Oleh : Abdullah As Syi’abul Huda*
Amanat.news – Setiap perhelatan kongres selalu identik dengan agenda transformasi dan perebutan kekuasaan. Agenda tersebut menjadi satu fungsi dan sebuah keniscayaan di dalam sebuah organisasi, untuk merawat tradisi agar keberlanjutan kepemimpinan berjalan dengan baik.
Namun transformasi kepemimpinan di dalam musyawarah tertinggi itu seharusnya tidak berdiri sendiri sebagai agenda utama. Perlu mendorong rekomendasi-rekomendasi pembahasan strategis organisasi untuk menambah nuansa kongres menjadi lebih bermakna dan bermartabat.
Catatan kritis tentang organisasi BM PAN hari ini bisa kita mulai dari buruknya konsolidasi organisasi dari tingkat pusat hingga daerah. Permusyawaratan organisasi yang tidak berjalan dengan baik mengakibatkan buruknya periode kepengurusan dari tingkat DPP, DPW dan DPD.
Normalnya, sebuah organisasi ketika sudah menetapkan agenda kongres, permusyawaratan di tingkat wilayah dan daerah tidak boleh dilaksanakan. Karena nanti yang akan terjadi adalah kecenderungan mendorong terciptanya partisipasi elektoral kepentingan jelang kongres. Sehingga martabat dan fungsi permusyawaratan tidak lagi berjalan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Biasanya kita mengenal konsolidasi organisasi menggunakan metode top-down atau ada yang bottom-up. Namun hari ini jika melihat BM PAN nampaknya kita susah mengidentifikasi arah konsolidasi oganisasi kita. Bagi organisasi yang sudah melangsungkan kongres ke-7, menjadi sesuatu yang tidak wajar jika tata kelola organisasi tidak berjalan dengan baik.
Catatan berikutnya adalah fungsi kaderisasi yang belum berjalan. Kita seringkali mendengar dalam setiap panggung kegiatan BM PAN dikatakan bahwa organisasi ini adalah Kawah Candradimuka bagi kader-kader Muda PAN. Namun kita tidak melihat semangat impelementasi itu untuk menyatakan bahwa organisasi ini benar-benar sebagai organisasi perkaderan.
Kaderisasi utama atau formal tidak berjalan, bahkan kaderisasi fungsional juga tidak begitu jelas. Lalu bagaimana kita menghitung jumlah kader dasar, kader madya, dan kader paripurna yang dimiliki BM PAN hari ini? Apakah masih bangga kita menyandarkan BM PAN sebagai Kawah Candradimuka namun secara legalitas kita tidak pernah melaksanakan pelatihan kaderisasi?
Hal yang paling ironis adalah fakta bahwa saat melaksanakan kegiatan BM PAN peserta harus dibantu teks video untuk menyanyikan Mars BM PAN. Jika tidak ada video teks, saya yakin hanya segelintir peserta yang hafal di luar kepala. Itu baru Mars BM, bagaimana jika timbul pertanyaan dasar kapan BM PAN didirikan dan siapa pendirinya? Masihkah kita tetap lantang menyatakan bahwa BM PAN organisasi kader dan Kawah Candradimuka?
Catatan terakhir dalam tulisan ini, mengajak seluruh pengurus BM PAN se-Indonesia untuk mendorong BM PAN lebih aktif mengambil peran strategis dalam ikut serta memenangkan PAN di seluruh wilayah dan di setiap tingkatan. Kader-kader BM PAN yang sudah menjadi anggota dewan dan menjadi pemangku kebijakan utama di PAN, perlu memfasilitasi ruang diskusi untuk memberikan resonansi peran dan aktivasi barisan sebagai mitra utama dalam pemenangan PAN. BM PAN bisa berperan mengisi ruang sebagai calon anggota dewan atau bisa mengisi ruang tim pemenangan, sehingga komponen kerja-kerja BM PAN untuk membantu pemenangan partai terasa sebagai bukti kesetiaan organisasi pada induk semangnya.
Arena kongres bisa menjadi pemantik untuk mendiskusikan beberapa catatan ini dengan penuh khidmat. Partisipasi dan keseriusan tim Materi Kongres VII BM PAN memiliki peran utama untuk menghadirkan suasana Kongres VII BM PAN menjadi bermartabat dan berdampak.
Selamat berkongres, Barisanku.
Jaya Selalu Barisanku, BM PAN Perkasa, Kader Siap, PAN Menang, Rakyat Sejahtera!!
*Sekretaris DPW BM PAN Jawa Timur
