Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Ahmad Rizki Sadig menegaskan pentingnya kerja politik yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Menurut dia, kehadiran kader partai di tengah warga harus diwujudkan melalui kerja-kerja yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.
“Perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan warga. Ketika masalah sehari-hari bisa dijawab, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya,” ujar Rizki Sadig saat menjadi narasumber dalam forum kader PAN di Kabupaten Kediri, Jumat (19/12) lalu.
Berangkat dari pandangan tersebut, Rizki Sadig yang juga Ketua DPW PAN Jawa Timur mendorong kader untuk terlibat aktif dalam persoalan konkret yang dihadapi masyarakat desa. Hal itu tercermin dalam forum pertemuan kader PAN dari daerah pemilihan (dapil) 2 Kabupaten Kediri yang digelar di Gedung Serba Guna Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare.
Dalam forum tersebut, berbagai persoalan mengemuka, mulai dari pengelolaan limbah ternak, keterbatasan akses pupuk bersubsidi, hingga kesulitan memasarkan hasil pertanian. Peserta forum berasal dari beragam latar belakang, seperti petani, peternak, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang selama ini bersentuhan langsung dengan persoalan ekonomi desa.
Sejalan dengan arahan tersebut, Ketua DPD PAN Kabupaten Kediri M. Yusuf Aziz mengatakan bahwa forum kader memang dirancang untuk menjawab problem keseharian warga, bukan untuk membahas strategi politik elektoral. Menurut dia, kader PAN diarahkan untuk hadir sebagai pendamping masyarakat dalam mendorong kemandirian ekonomi desa.
“Kami ingin forum-forum seperti ini menjadi ruang mencari solusi bersama, bukan sekadar pertemuan formal,” ujar Yusuf.
Ia menambahkan, kader partai perlu memahami persoalan riil di lapangan agar mampu berperan sebagai penghubung antara warga, akses pengetahuan, program pendampingan, serta peluang pasar yang lebih luas, termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital.
Dalam diskusi tersebut, peserta juga mendapatkan pemaparan dari Aminudin, pemilik FunFarm—sebuah marketplace kebutuhan berkebun—yang menjelaskan potensi ekonomi dari pengelolaan limbah ternak. Menurut Aminudin, pupuk organik berbahan dasar limbah ternak memiliki permintaan pasar yang terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran terhadap pertanian ramah lingkungan.
“Masalahnya bukan pada bahan bakunya, tetapi pada cara mengolah dan memasarkan. Sekarang akses pasarnya sudah terbuka lewat platform digital,” ujar Aminudin.
Pandangan tersebut dirasakan relevan oleh Amirul, petani sekaligus peternak yang menjadi peserta forum. Ia mengungkapkan bahwa biaya pupuk kimia selama ini menjadi salah satu beban terbesar dalam usaha pertanian, terutama ketika harga pupuk naik atau pasokan pupuk bersubsidi terbatas.
“Kalau limbah ternak bisa diolah sendiri, biaya bisa ditekan. Dampaknya langsung terasa di pengeluaran,” ungkap Amirul.
Usai acara utama, diskusi masih berlanjut secara informal di antara para peserta. Mereka membicarakan kemungkinan kerja sama antardesa, pengolahan pupuk organik secara kolektif, hingga strategi pemasaran hasil pertanian berbasis digital, sebagai langkah kecil yang diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa di Kabupaten Kediri.//
