Amanat.news – Ketua DPW PAN Jawa Timur yang juga Ketua Dewan Pakar DPP Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), Ahmad Rizki Sadig, mengingatkan peserta Kongres BM PAN asal Jawa Timur agar tidak memaknai kongres hanya sebagai ajang memilih ketua umum.
Menurutnya, ada agenda yang jauh lebih penting untuk diperjuangkan, yakni memastikan organisasi BM PAN menjadi lebih hidup, solid, dan mampu mencetak kader-kader yang siap mengawal perjuangan partai.
“Saya minta kawan-kawan BM PAN Jawa Timur memperjuangkan ini secara serius di arena kongres nanti, karena ini lebih penting dari sekadar euforia pemilihan ketua umum dan setelah itu kembali dingin, tak bergairah,” kata Rizki saat melepas keberangkatan peserta Kongres BM PAN dari Jawa Timur, Kamis (9/7) malam.
Rizki menilai, proses pemilihan ketua umum hanyalah satu bagian dari kongres. Yang lebih menentukan justru bagaimana organisasi mampu melakukan konsolidasi setelah kongres berakhir.
Menurutnya, roda organisasi harus terus bergerak melalui penguatan struktur, rekrutmen anggota, hingga kaderisasi yang berjalan secara berkelanjutan.
“Ada hal lain yang tidak kalah penting dari pemilihan ketua umum, yakni bagaimana proses konsolidasi organisasi pasca kongres bisa berjalan maksimal. Organisasi harus hidup, rekrutmen harus berjalan, kaderisasi juga harus terus dilakukan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memperjelas posisi dan peran strategis BM PAN sebagai organisasi sayap kepemudaan Partai Amanat Nasional.
Menurut Rizki, BM PAN harus mampu menjadi kekuatan yang mendukung berbagai program partai melalui organisasi yang aktif, berdaya, dan memberi ruang aktualisasi bagi para kader muda.
“Memposisikan keberadaan BM PAN itu penting. Peran apa yang bisa dioptimalkan untuk mendukung program-program PAN hanya bisa dicapai jika organisasinya hidup, berdaya, dan kader-kadernya memiliki ruang untuk berkembang,” paparnya.
Karena itu, Rizki meminta delegasi Jawa Timur tidak hanya fokus pada dinamika dukung-mendukung kandidat ketua umum selama kongres berlangsung.
Sebaliknya, ia mendorong peserta membawa berbagai catatan evaluasi mengenai kondisi organisasi agar menjadi agenda pembenahan bersama.
“Perjuangan-perjuangan yang disampaikan jangan melulu soal kandidat ketua umum. Jadikan arena kongres ini untuk memperjuangkan catatan-catatan koreksi terhadap organisasi, mulai dari konsolidasi yang belum maksimal, proses rekrutmen yang belum optimal, hingga kaderisasi yang belum berjalan sebagaimana mestinya,” tegasnya.
Rizki berharap BM PAN ke depan mampu berkembang menjadi ruang pembelajaran sekaligus laboratorium gerakan politik bagi kader muda PAN.
“Setidaknya BM PAN bisa menjadi tempat mengasah kajian, melakukan analisis, sekaligus menjadi laboratorium model gerakan bagi kader-kader BM PAN yang nantinya akan bertarung di legislatif maupun eksekutif,” pungkasnya.//cw
