Amanat.news – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Suli Da’im, turut menyikapi kembali munculnya PMK (penyakit mulut dan kuku) pada sapi di sejumlah daerah di Jawa Timur. Dia menghimbau para peternak untuk segera bertindak cepat jika menemukan tanda-tanda PMK di ternaknya.
“Laporkan secepatnya ke petugas kesehatan hewan, PPL, atau perangkat desa jika ditemukan gejala PMK,” kata Suli Da’im kepada media, Rabu (28/1/2026).
Seperti diberitakan, salah satu daerah yang terserang PMK adalah Ngawi. Setidaknya ada 9 kecamatan di kabupaten ini dilaporkan mendapat serangan, yaitu Karanganyar, Mantingan, Gerih, Kasreman, Sine, Padas, Widodaren, Pangkur, dan Ngrambe.
“Sebagian besar kasus menyerang sapi baru yang diduga belum divaksinasi,” ungkap Suli Da’im.
Selain melaporkan ke petugas berwenang, Suli Da’im juga menghimbau kepada peternak agar memisahkan sapi yang sakit dari yang sehat. Untuk itu, para peternak diminta tahu gejalanya, seperti luka pada mulut atau kuku, air liur berlebih, ternak pincang, dan tidak mau makan.
“Melakukan karantina ternak baru: Jangan mencampur ternak baru, terutama yang dibeli dari luar daerah, dengan ternak lama sebelum dipastikan sehat dan divaksin,” jelasnya.
Suli Da’im juga meminta peternak untuk selalu menjaga kebersihan kandang dan mencuci tangan/pakaian setelah kontak dengan ternak. Langkah lainnya adalah menunda penjualan di pasar hewan untuk memutus rantai penularan.
“Tapi para peternak jangan panik karena PMK dapat disembuhkan dengan penanganan yang cepat dan tepat,” ujarnya.
Politisi PAN tersebut berharap Dinas Peternakan setempat segera melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin pada kandang dan peralatan ternak untuk membunuh virus. Suli Da’im juga menghimbau pemerintah setempat untuk melakukan percepatan vaksinasi PMK pada hewan yang sehat, terutama di sekitar lokasi kasus.
“Vaksinasi pada sapi yang sehat dan pengobatan pada ternak yang terinfeksi ini untuk mengurangi gejala dan mencegah infeksi sekunder,” tutur legislator propinsi yang terpilih dari Dapil Ngawi, Ponorogo, Magetan, Trenggalek, dan Pacitan itu.
Dia juga berharap, pemerintah setempat melalui Dinas Peternakan memperketat pengawasan lalu lintas hewan, khususnya di wilayah perbatasan. Langkah ini untuk mencegah agar penyakit ini tidak berkembang lebih luas. HK.
