Oleh: Agung Supriyanto, SH*
Amanat.news – Siklus kehidupan itu diibaratkan pohon, pada saatnya dahan dan ranting akan rapuh, dan daun-daun berguguran. Ia juga harus merelakan ruang untuk memberikan nutrisi agar bisa diserap, sehingga muncul tunas baru.
Sebab tanpa adanya tunas baru, maka spesies pohon tersebut akan punah, dan kehilangan masa depannya.
Ekosistem dan algoritma dalam organisasi Partai Amanat Nasional (PAN) pun akan mengalami hal serupa. Pada saatnya kepengurusan akan rapuh, dan kader-kader tua satu-persatu akan berguguran.
Sehingga bila tidak dipersiapkan kader-kader tunas muda yang potensial, dampaknya masa depan PAN akan mengalami ancaman.
Barisan Penegak Amanat Nasional (BM PAN) sebagai komponen partai, dan anak yang dilahirkan dari rahim PAN adalah tunas baru yang harus dipersiapkan dengan matang. Tujuannya untuk mengganti secara alami tunas dan daun-daun yang rapuh dan berguguran.
Atas dasar begitu urgen-nya peran BM PAN, maka kongres – sebagai wahana regenerasi untuk jenjang selanjutnya – yang akan dilaksanakan 10 Juli 2026, perlu menjadi perhatian. Sebab jika abai, eksistensi PAN ke depan, dipertaruhkan.
Begitu pentingnya kongres tersebut, kita berharap pelaksanaannya nanti tidak hanya sebatas sebagai ritual politik lima tahunan, atau dipergunakan sebagai ajang seremoni semata, tapi momen tersebut dengan serius harus mampu digunakan menyelesaikan persoalan yang elementary.
Bila kita cermati perkembangan PAN saat ini, sering orang mengakronimkan bahwa PAN dengan Partai Artis Nasional, atau Partai Amanat Nahdatul Ulama’. Akronim tersebut tidak lah berlebihan, karena realitasnya saat ini kader PAN banyak diisi oleh kalangan artis maupun tokoh tokoh NU.
Masuknya kalangan artis dan NU, wajah PAN memang nampak lebih membumi, dan telah mampu bermetafor menjadi partai tidak eksklusif dan memoderasi tampilan.
Melubernya kalangan artis yang masuk menjadi kader PAN, terlebih dominasi mereka menjadi calon anggota legislatif pada Pemilu 2024 lalu, harus diakui buntut popularitas PAN pun berdampak.
Demikian juga banyaknya tokoh Nahdatul Ulama’ yang masuk di PAN. Stigma awal yang sebelumnya PAN di identikan dengan Muhammadiyah, kesan tersebut mulai menipis. Karena realitas saat ini penghuni rumah PAN tak hanya dari jamiyah Muhammadiyah, melainkan juga dari kalangan NU.
Menggeliatnya kalangan artis serta Jamaah NU di rumah PAN, sebagai kader yang berhasrat PAN tumbuh besar, patut berbangga diri. Karena dua entitas besar tersebut telah menyuport PAN yang berdampak pada popularitas dan elektoral menjadi berkembang.
Tetapi keputusan taktis yang mengakomodir dua entitas tersebut dapat juga kita gunakan sebagai sarana evaluasi, sekaligus outokritik bagi PAN. Mengapa ? Bisa jadi langkah taktis tersebut dilakukan, akibat stock kader internal yang sejarahnya lebih banyak di suport oleh BM PAN untuk memenuhi kebutuhan politik kekinian terjadi defisit pengkaderan.
Tentu agar siklus mesin organisasi terus berjalan, cara yang ditempuh oleh Partai sangat dimaklumi, walaupun sisi lain juga perlu dipertanyakan. Mengapa? Karena rekrutmen kader instan tersebut diambil bukan dari terpaan proses idiologi.
Tetapi itulah keputusan di ranah politik, acapkali dalam kondisi tertentu terkadang diperlukan mengambil jalan pintas.
Cetak Biru BM PAN
BM PAN sengaja digunakan sebagai think tank PAN dengan tujuan sebagai wahana asahan kader agar militansi, kematangan, dan basis idiologi untuk memperjuangkan cita cita PAN dapat dijalankan.
Sebagai kader muda yang ke depannya dipersiapkan untuk terjun di kancah politik praktis baik di eksekutif maupun legeslatif, memahami dan menjalankan platform ( garis perjuangan ) partai adalah bentuk keniscayaan. Mengingat, jika kader PAN saat duduk di kekuasan bekal idiologinya rapuh, cara kerjanya berpotensi lebih mengutamakan kepentingan personal dibandingkan institusional (partai ).
