Amanat.news – Pengajian PANggung Religi sudah di separuh acara, ketika sang penceramah, Gus Iqdam, mengajak berbincang para jamaah. Setelah dengan Risa, perempuan asal Kecamatan Wajak, ia kemudian mencari jamaah lain yang merupakan korban Tragedi Kanjuruhan.
“Izin, di sini ada nggak yang keluarga korban Kanjuruhan? Ada yang hadir nggak? Yang korban Kanjuruhan ada?” tanya ulama muda asal Blitar itu di Lapangan Parkir Stadion Kanjuruhan, Sabtu (29/8/2026) malam.
Dari kerumunan ribuan jamaah yang menyesaki sisi kanan depan panggung, seorang laki-laki berjaket dan berpeci hitam mengangkat tangan. Ia berusaha berjalan ke depan, namun padatnya jamaah di pengajian memperingati HUT ke-28 PAN itu menghalanginya untuk bisa merapat ke dekat panggung.
Dengan microphone yang diberikan panitia, ia kemudian mengenalkan diri sebagai Muhammad Thoyib asal Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Thoyib mengaku, anaknya ikut menjadi korban saat insiden kericuhan pecah di Stadion Kanjuruhan, 1 Oktober 2022.
“Pak Thoyib, izin, yang jadi…ngapunten (maaf)..eh, korban… korban Kanjuruhan?” tanya Gus Iqdam yang di atas panggung duduk berdampingan dengan Ketua DPW PAN Jawa Timur, Ahmad Rizki Sadig.

“Yoga kulo, Gus. Laki-laki umur 21 tahun, namanya Muhammad Adib Husni,” jawab Muhammad Thoyib, menyampaikan bahwa anak laki-lakinya yang menjadi korban.
“Terus, tidak ada? Beliau tidak ada?” lanjut Gus Iqdam menanyakan apakah Muhammad Adib meninggal dunia.
“Tidak ada,” jawab Muhammad Thoyib.
Secara singkat Thoyib bercerita bahwa dirinya sempat mencari Adib Husni di Rumah Sakit Wava Husada tak lama setelah kericuhan. Ia berhasil menemukan putranya, namun kondisi Adib sudah terbujur tak bernyawa.
“Allahhummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fuanhu. Lahul fatihah…” doa Gus Iqdam yang diikuti puluhan ribu jamaah.
Tragedi Kanjuruhan terjadi usai pertandingan sepak bola Liga 1 yang mempertemukan tuan rumah Arema FC melawan Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3 untuk kemenangan tim tamu. Sejumlah suporter Aremania kemudian turun ke lapangan meluapkan kekecewaan.
Aparat keamanan merespon dengan membabi-buta menggunakan gas air mata yang ditembakkan ke arah lapangan dan tribun penonton. Kepanikan luar biasa pun terjadi yang mengakibatkan ratusan penonton tewas dan terluka.
Untuk mengenang tragedi di Stadion Kanjuruhan itu, dibangun sebuah monumen di sisi selatan stadion yang memuat nama-nama korban meninggal dunia. Nama Muhammad Adib Husni berada di urutan ke-76 dari 135 nama korban yang dipahat di monumen.

Adib merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara. Muhammad Thoyib sendiri sehari-sehari bekerja serabutan, kadang bertani kadang menjadi buruh tebang tebu.
“Masyaallah. Nggih mugi-mugi terus diparingi kesabaran Pak Toyib (Masyaallah. Iya semoga terus diberi kesaran, Pak Thoyib),” kata Gus Iqdam penuh empati.
Di akhir dialog tersebut, Gus Iqdam memberikan tali asih berupa uang sebesar Rp. 5 juta kepada Muhammad Thoyib. Ia menyebut rezeki tersebut merupakan sedekah dari Bendahara DPW PAN Jawa Timur, H. Beky Herdiyansyah atau yang akrab dipanggil Kaji Beky.
“Alhamdulillah. Semoga PAN selalu jaya di Indonesia, selalu jadi amanah rakyat selamanya. Dan untuk Haji Beky, mugi-mugi barokah umur, barokah rejeki,” ucap Muhammad Thoyib merespon datangnya rejeki yang tak disangkanya.
“Aamiin.Aamiin. Sing sabar nggih Pak nggih. Ngapunten ingkang kathah (Aamin. aamiin. Yang sabar ya Pak ya. Mohon maaf yang banyak),” balas Gus Iqdam. HK
