Sab. Agu 15th, 2020

Wajib Rapid Tes untuk Peserta UTBK, BM PAN Jatim: Ini Sama Saja Mempersulit Masyarakat Mendapatkan Akses Pendidikan

3 min read
IMG 20190413 WA0030 1068x712 - Wajib Rapid Tes untuk Peserta UTBK, BM PAN Jatim: Ini Sama Saja Mempersulit Masyarakat Mendapatkan Akses Pendidikan

Amanat.news – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mewajibkan seluruh peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) menunjukkan hasil rapid test corona (Covid-19) sebagai syarat mengikuti ujian.

“Seluruh peserta UTBK dalam SBMPTN wajib menunjukkan uji rapid test dengan hasil non reaktif atau swab test dengan hasil negatif yang dikeluarkan selambat-lambatnya 14 hari sebelum mengikuti ujian kepada panitia,” bunyi penggalan surat yang diterima Amanat.news, Kamis (2/7).

Reaksi bernada keluhan bermunculan, terkait pemberlakukan kewajiban ini. “Hal ini jelas sangat memberatkan masyarakat, apalagi tes secara mandiri biayanya sangat mahal. Seharusnya Pemkot peka atas situasi sulit yang saat ini tengah dihadapi masyarakat dengan tidak menambahi beban lagi,” tandas Ahmad Sulton, Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (DPW BM PAN) Jawa Timur.

sulton - Wajib Rapid Tes untuk Peserta UTBK, BM PAN Jatim: Ini Sama Saja Mempersulit Masyarakat Mendapatkan Akses Pendidikan
Ahmad Sulton, Sekretaris DPW BM PAN Jawa Timur

Amanat.news – Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mewajibkan seluruh peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) menunjukkan hasil rapid test corona (Covid-19) sebagai syarat mengikuti ujian.

Kewajiban tersebut disampaikan Risma melalui surat edaran Wali Kota Surabaya kepada 4 rektor perguruan tinggi negeri di Surabaya: Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jatim dan Institut Teknologi Sepuluh November ( ITS).

“Seluruh peserta UTBK dalam SBMPTN wajib menunjukkan uji rapid test dengan hasil non reaktif atau swab test dengan hasil negatif yang dikeluarkan selambat-lambatnya 14 hari sebelum mengikuti ujian kepada panitia,” bunyi penggalan surat yang diterima Amanat.news, Kamis (2/7).

Reaksi bernada keluhan bermunculan, terkait pemberlakukan kewajiban ini. “Hal ini jelas sangat memberatkan masyarakat, apalagi tes secara mandiri biayanya sangat mahal. Seharusnya Pemkot peka atas situasi sulit yang saat ini tengah dihadapi masyarakat dengan tidak menambahi beban lagi,” tandas Ahmad Shulton, Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (DPW BM PAN) Jawa Timur.

Kewajiban tes Covid-19 ini, lanjut Shulton, sama saja dengan membatasi hak atas pemenuhan mendapatkan akses pendidikan terhadap mereka yang tidak bisa menjangkau biaya rapid maupun swab tes.

“Yang paling penting kan, faktor penyebaran Covid-19 bisa dibatasi geraknya, teknisnya bisa macam-macam. Bukan malah membatasi hak orang untuk bisa mengakses peluang mendapatkan pendidikan terbaik,” ujar Sulton, yang juga salah satu jajaran Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur ini.

Shulton kemudian membandingkan dengan kemudahan akses orang masuk ke pusat perbelanjaan.

“Di pusat-pusat perbelanjaan  cuma melaksanakan protokol pencegahan seperti cuci tangah, bermaskes dan cek suhu tubuh. Padahal, setiap jam pengunjung mall keluar masuk, ganti orang dan banyak juga yang dari luar kota. Apa bedanya dengan peserta UTBK?” kata Shulton.

UTBK sendiri merupakan tes yang harus dilalui tiap peserta SBMPTN. SBMPTN adalah salah satu dari tiga jalur seleksi masuk PTN. Jalur lainnya bisa melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau jalur mandiri.//.

Kewajiban tes Covid-19 ini, lanjut Sulton, sama saja dengan membatasi hak atas pemenuhan mendapatkan akses pendidikan terhadap mereka yang tidak bisa menjangkau biaya rapid maupun swab tes.

“Yang paling penting kan, faktor penyebaran Covid-19 bisa dibatasi geraknya, teknisnya bisa macam-macam. Bukan malah membatasi hak orang untuk bisa mengakses peluang mendapatkan pendidikan terbaik,” ujar Sulton.

Shulton kemudian membandingkan dengan kemudahan akses orang masuk ke pusat perbelanjaan.

“Di pusat-pusat perbelanjaan  cuma melaksanakan protokol pencegahan seperti cuci tangah, bermaskes dan cek suhu tubuh. Padahal, setiap jam pengunjung mall keluar masuk, ganti orang dan banyak juga yang dari luar kota. Apa bedanya dengan peserta UTBK?” kata Sulton.

UTBK sendiri merupakan tes yang harus dilalui tiap peserta SBMPTN. SBMPTN adalah salah satu dari tiga jalur seleksi masuk PTN. Jalur lainnya bisa melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau jalur mandiri.//.

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.