Amanat.news – Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Syaiful Nuri, mengajak pemuda Indonesia untuk memiliki tepa selira, yaitu sikap tenggang rasa atau empati terhadap orang lain. Ia menyebut sikap ini sebagai adab yang lebih tinggi dari ilmu.
Syaiful Nuri menyampaikan itu saat menjadi pembicara dalam acara Sosialiasasi 4 Pilar Kebangsaan di Bandung, Minggu (26/4/2026). Ia berbicara di hadapan ratusan peserta sosialisasi yang sebagian besar adalah Pemuda Persatuan Islam (Persis).
“Kita harus mengedepankan tepa selira, adab. Jadi adab kita harus dikedepankan. Jadi, kalau kita berilmu, kalau kita tak beradab itu sama saja kita berenang di dalam lautan tanpa kita pakai pelampung,” kata Syaiful Nuri.
Anggota Fraksi PAN tersebut mengatakan, pemuda adalah kekuatan perubahan. Sementara dalam konteks hari ini, tantangan kebangsaan tidak lagi hanya fisik, tetapi juga ideologis, digital, dan sosial. Dalam konteks tersebut, arus globalisasi, disinformasi, radikalisme, hingga apatisme politik bisa menjadi ancaman nyata.
“Sebagai bagian dari Pemuda Persatuan Islam, kader pemuda tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Di sinilah pentingnya memahami dan mengimplementasikan Empat Pilar Kebangsaan secara utuh,” ungkap laki-laki yang akrab dipanggil Gus Ipung tersebut.
Menurutnya, pilar pertama, Pancasila, dapat dipahami secara mendalam, sebagai representasi nilai-nilai tauhid dalam kehidupan berbangsa. Sila Ketuhanan mencerminkan keimanan, sementara kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan merupakan manifestasi akhlak Islam dalam ruang sosial.
“Tantangan yang bisa terjadi, munculnya pemahaman sempit, yang mempertentangkan agama dan negara. Oleh karena itu, Pemuda Persis perlu hadir dengan dakwah yang menegaskan, bahwa Pancasila sejalan dengan nilai Islam,” jelas Syaiful.
Pilar kedua, yaitu Undang-Undang Dasar 1945, merupakan pedoman utama dalam kehidupan bernegara, yang menjamin hak dan kewajiban warga negara. Menurut Gus Ipung, Pemuda Persis dapat mengambil peran strategis melalui pendidikan hukum berbasis komunitas, seperti sekolah kader konstitusi atau diskusi publik, tentang hak warga negara dalam perspektif Islam.
“Selain itu, advokasi terhadap persoalan umat seperti akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kebebasan beribadah, dapat menjadi bentuk nyata pengamalan konstitusi. Dengan demikian, pemuda tidak menjadi pengamat, tetapi juga pelaku perubahan yang berpihak pada keadilan,” paparnya.
Selanjutnya, pilar ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menuntut komitmen bersama, untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman. Ancaman dis-integrasi, radikalisme, dan konflik identitas, menjadi tantangan yang harus dihadapi generasi muda.
“Pemuda Persis memiliki peran penting, sebagai perekat umat dan bangsa, melalui gerakan ukhuwah kebangsaan. Kegiatan seperti kolaborasi lintas organisasi, pengabdian masyarakat di daerah terpencil, serta keterlibatan dalam aksi kemanusiaan dan kebencanaan, adalah bentuk nyata menjaga NKRI,” imbuh Gus Ipung.
Terakhir, pilar keempat, Bhinneka Tunggal Ika, mengajarkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah, yang harus dikelola dengan bijak. Dalam realitas saat ini, lanjut Syaiful Nuri, intoleransi sering muncul akibat kurangnya interaksi dan pemahaman lintas kelompok.
Ia menilai, Pemuda Persis dapat menjadi pelopor dalam merawat keberagaman melalui dialog lintas iman dan kegiatan sosial bersama. Mereka juga bisa melakukan kampanye digital yang mengedepankan toleransi, tanpa mengorbankan prinsip akidah.
“Pendekatan ini penting, agar pemuda mampu menunjukkan wajah Islam yang inklusif, ramah, dan solutif dalam kehidupan berbangsa,” ujar wakil rakyat yang terpilih dari Dapil Jatim 2 (Pasuruan –Probolinggo) tersebut. HK
