Amanat.news – Kongres sebagai permusyawaratan tertinggi organisasi, seharusnya menjadi tempat berdialektika dan mempertarungkan gagasan. Kongres seharusnya juga menjadi ajang korektif, reinvented dan reaktualisasi programatik terhadap organisasi dan kepemimpinan.
Ketua Bapilu DPW PAN Jawa Timur, Windiarto Kardono, menyampaikan hal itu saat pelepasan 70 delegasi BM PAN Jatim berangkat ke Kongres VII BM PAN di Serang, Banten. Mantan Sekjen BM PAN ini berbicara tentang BM PAN sebagai rumah besar anak muda, kongres, dan figur kepemimpinan.
“Kongres adalah permusyawaratan tertinggi organisasi. Sebagai permusyawaratan tertinggi tentunya yang dominan harusnya dialektika gagasan. Kandidat itu keniscayaan, akan mengikuti,” kata Windiarto di Rumah PAN Jatim, Kamis (9/7/2026) Malam.
Windiarto mengawali ‘tauziah politiknya’ dengan mengingatkan kembali tentang sejarah BM PAN sebagai organisasi otonom tertua yang dimiliki Partai Amanat Nasional. BM PAN, yang dideklarasikan bareng PAN pada 23 Agustus 1998, lahir karena adanya kebutuhan terhadap partai politik yang bisa mewadahi anak muda.
“Banyak komponen anak-anak muda pada saat reformasi ingin mendorong adanya partai politik yang bisa mewadahi kaum muda. Karena itu ketika PAN lahir, komponen dan elemen-elemen muda itu juga mendeklarasikan sebagai BM PAN,” ucap Windiarto.
Nama Barisan Muda Penegak Amanat Nasional – bukan Barisan Muda Partai Amanat Nasional – dipilih supaya organisasi ini lebih fleksibel, bisa masuk ke berbagai komponen. Hal ini terbukti kemudian, BM PAN menjadi rumah besar kaum muda yang berasal dari lintas organisasi dan latar belakang.
Pada masa awal tersebut, menurut Windiarto, terjadi inflasi nilai di BM PAN. Karena pada masa itu, sebelum hingga reformasi terjadi, gagasan-gagasan ideologis banyak menjadi bahan diskusi di kampus-kampus dan di kalangan anak muda.
Justru yang menjadi problem bagi BM PAN saat itu, anak-anak muda tersebut gagap dalam keterampilan politik. Problem ini lah yang melandasi BM PAN memerankan diri sebagai Kawah Candradimuka, tempat untuk melatih dan mengasah kemampuan berpolitik di PAN.
Namun setelah 25 tahun lebih BM PAN berdiri, yang terjadi kemudian adalah kondisi sebaliknya. Anggota BM PAN yang berlatar belakang aktivis dari berbagai organisasi, secara keterampilan politik, menurut istilah Windiarto ‘sudah tuntas’, tetapi defisit dalam nilai-nilai perjuangan.
“Ide dasar dan gagasan perjuangan dalam organisasi, hari ini mengalami defisit. Maka saya ingin mengajak, saya tidak ingin mendorong lagi pada keterampilan politik, tapi gagasan-gagasan. Dialektika itu yang sekarang harusnya menjadi dinamika dalam organisasi seperti BM PAN,” ungkap Windiarto.
Dialektika gagasan itu pula yang seharusnya mendominasi Kongres BM PAN yang merupakan lembaga permusyawaratan tertinggi organisasi. Menurut Windiarto, kandidat adalah keniscayaan yang akan mengikuti munculnya sebuah dialektika gagasan.
Ketika muncul dialektika gagasan korektif secara periodik terhadap organisasi dan kepemimpinan, maka di situ figur kepemimpinan bisa dilihat. Yaitu figur yang mampu membawa amanat politik anak-anak muda di PAN.
“Kalau kemudian kawan-kawan di arena kongres, sebagai permusyawaratan tertinggi, nggak punya gagasan yang sifatnya korektif terhadap organisasasi, ya apa bedanya dengan yang terjadi pada realitas politik masyarakat kita, wani piro dan seterusnya, karena nggak ada dasar gagasan korektifnya,” tukasnya.
Ketua DPW BM PAN Jatim 2000-2003 itu menambahkan, sebagai permusyawaratan tertinggi, kongres seharusnya juga menghasilkan produk-produk reinvented dan reaktualisasi organisasi BM PAN. Termasuk kepemimpinan BM PAN untuk 5 tahun ke depan, yang secara programatik harus jelas.
“Jika hasilnya itu, maka kawan-kawan tinggal mencari mana figur yang bisa dititipi amanat, bisa memikul tanggung jawab terhadap gagasan korektif kawan-kawan semua. Kalau belum-belum sudah ngomong kandidat, itu kan sama dengan kita memberikan cek kosong terhadap organisasi kawan-kawan sendiri,” tegas Windiarto. HK
