Amanat.news – Keriuhan di salah satu area parkir kawasan Kampung Inggris, Pare, Kediri, menyuguhkan pemandangan tak biasa pada Sabtu (29/8/2026). Sekitar seratusan warga berduyun-duyun datang tidak dengan tangan kosong. Mereka menenteng botol-botol kusam berisi minyak jelantah sisa dapur, yang lantas dituang bergiliran ke dalam deretan galon penampung milik panitia.
Bertepatan dengan momentum perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 dan HUT PAN ke-28, DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Kediri menggelar hajatan “PANggung Rakyat Merdeka” bertajuk Dari Desa Kita Berjaya. Di hadapan kerumunan warga, Ketua DPD PAN Kabupaten Kediri, M. Yusuf Aziz, meluncurkan dua inisiatif sosial berbasis lingkungan: PAN Jelita dan Kasir MaPAN. Program ini adalah manifestasi langsung dari semboyan “PAN Gerak Cepat Bantu Rakyat”, yang kali ini diterjemahkan melalui aksi ekologis.
“Jika terus digunakan memasak, jelantah bisa memicu penyakit. Namun jika dibuang sembarangan, pencemaran lingkungan yang akan terjadi,” ujar Yusuf. Sebagai jalan keluar, ia menawarkan terobosan lewat PAN Jelita. Program ini membeli limbah jelantah dari masyarakat untuk dialihrupakan menjadi ragam karya kreatif yang bernilai ekonomi.
Janji alih rupa itu langsung dipraktikkan di lokasi. Galuh dan Dewi, perwakilan dari Barisan Muda (BM) PAN Kediri, mengambil alih panggung untuk mendemonstrasikan proses pengolahan limbah tersebut. Di tangan mereka, cairan sisa penggorengan yang kotor disaring dan diracik menjadi lilin aromaterapi dengan tampilan memikat dan wangi semerbak. Demonstrasi yang memancing antusiasme ibu-ibu ini sekaligus menandai peresmian Depo PAN Jelita.
Program ekologis ini tidak berhenti pada urusan minyak. Yusuf turut membedah cetak biru Kasir MaPAN, sebuah program ekonomi sirkular yang bergerak di tingkat Rukun Tetangga (RT). Skemanya dirancang mandiri dan tertutup dari hulu ke hilir: sampah organik rumah tangga dipilah untuk diubah menjadi pupuk kompos atau pakan budi daya maggot.
Maggot berprotein tinggi ini kemudian dimanfaatkan sebagai pakan gratis untuk ternak warga, seperti ikan dan unggas. Sementara itu, pupuk organiknya dipakai untuk menyuburkan media tanam di pekarangan. Lewat perputaran sirkular inilah, kebutuhan sayur-mayur dan protein hewani keluarga dapat terpenuhi secara mandiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasar.
Gagasan kemandirian pangan dan lingkungan ini lahir di tengah bayang-bayang krisis tata ruang. Meika Dwi Nastiti Mulyaningsih, Penyuluh Lingkungan Hidup sekaligus Direktur Bank Sampah Induk (BSI) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kediri, yang turut hadir dalam peluncuran tersebut, membeberkan alarm bahaya. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sekoto di Pare kini dalam kondisi kelebihan kapasitas (overload) dan berpotensi memicu bencana lingkungan dalam waktu dekat.
“Maka dari itu, pengolahan sampah organik di rumah menjadi kunci utama untuk mengurangi membeludaknya sampah di Sekoto,” tegas Meika. Inisiatif menyetop laju limbah langsung dari dapur warga bukan lagi sekadar program alternatif, melainkan benteng pertahanan terakhir sebelum darurat sampah benar-benar meledak.
Langkah dari Pare ini barulah muasal dari gelombang yang lebih besar. Ke depan, Depo PAN Jelita dijadwalkan bakal membuka Depo PAN Jelita di seluruh kecamatan se-Kabupaten Kediri. Di depo-depo ini, warga tidak sekadar datang menukarkan limbah minyak menjadi rupiah, namun juga diajak begabung wadah gerakan ekonomi kreatif yang memberdayakan.
Inisiatif akar rumput ini sejalan agenda pembangunan global berkelanjutan (SDGs), utamanya pada penciptaan lingkungan yang sehat serta pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Melalui langkah sederhana ini, warga memperoleh dua keuntungan; menjaga bumi tetap bernapas lega sembari memetik berkah ekonomi untuk keluarga. #
