
Meski bernuansa mistis, Sungkem Tlompak setiap hari ke-4 Syawal memancarkan penghormatan terhadap alam. Sumber mata air Tlompak yang tak pernah surut, menjadi bukti nyata terjaganya kelestarian alam melalui sebuah tradisi.
Amanat.news – Warga Dusun Keditan dan Dusun Gejayan yang terletak di kawasan Gunung Merbabu Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah menggelar ritual Sungkem Tlompak, Rabu (3/4/2025). Ritual digelar di sebuah sumber mata air yang berada di sebelah barat Dusun Gejayan.
Sumber Tlompak, demikian warga menyebut mata air itu, hanya berupa rembesan kecil di tebing jurang yang sekelilingnya dinaungi pohon-pohon besar berbagai jenis. Memerlukan sebuah carang, cabang bambu kecil, yang difungsikan sebagai pancuran agar airnya bisa ditadah dengan tangan atau wadah lain.
Namun di hari yang bertepatan dengan hari ke-4 Lebaran 1446 H itu, aliran kecil Sumber Tlompak tak mengurangi semangat puluhan orang untuk mendapatkannya. Ada yang menampungnya dengan kantong plastik untuk dibawa pulang, ada pula yang langsung menadahkan mukanya di ujung pancuran.
Mereka percaya air Sumber Tlompak bisa memberi bermacam berkah. Terlebih setelah diberi doa melalui ritual Sungkem Tlompak.
Ritual dimulai saat ratusan warga Dusun Keditan yang dipimpin oleh pemuka dusun, Sujak, tiba di Dusun Gejayan, yang berjarak sekitar tujuh kilometer. Mereka datang mengenakan pakaian kesenian keprajuritan Campur Bawur Lombok Abang.
Kedatangan mereka disambut oleh Kepala Dusun Gejayan, Sulis Prasetyo, dan juru kunci Sumber Tlompak, Alip. Sambil membawa ancak berisi sesaji nasi tumpeng dan hasil bumi, mereka kemudian bersama-sama berjalan kaki menuju Sumber Tlompak yang berjarak sekitar 300 meter dari Dusun Gejayan.
Sesampai di Sumber Tlompak, mereka duduk bersila menghadap ke tebing tempat keluarnya tetesan-tetesan air. Ancak berisi sesaji digelar di depan pemimpin ritual yang dari mulutnya meluncur serangkaian doa dalam bahasa Jawa.
“Semoga seluruh warga selalu diberi kesehatan, jauh dari marabahaya, panen memuaskan bagi yang bertani, dan diberi penglarisan untuk yang pedagang,” demikian isi doanya.

Begitu ritual usai, sesaji dalam ancak menjadi rebutan warga. Mereka langsung memakannya dan sebagian dibawa pulang.
“Semua nanti saya simpan di rumah, untuk keselamatan,” ungkap Sutinem, salah satu warga yang tangannya menggenggam nasi sesaji, bunga, dan sekantong plastik berisi air.
Masyarakat Dusun Keditan dan Dusun Gejayan percaya Sungkem Tlompak bisa menjembatani berbagai permohonan. Mereka juga percaya Mbah Singobarong, penunggu gaib tempat tersebut, yang menjadi lantaran atau sarana menyampaikan permohonan.
“Mbah Singobarong itu hanya jadi perantara. Soal permintaan hidup sejahtera, mudah rejeki, sehat selalu, terhindar dari bahaya, dan lain-lain, ya tetap ditujukan pada Allah SWT,” jelas Alip seusai ritual.
Tradisi Sungkem Tlompak dimulai sejak ratusan tahun lalu, saat Dusun Keditan mengalami masa-masa sulit. Sawah dan ladang tidak menghasilkan panen, padahal hasil pertanian menjadi gantungan hidup warga.
Dalam kondisi kekurangan pangan, warga banyak yang sakit dan menemui kematian. Keadaan susah tersebut harus mereka jalani selama beberapa tahun.
Hingga suatu saat, seorang warga mendapat wisik atau pesan gaib agar memohon bantuan Mbah Singobarong. Menanggapi pesan tersebut, beberapa warga sowan ke Telompak, memohon kepada Mbah Singobarong agar dusunnya terbebas dari bencana.
Permohonan dikabulkan, namun sebelum itu Mbah Singobarong mengajukan sebuah syarat. Setiap hari keempat bulan Syawal, warga Keditan harus melakukan upacara sungkeman di sumber mata air kekuasaannya.
”Mbah Singobarong juga meminta upacara sungkem itu disertai pertunjukan kesenian yang dimainkan oleh warga Dusun Keditan sendiri. Benar saja, setelah itu keadaan dusun berangsur-angsur menjadi baik,” jelas Sujak.
Sejak itu, Sungkem Tlompak menjadi tradisi tahunan warga Keditan setiap hari keempat bulan Syawal menurut hitungan Jawa atau hari keempat setelah Idul Fitri. Setiap Sungkem Tlompak diadakan, juga selalu diiringi kesenian ‘prajurit lombok abang’ yang dimainkan warga Dusun Keditan.
Sesaji khusus bahkan diberikan untuk kesenian pengiring sungkeman ini. Berupa tumpeng wuduk, jenang abang putih, jenang blowok, rujak degan, dawet, wedang kopi, dan wedang the. Juga jadah dan telo bakar, tukon pasar, sego takir, ndok ceplok, iwak sapi, iwak pithik, polo karo, bakaran tempe, dan lain-lain.

Begitu doa-doa selesai dipanjatkan, pentas kesenian tersebut lantas digelar di lokasi mata air. Dari tempat ini, pentas kesenian dilanjutkan sampai sore hari di halam rumah Alip di Dusun Gejayan.
Tradisi Sungkem Tlompak yang digelar setiap hari ke-4 Syawal memancarkan semangat syukur dan penghormatan terhadap alam. Sumber Tlompak yang tak pernah surut, menjadi bukti nyata kelestarian alam yang terjaga melalui sebuah tradisi.
Peneliti kebudayaan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Novita Siswayanti, pernah mengatakan bahwa tradisi Sungkem Tlompak digelar atas dasar filosofi kehidupan masyarakat. Berhubungan dengan Tuhan, dan lingkungan sekitar.
“Tradisi ini dilaksanakan atas dasar filosofis kehidupan mereka, hubungan mereka dengan Tuhan, mereka dengan sekitarnya, dan hubungan mereka dengan alam,” ujar Novita dikutip dari Antara.
Melalui tradisi itu, sesungguhnya kalangan orang tua juga sedang mengajarkan kepada generasi muda tentang nilai-nilai kebaikan kehidupan yang saling berkaitan. Termasuk berhubungan dengan pelestarian lingkungan alam.
Ia menyebut lokasi utama tradisi Sungkem Tlompak yang dilakukan di salah satu mata air kawasan Gunung Merbabu. Ini mengajarkan pada kesadaran masyarakat terhadap pentingnya air sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk.
“Makhluk hidup pasti bergantung kepada air. Itu sumber kehidupan setiap makhluk. Tradisi ini juga wujud syukur kita terhadap air, lingkungan. Kita menjaga kelestarian air dan lingkungannya supaya tetap jernih, bening, mengalir memberikan kehidupan kita, sehingga dijaga agar tidak tercemar, rusak, dan ada kotoran,” ujarnya. HK