Kegelisahan Alfianida Pada Realitas Politik di Indonesia

AMANAT – Panggung politik menjadi magnet bagi Alfianida Rahmawati, S.Ikom, M.Si, staf ahli DPR RI, sejak masih belia. Ia pun bertumbuh bersama kegelisahannya tentang politik yang semestinya berjalan ideal.  

Ketika kegaduhan politik berlangsung pada 1998, Fia – demikian ia biasa disapa – masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia masih bisa mengingat dengan jelas, betapa kala itu pemberitaan di hampir semua media massa berpusat pada satu hal yakni tentang kegaduhan politik dan kondisi sosial yang menyertainya.

Rasa ingin tahu di benaknya sebenarnya terusik, namun karena dianggap masih anak-anak, tak banyak yang kemudian menanggapinya. Beruntung Fia memiliki kakek yang begitu perhatian dengannya. Sang kakek dengan telaten menerjemahkan berita-berita kegaduhan politik itu kepada Fia.

Sejak itu, dunia politik layaknya dunia hiburan yang selalu mengusik ketertarikannya. Ia pun mulai mengidolakan tokoh-tokoh politik yang sering muncul di media massa. “Saat itu, saya sudah mengidolakan Amien Rais juga Andi Malarangreng. Saya melihat mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan luas dan kemampuan berkomunikasi yang sangat baik,” ujar Fia.

Jalan Fia untuk kembali dekat dengan aktifitas dunia politik terus terbuka. Di sela menyelesaikan studi S2-nya di Jakarta, ia diajak salah seorang rekannya untuk bergabung dalam tim pemenangan Totok Daryanto (TD) – Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional yang saat ini menjabat Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI – yang dalam pemilu DPR RI 2014 silam maju sebagai caleg dari Dapil Jatim V (Malang Raya).

wajah1 - Kegelisahan Alfianida Pada Realitas Politik di IndonesiaPengalaman terlibat dalam tim pemenangan yang kemudian sukses meraih target kerja dengan berhasil mengantarkan TD menjadi anggota dewan, merupakan fase kehidupan yang paling mengesankan bagi Fia.

“Saya merasa segala hal yang menjadi bekal saya sejak saya masih kecil, didikan dari keluarga, sekolah, hingga organisasi, di uji dalam fase ini. Saya ditempa untuk dapat menerapkan semua hal yang saya pelajari dalam kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan konteksnya. Ini bukan hal yang mudah bagi saya yang saat itu masih berumur 22 tahun,” urai dara cantik yang begitu mengidolakan Khadijah, istri Rasululla ini.

Apakah capaian itu linier dengan makna sukses bagi Fia? “Standar kesuksesan menurut saya adalah kita membuat orang-orang disekeliling saya bahagia. Ketika kita melihat keluarga bahagia karena peran kita, itu kesuksesan menurut saya. Ketika melihat rakyat bahagia  karena peran serta kita melalui upaya peningkatan kualitas hidup yang mereka miliki, itu merupakan kesuksesan untuk saya,” tandasnya.

Karena hal itu pula, Fia merasakan begitu gelisah ketika mendapati realitas masih ada pemimpin yang notabene memiliki akses untuk mengambil kebijakan ternyata abai untuk mengabdi dan berjuang demi kepentingan umat. cw

Tinggalkan Balasan