Oleh : Drs. H. Husnul Aqib, MM*
Amanat.news – Memasuki Kota Jombang, Minggu malam lalu, suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama langsung terasa. Deretan ucapan dan spanduk menyambut para peserta dan tamu yang datang, membentang hingga menuju arena muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas.
Semua persiapan semakin tampak di berbagai sudut, posko-posko kesehatan berdiri untuk memberikan pelayanan kepada peserta dan masyarakat. Tempat transit disiapkan sebagai ruang singgah bagi mereka yang datang dari perjalanan jauh.
Di sisi lain, geliat UMKM masyarakat juga ikut tumbuh. Berbagai usaha lokal diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan para muslimin dan muslimat yang hadir dalam perhelatan besar tersebut.
Saya datang dari Surabaya murni ingin merasakan kemeriahan Muktamar NU. Di tengah ramainya arena, tenda-tenda bazar berdiri dengan beragam produk dan merchandise NU yang menarik perhatian para pengunjung.
Namun, ada satu stand yang membuat tertarik. Bukan karena menjual merchandise, melainkan karena sebuah tulisan sederhana yang terpampang di depannya, “Sawah Palsu.”
Namanya terdengar unik, tetapi gagasan di baliknya justru sangat nyata. Di atas selembar terpal, serta didalam kolam ada ikan lele, disitu dibuat miniatur persawahan menggunakan polybag.
Lahan yang terbatas tidak lagi menjadi alasan untuk tidak bertani. Rumput yang selama ini kerap dianggap sebagai gulma pun dimanfaatkan menjadi biosaka alami, sebuah inovasi yang mencoba menghadirkan solusi pertanian sederhana dan ramah lingkungan.
“Sawah Palsu” ini mungkin hanya berukuran kecil, tetapi gagasannya membawa pesan yang besar: ketahanan pangan bisa dimulai dari ruang yang kita punya.
Tidak semua orang memiliki sawah yang luas. Tidak semua rumah memiliki lahan pertanian. Tetapi jika prinsipnya adalah memanfaatkan ruang secara kreatif, halaman rumah, pekarangan, bahkan lahan terbatas dapat menjadi bagian dari upaya menyediakan pangan.
Di balik konsep “Sawah Palsu” itu, saya bertemu dengan Pak Ismoyo. Dengan penuh energi, beliau menjelaskan detail proses pembuatan biosaka, yang dibuat dari jenis-jenis rumput alami yang mudah ditemukan di sekitar kita.
Biosaka digunakan sebagai bagian dari ikhtiar menyuburkan tanah dan membantu memberikan nutrisi bagi tanaman padi tanpa bergantung pada bahan kimia sintetis. Konsepnya sederhana, berbasis bahan alami, dan membawa semangat pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Selaras dengan semangat yang terus digaungkan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan tentang pentingnya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Gagasan besarnya, pangan harus diproduksi, masyarakat harus diberdayakan, dan desa harus menjadi bagian penting dari kekuatan pangan nasional. Bahkan, Ketua Umum Zulkifli Hasan juga mendorong penguatan desa sebagai pusat produksi pangan sekaligus fondasi ekonomi yang mandiri.
*Sekretaris DPW PAN Jawa Timur & Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur
