut-sudut langit-langit atap juga digunakan bersarang oleh kawanan burung layang-layang.

“Kalau hujan, lantai di sini penuh dengan air,” ungkap Safirah seraya menunjuk lantai berkarpet di depan kursi singgasana. HK.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *