Amanat.news – Malam nanti, Senin (7/2/2022), pukul 19.00 – 21.00 WIB, DPW PAN Jawa Timur mengadakan dialog tentang pidato kebudayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Sejumlah akademisi akan hadir di Rumah PAN, Jalan Darmokali, Surabaya, untuk membedah pidato berjudul “Indonesia Butuh Islam Tengah” tersebut.

Mereka adalah Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UINSA, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag, Wakil Direktur – Bidang Riset, Pengabdian Masyarakat, Digitalisasi dan Internasionalisasi Prof. Dr Suparto Wijoyo, dan Dosen Ilmu Politik UINSA Dr. Andi Suwarko, S.Ag, M.Si. Ketua Harian DPW PAN Jawa Timur, Dr H Achmad Rubaie, SH, MH, juga menjadi salah satu penanggap.

Pada Sabtu, 29 Januari 2022, lalu, bertempat di Perpustakaan Nasional RI, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menyampaikan pidato kebudayaan berjudul ‘Indonesia Butuh Islam Tengah’. Ia membacakan pidatonya di hadapan beberapa tokoh politik, tokoh agama, tokoh intelektual, tokoh pers, tokoh seni dan budaya.

Zulhas mengatakan bahwa Konsensus yang dihasilkan oleh para pendiri bangsa ini berhasil mengesampingkan perbedaan dengan tujuan utama Indonesia yang damai di tengah perbedaan, adil, dan sejahtera.

Boleh dikatakan, kata Zulhas, lahirnya negara Indonesia ini adalah buah dari perjuangan tokoh-tokoh Islam yang memiliki wawasan dan kepribadian tengahan atau moderat. Wajah Islam seperti inilah yang sampai sekarang mampu mengatasi perbedaan di Indonesia.

“Semestinya, pemikiran mengenai Islam moderat, Islam wasatiyyah, atau yang saya sebut Islam Tengah ini pulalah yang saat ini menjadi pijakan kita dalam berbangsa dan bernegara,” kata Zulhas.

Menurut Zulhas, Islam Tengah adalah perwujudan Islam yang mengedepankan moderasi yang dalam Bahasa Arab dikenal dengan kata wasath atau wasathiyah, yang memiliki padanan makna dengan kata tawassuth (tengah-tengah), i’tidal (adil), dan tawazun (berimbang).

Kata wasathiyah diartikan juga sebagai ‘pilihan terbaik’, sikap superior atau unggul yang mengerti batas-batas toleransi semua pihak dan sanggup mengayomi semua golongan. Maka menjadi moderat justru bukanlah sikap yang lemah, abu-abu, tidak jelas, atau mencari aman.

“Sikap moderat adalah sikap unggul dan superior untuk mencari titik temu dan juru damai yang menghindari titik tengkar. Inilah Islam yang mengedepankan prinsip rahmatan lil ‘alamin, menjadi berkah bagi sekalian alam,” lanjutnya.

Islam Tengah bukanlah sebuah kosep yang baru. Spirit Islam Tengah sudah lama hidup di Indonesia, sejak dilahirkan oleh para pendiri bangsa, terutama para tokoh Islam yang melihat Indonesia secara utuh dan berpegang teguh pada ‘pilihan terbaik’ atau wasathiyyah.

Pandangan dan sikap Islam Tengah ini sampai sekarang terus dihidupkan dan dikembangkan oleh mayoritas pemeluk Islam di Indonesia. Ini merupakan tafsir beragama yang diperlihatkan oleh ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Washliyah, Tarbiyah, dan lainnya.

“Saya kira, spirit Islam Tengah inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang damai, memiliki stabilitas politik yang baik, dan kompatibel pada ide-ide kemajuan,” tegas Zulhas.

Melihat konteks sosial-politik Indonesia hari ini, Zulhas merasa spirit Islam Tengah harus diperkuat kembali. Aktor-aktor politik kebangsaan Islam harus berpegang teguh pada nilai-nilai ini dan menghindarkan diri dari godaan ideologi-ideologi transnasional Islam yang mencoba menawarkan konsep khilafah.

“Khilafah kita justru adalah pancasila itu, karena Indonesia adalah darul ‘ahdi wasy-syahadah,” ucap Zulhas.

Zulhas menyampaikan, bagi dirinya spirit Islam Tengah harus kita jadikan fondasi dan kita aktualisasikan kembali dalam tatanan kehidupan sosial kita hari ini. Lebih jauh, pandangan Islam Tengah ini harus menjadi jalan politik Indonesia ke depan.

Sebab, Islam Tengah tidak hanya membawa misi ketuhanan, tapi juga misi kemanusiaan. Kini, kata Zulhas, sudah saatnya kita bersama-sama membumikan kembali Islam Tengah, menjadikannya perbincangan publik Islam yang utama.

“Islam Tengah merupakan sebuah konsep keislaman dan jalan kebangsaan yang perlu menjadi panduan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” ucap Zulhas.

Bagaimana tanggapan para akademisi tentang pidato Zulhas di atas, mari kita simak bersama-sama dalam Talkshow Jatim Basis PAN nanti malam. Acara ini bisa diikuti melalui zoom meeting, dengan meeting id: 947 016 3737, passcode: PANJATIM. HK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *