Rab. Okt 16th, 2019

Usai Dilantik, Ini Tekad Anggota DPR Milenial PAN

2 min read
IMG 3999 - Usai Dilantik, Ini Tekad Anggota DPR Milenial PAN

Dari kiri; Fachry Pahlevy Konggoasa, Mitra Fakhrudin, Athari Gauti Ardif, Sekjend PAN Eddy Soeparno, Farah Putri Nahlia, Slamet Riyadi, dan Abdul Hakim Bafaqih

Amanat.news – Pada periode 2019 – 2024 ini, Partai Amanat Nasional (PAN) berhasil mengantar enam kader milenialnya (berusia di bawah 30 tahun) ke senayan. Hal ini menjadikan PAN sebagai partai yang paling banyak menempatkan kader milenialnya di senayan.

Mereka adalah, Athari Gauti Ardif dari dapil Sumatera barat I, Farah Putri Nahlia dari dapil Jawa Barat IX, Abdul Hakim Bafaqih dari dapil Jawa Timur VIII, Slamet Riyadi dari dapil Jawa Timur XI, Mitra Fakhrudin dari dapil Sulawesi Selatan III, dan Fachry Pahlevy Konggoasa, dari dapil Sulawesi Tenggara.

Keberadaan mereka tentu menjadi bukti sekaligus inspirasi semangat PAN dalam mewadahi kepentingan kaum milenial yang selama ini dianggap masih begitu skeptis terhadap politik.

“PAN telah membuktikan bahwa kami tak hanya menjadikan kaum milenial sebagai obyek semata, tetapi kami menempatkannya sebagai subyek. Sebab, kaum milenial inilah yang menjadi penentu arah bangsa ke depan,” kata A Basuki Babussalam, Sekretaris DPW PAN Jawa Timur.

Memang tak bisa ditampik jika selama ini realitas politik masih tidak terlalu memihak kalangan politisi muda yang masih berada dalam posisi subordinat dalam partai politik.

“Kami sadar dengan pandangan seperti itu, yang memandang sebelah mata peran kaum milenial dalam politik. Karena itu, kami saat ini tengah memaksimalkan fokus pada peran kami di kursi legislatif adalah untuk memediasi kepentingan rakyat. Bahwa kehadiran kami membawa harapan, pendangan dan kepercayaan masyarakat untuk diwujudkan dalam jalannya pemerintahan,” papar Abdul Hakim Bafaqih, saat ditemui di acara silaturahmi dengan Ketum PAN Zulkifli Hasan pada Senin (30/9).

Senada dengan Hakim, Farah Putri Nahlia yang ditemui di tempat yang sama juga mengungkapkan bahwa keberadaan mereka harus bisa menjawab tantangan untuk membuat narasi politik yang berbeda dengan narasi politik yang telah dibangun politisi senior.

“Harapannya, usia muda tak lagi dianggap sebagai titik lemah, namun sebagai modal positif dalam membangun narasi politik yang kreatif, segar dan membawa kegairahan baru,” tandas Farah.//c

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.