
Ibbin-Elim: Duet SAE untuk Masa Depan Kota Blitar
“Ngudari tantangan nggayuh pepadhang.”
Seperti bunga mawar yang perlahan mekar di tengah riuhnya kota, Pilkada 2024 menjadi momentum bagi Kota Blitar untuk menemukan pijakan baru. Di tengah dinamika politik yang kerap berubah-ubah, dua pasangan calon tampil di panggung, membawa obor harapan.
Di antaranya, pasangan muda Syauqul Muhibbin (Ibbin) dan Elim Tyu Samba, yang dikenal sebagai pasangan SAE, muncul dengan semangat perubahan. Seperti mentari yang mulai bersinar di balik awan gelap, mereka datang membawa harapan untuk mengubah lanskap politik Blitar yang selama ini terjebak dalam pusaran rutinitas dan status quo.
Simfoni Dua Jiwa Pengubah Wajah Kota
Di panggung politik Blitar, Syauqul Muhibbin atau Ibbin adalah sebuah fenomena baru—seperti sungai yang mengalir tenang namun penuh daya. Wasekjen Pimpinan Pusat GP Ansor ini, dengan akar kuat di organisasi Nahdlatul Ulama, dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati tetapi teguh dalam prinsip.
Bagi Ibbin, politik adalah tentang merangkul semua pihak dan membangun jembatan antar generasi. Di saat yang sama, ia juga menawarkan keberanian untuk keluar dari pakem lama dan berani melangkah ke depan, menantang stagnasi yang ada.
Bersamanya, Elim Tyu Samba, dengan semangat membara, menambah warna dan dinamika pada pasangan ini. Elim, yang sebelumnya merupakan kader Gerindra, kini menjadi bagian dari Partai Amanat Nasional (PAN). Sebagai politisi yang dikenal berintegritas, peralihan Elim ke PAN bukan hanya sekadar langkah taktis, tetapi juga mencerminkan komitmennya untuk membawa perubahan melalui wadah baru. Ia adalah sosok yang berbicara dengan ketegasan namun tetap membumi.
Elim ingin merangkul kembali Blitar yang kaya akan sejarah ini dan mengubahnya menjadi kota yang “maju dan cerdas”. Seperti sulur-sulur tanaman yang berusaha mencapai cahaya, Elim membawa optimisme dan ide-ide segar yang menjadi magnet bagi kaum muda dan perempuan.
Kota dengan Persimpangan Tradisi dan Modernitas
Kota Blitar adalah hamparan yang penuh dengan paradoks. Di satu sisi, ia adalah kota kecil yang penuh dengan jejak sejarah panjang, menjadi saksi bisu lahirnya revolusi dan rumah terakhir Sang Proklamator.
Di sisi lain, ia adalah kota yang perlahan ingin bergerak menuju masa depan yang lebih cemerlang. Masyarakat Blitar memiliki karakter kuat dalam memegang nilai-nilai tradisi, namun juga terbuka terhadap perubahan.
Ekonomi Blitar bertumpu pada sektor pertanian, peternakan, dan industri kreatif—potensi yang bisa diolah lebih jauh jika diberikan sentuhan inovasi dan teknologi. Namun, dinamika sosial-politik di kota ini kerap menghadirkan tantangan tersendiri.
Ada generasi tua yang setia pada tradisi dan pendekatan lama. Sementara di sisi lain, generasi muda mulai mendobrak, mendambakan kota yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan zaman.
Di tengah ketidakpastian ini, Ibbin dan Elim harus mampu menawarkan visi yang mampu merangkul keduanya—membawa yang tua dan yang muda bersama-sama dalam satu arus perubahan.
Peluang SAE dan Tantangan Ibbin-Elim
Pasangan Ibbin-Elim, seperti benih yang mulai tumbuh di tengah tanah subur namun berbatu, memiliki peluang besar untuk menggerakkan gelombang perubahan di Blitar.