Tentu para pendiri PAN melahirkan BM PAN , terselipkan kata ‘penegak’ dengan maksud bahwa keberadaan BM PAN dapat digunakan sebagai pondasi, pilar dan sandaran bagi PAN. Dengan kata lain rapuh, miring, dan kuatnya Rumah PAN tergantung eksistensi di BM PAN.
Harus kita akui menjaga keberlangsungan partai saat ini memang kompleks. Sebab memberikan nutrisi partai agar mampu melakukan aktivitas sebagaimana fungsi dan tugas partai ada pembeda dibandingkan saat PAN baru berdiri.
Dahulu saat awal PAN berdiri, faktor finansial bukan menjadi kebutuhan utama, karena saat itu peran figur, kedekatan dan advokasi terhadap masyarakat masih dapat digunakan sebagai modal politik utama bagi kelangsungan partai politik.
Namun seiring waktu berjalan, modal politik tersebut tak cukup memenuhi untuk membuat partai menjadi survival, masih perlu topangan lain agar partai mampu mempengaruhi perilaku masyarakat, yaitu adalah kecukupan modal ” kapital “.
Memperhatikan perilaku pemilih telah bermetafor ke arah finansial, maka pemimpin BM PAN ke depan harus dapat menyesuaikan kebutuhan kekinian, yaitu mampu memanisfestasikan diri sebagai seorang ” Politisi sekaligus Teknokrasi”.
Pemimpin Politisi dan Teokrasi
Politik adalah ranah yang absurt, tidak ada rumus yang baku dalam politik. Oleh sebab itu domain politik sangat cair dan fleksibel.
Dalam politik tidak terikat dengan siapa, dimana, dan apa yang harus disampaikan. Keseluruhan dalam politik tergantung kepentingan yang diharapkan.
Maka atas dasar itu dalam membangun argumentasi politik lebih mengutamakan sisi pengaruhnya dan bukan benar salahnya. Dan semua hal itu dilakukan dengan tujuan agar kepentingan dari partai dapat terpenuhi.
Mempertimbangkan politik adalah demikian, maka tidak salah banyak orang mengatakan bahwa dalam politik itu tidak ada teman dan musuh yang abadi, adapun yang abadi adalah kepentingan.
Memahami bahwa makna politik itu flleksibel, maka sosok Pemimpin BM PAN yang terpilih melalui kongres nanti adalah sebagai sosok kader yang mempunyai kemampuan sebagai politisi, yaitu yang menampilkan pemimpin berkepribadian fleksibel, serta kemampuan bernegosiasi lintas komponen untuk kepentingan BM PAN.
Selanjutnya Pemimpin BM PAN yang terpilih juga harus dibekali ketrampilan yang berwatak teknokrasi. Yaitu sosok dalam memimpin harus mempunyai keahlian teknis, metodologis, dan dalam mengambil keputusan berbasis pengetahuan dan rasional.
Dan tak kalah penting dari itu, pemimpin yang berwatak teknokrat adalah ada kemampuan dalam dirinya dengan ressource yang dimiliki maupun sirkelnya, mampu dikelola dan dikapitalisasi untuk memenuhi kebutuhan taktis maupun prakmatis.
Mengharapkan BM PAN untuk digunakan sebagai soko guru di rumah PAN, serta diharapkan menjaga keberlangsungan masa depan partai adalah keinginan yang wajar, karena BM PAN dibentuk tujuan utamanya adalah melakukan itu, namun jika BM PAN melakukan tugas dan fungsi tersebut tanpa di dampingi dan disuport dari partai sangatlah berat, karena beban berat tersebut telah melampui kapasitasnya.
Organisasi PAN harus menyadari bahwa bilamana dalam kondisi saat ini kader PAN bergerak lamban bahkan cenderung staqnan, , maka yang perlu dilakukan adalah melakukan pembibitan sekaligus pemupukan agar untuk ke depan mendapatkan seperti yang diharapkan.
Sebagaimana pepatah Yunani kuno bahwa entitas masyarakat ( organisasi ) menjadi besar ketika orang-orang tua menanam pohon yang naungannya mereka tahu bahwa untuk dirinya sendiri tidak akan pernah mereka nikmati. Wassalam.
*Mantan BM PAN dari Tuban.
