Zulhasan: Saya di garis depan menolak revitalisasi Dolly

Amanat – Di sela safari ke beberapa kota di Jawa Timur, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyempatkan diri menyambangi Pesantren Jauharotul Hikmah (JH) yang berada di tengah-tengah eks lokalisasi Dolly di Jalan Putat Jaya 4B Timur Nomor 4, Surabaya, Jawa Timur.

Di hadapan pengurusa pesantren dan para santri, Zulhasan – demikian ia biasa di sapa – menegaskan untuk menolak keras upaya menghidupkan kembali (revitalisasi) lokalisasi Dolly.

“Saya di garis depan menolak revitalisasi Dolly,” tegas Zulhasan.

Isu revitalisasi eks-lokalisasi Dolly ini mencuat usai beberapa warga eks-lokalisasi Dolly mendaftarkan gugatan yang ditujukan kepada Walikota Surabaya. Isi gugatan tersebut menuding Pemerintah Kota Surabaya telah memicu dampak kerugian begitu besar bagi masyarakat eks-lokalisasi Dolly, karena menutup lokalisasi tanpa disertai upaya pemberian usaha baru.

“Ada sekitar 1800 warga eks lokalisasi Jarak-Dlly yang menjadi korban penutupan lokalisasi tersebut, total kerugian kurang lebih sebesar Rp. 2.700.072.014.000,” tandas Okku Suryatmaja, kuasa hikum warga eks lokalisasi Jarak-Dolly usai mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Negeri Surabaya beberapa waktu lalu.

Menanggapi hak tersebut, Zulhasan menandaskan bahwa yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya untuk menutup lokalisasi Dolly sudah sangat tepat.

“Itu adalah langkah besar Pemerintah Kota Surabaya untuk memperbaiki peradaban. Sebagaimana kita ketahui bahwa tempatnya maksiat itu adalah sumber kerusakan moral negeri ini. Oleh karena itu kami menolak upaya-upaya untuk menghidupkannya kembali. Saya akan sampaikan secara khusus kepada DPRD Kota Surabaya,” tandasnya.

Menurut Zulhasan, saat ini Dolly sudah sangat bagus. “Arahnya sudah sangat bagus, sudah ada pembinaan masyarakat, perkumpulan pengajian dan upaya-upaya pemberdayaan,” katanya.

Kehadiran Ketua MPR memang menjadi suntikan semangat bagi pendiri dan pengelola Pesantren Jauharotul Hikmah. “Kami sangat khawatir jika upaya menghidupkan lagi dunia hiburan di tempat ini bisa terwujud. Itu bisa menjadi ancaman bagi anak-anak (santri) kami,” ujar  Ustadz Mokhammad Nasih (37), pendiri dan pengelola Pesantren Jauharotul Hikmah (JH).

Saat ini Pesantren JH sudah menampung hampir 200 anak-anak di eks lokaliasi Dolly yang ditutup 2014. Beberapa di antaranya adalah anak-anak mantan PSK Dolly.//CW

Tinggalkan Balasan