Dengan fokus pada isu-isu yang relevan, seperti peningkatan ekonomi kreatif, pengembangan pendidikan yang inklusif, perbaikan layanan kesehatan, dan pemberdayaan perempuan, mereka bisa menyentuh hati banyak kalangan. Khususnya pemilih muda yang menjadi tulang punggung kota ini di masa depan.
Namun, jalan mereka penuh tantangan. Pasangan Bambang Kawit – Bayu Kuncoro yang lebih senior tidak bisa diremehkan, dengan pengalaman dan basis pendukung yang sudah terbangun.
Politik Blitar, seperti halnya kota-kota kecil lainnya, sering kali tidak hanya tentang visi dan misi yang disampaikan di podium kampanye, tetapi juga kemampuan untuk membangun dan mengamankan jaringan di tingkat akar rumput. SAE harus siap menghadapi dinamika politik yang rumit, termasuk kemungkinan gesekan di dalam koalisi atau serangan politik dari lawan.
Membangun Kekuatan dan Merajut Harmoni
Di bawah payung koalisi PKB, PAN, Demokrat, dan beberapa partai non-parlemen, pasangan SAE memiliki peluang yang cukup menjanjikan untuk menaklukkan panggung Pilkada. Setiap partai dalam koalisi ini membawa kekuatan unik.
PKB dengan basis Nahdliyin-nya yang masif, Demokrat dengan soliditasnya dalam pergerakan massa di akar rumput, serta PAN yang kini memainkan peran sentral melalui kadernya, Elim Tyu Samba. PAN, dengan daya tawar pragmatisnya, tak hanya memperkuat mesin pemenangan tetapi juga memperlebar jaringan politik pasangan ini. Dengan Elim sebagai kader PAN, partai ini memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memastikan keberhasilan kampanye dan mobilisasi suara.
Kehadiran PAN dalam koalisi ini menjadi lebih signifikan karena partai ini dikenal dengan pendekatan modern dan strategi kampanye yang adaptif, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan pendekatan personal ke komunitas-komunitas kecil. Dengan latar belakang Elim yang kuat dan reputasinya yang bersih, PAN berpeluang memainkan peran kunci dalam menarik dukungan dari pemilih yang lebih luas, termasuk mereka yang berada di luar basis tradisional.
Namun, kekuatan ini juga membawa tantangan tersendiri—bagaimana merajut harmoni di antara beragam kepentingan yang berpotensi bertabrakan. Kunci keberhasilan mereka terletak pada kemampuan untuk mengelola dinamika koalisi dan memastikan seluruh mesin partai berjalan selaras menuju tujuan yang sama.
Seperti halnya orkestra yang memerlukan konduktor handal untuk menghasilkan musik yang harmonis, pasangan SAE harus memimpin koalisi ini dengan kepiawaian. Tantangannya adalah menjaga ritme, menyatukan nada, dan memastikan tidak ada alat yang sumbang. Hanya dengan demikian, SAE bisa bergerak bersama dan menghindari jebakan politik yang sering kali muncul di saat-saat krusial.
Menggapai Fajar Baru untuk Blitar
Blitar, kota dengan jejak masa lalu yang kental, kini berada di persimpangan yang menentukan. Di balik pilihan di bilik suara, ada harapan dan keresahan masyarakat yang menunggu jawab.
Pasangan SAE datang sebagai angin segar, membawa janji perubahan dan semangat baru, siap untuk menyalakan matahari baru di ufuk timur Blitar. Namun, politik bukanlah sekadar kontestasi gagasan; ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen, konsistensi, dan kerja keras.
Pilkada 2024 adalah pertaruhan bagi Blitar untuk melangkah ke depan. Dan bagi SAE, ini lebih dari sekadar meraih kemenangan. Ini adalah tentang bagaimana menjadi pemimpin yang mampu menerjemahkan harapan menjadi kenyataan, mengubah janji menjadi aksi nyata, dan menyulam harmoni di tengah keragaman.
—
_*) Khairul Fahmi, Pemerhati isu strategis, Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS)_