Amanat.news – Di tengah derasnya arus tren fesyen global yang bergerak cepat, generasi muda dihadapkan pada tantangan untuk tetap mengenal dan menghargai identitas budaya mereka sendiri.
Bagi Bianglala Merah Kalyanismara (19), tantangan tersebut menjadi semakin relevan setelah dirinya terpilih sebagai Puteri Kebaya Jawa Timur 2026 dalam ajang pemilihan yang digelar pada 19 September 2026, lalu.
Perempuan yang akrab disapa Kalya itu melihat kebaya bukan semata-mata sebagai busana tradisional yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Kebaya, menurut dia, dapat menjadi medium bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya sekaligus mengekspresikan kreativitas mereka.
Sebagai bagian dari Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Jawa Timur, Kalya juga melihat anak muda memiliki ruang yang besar untuk memperkenalkan budaya melalui cara-cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
“Kebaya jangan sampai hanya dikenal sebagai pakaian yang dipakai ketika ada acara tertentu. Anak muda harus merasa bahwa kebaya juga bisa menjadi bagian dari kehidupan mereka,” katanya.
Menurutnya, kebaya memiliki nilai yang lebih panjang daripada sekadar mengikuti tren. Di balik sebuah kebaya terdapat keterampilan, material, proses pembuatan, serta pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, lanjut Kalya, mengenakan kebaya juga dapat menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap para pengrajin dan pelaku ekonomi kreatif yang menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Di tengah tren yang terus berganti, Kayla berharap kebaya tidak dipandang sebagai simbol masa lalu yang harus dipertahankan dalam bentuk yang kaku. Sebaliknya, kebaya dapat terus berkembang mengikuti kreativitas generasi baru, selama nilai dan identitas budayanya tetap dipahami.
Bagi kader muda BM PAN Jatim tersebut, mengikuti perkembangan zaman tidak berarti harus meninggalkan akar.
“Menjadi generasi modern dan tetap mengenal budaya sendiri merupakan dua hal yang dapat berjalan Bersama,” tandasnya. //
