Tanpa Reformasi Jokowi Tidak Jadi Presiden

Amanat – Setelah 20 tahun reformasi berjalan tampaknya banyak pihak mulai memutar balikkan fakta, reformasi yang sudah membawa banyak kemajuan khususnya di bidang demokrasi, kini mulai dikambing hitamkan adanya ketimpangan atau ketidak mampuan yang dilakukan pimpinan bangsa ini sebagai akibat reformasi. Tentu tidak benar, kondisi ini dibantah Fahri Hamzah wakil ketua DPR-RI sekaligus sebagai pelaku sejarah reformasi dalam acara 20 tahun Refleksi Reformasi yang digelar di gedung Nusantara KK2 komplek DPR/MPR-RI Senayan Jakarta Pusat (21/5).

Kegagalan yang ada ini justru dinilai Fahri, karena desain reformasi saat itu ibarat mobil super canggih sekelas Ferrari, jadi dibutuhkan supir yang juga menguasai sesuai kecanggihan mobil tersebut, tetapi kenyataanya hanya dikemudikan supir bajaj. “Jadi meskipun mobilnya canggih tetapi supirnya tidak menguasai, apa jadinya ya kayak begini,” ujar Fahri.

Zulhasan yang diberikan kesempatan sambutan pertama, menyatakan terima kasih, kepada pelaku reformasi termasuk tokoh-tokoh reformasi yang hadir dalam acara 20 Tahun Refleksi Reformasi di gedung DPR-RI. “Pak Amien tokoh reformasi, berkat Pak Amien Zulkifli Hasan jadi Ketua MPR, karena ada reformasi Fahri Hamzah jadi Wakil Ketua DPR, bahkan Jokowi jadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta sampai sekarang jadi Presiden Indonesia karena ada reformasi,” ungkap Zulhasan.

IMG 6869 300x182 - Tanpa Reformasi Jokowi Tidak Jadi PresidenUntuk itu Zulhasan meminta masyarakat tidak melupakan sejarah. Menurut Ketua Umum DPP PAN sudah banyak kemajuan yang dirasakan akibat reformasi, diantaranya kekebasan berbicara menyampaikan pendapat, kebebasan pers, penghapusan dwi fungsi ABRI dan reformasi telah melahirkan sistem baru, dulu MPR berkuasa untuk menentukan Pemimpin Bangsa (Presiden) sekarang langsung ditentukan rakyat melalui pemilihan.

Meskipun demikian sebagai refleksi juga diakui Zulhasan bahwa masih ada agenda-agenda reformasi yang tidak berjalan diantaranya kesenjangan yang semakin tinggi, sesetaraan yang belum terjadi, keadilan yang belum terwujud dan adanya penindasan serta perpecahan anak bangsa yang semakin meluas. “Ini jelas melenceng dari reformasi,” tandasnya.

Amien Rais sebagai salah satu tokoh pelaku reformasi mengatakan, pelaku reformasi itu banyak orang, termasuk tokoh tokoh besar jadi bukan saya sendiri. Sebagai puncaknyaAmien Rais menceritakan kembali detik-detik lengsernya Pak Harto. Dan diakui yang mengusulkan suksesi kepemimpinan memang asli dari dirinya.

Menurut Amien, sebelum lengser, 20 mei 1998 setelah Isyak saya didatangi Yusril Ihza Mahendra sebagai utusan istana, bahwa pesan Pak Harto akan lengser dan yang menggantikan BJ Habibie yang saat itu menjabat Wakil Presiden. “Saya setuju, memeng begitu konstitusinya,” ungkap Amien.

Keesokan harinya jam 10 pagi keesokan hari gedung MPR dikepung mahasiswa dan Yusril telpon lagi menyampaikan bahwa pengumuman tidak mungkin dilangsungkan di gedung MPR. “Tidak penting dilakukan dimana saja, yang penting itu disampaikan kepada masyarakat bahwa Pak Harto mau lengser keprabon,” jawab Amien saat itu. Dan akhirnya Pak Harto benar-benar mundur yang memang merupakan tuntutan aksi puluhan ribu  mahasiswa yang mengepung gedung DPR/MPR serta gelombang aksi yang ada di berbagai daerah seluruh Indonesia.

IMG 6897 300x182 - Tanpa Reformasi Jokowi Tidak Jadi PresidenAmien juga mengingatkan agar jangan mudah leluasa memberikan peluang kepada asing untuk mengelola wilayah di Indonesia ini karena jika sudah terjadi sulit untuk dikembalikan. “Contohnya reklamasi pantai di Pulau Seribu? untuk yang tidak mampu tidak mungkin memiliki, tetapi untuk yang berduit tentu saja orang asing akhirnya banyak menghuni di lokasi yang baru dibangun dengan harga jual mahal,” ingatnya.

Sebagai mana disampaikan Albert Hasibuan dalam sambutanya, bahwa PAN adalah lahir dari ibu reformasi. Lebih lanjut Albert menceritakan jalannya proses pembentukan Partai Amanat Nasional yang digagas langsung oleh Amien Rais sebagai Bapak Reformasi.

Dalam acara tersebut banyak tokoh yang hadir seperti, baik pelaku reformasi maupun anggota DPR/MPR, diantaranya Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno, Ketua KPPN PAN Hanafi Rais, Fadli Zon Wakil Ketua DPR-RI, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Acara ini juga diisi pembacaan puisi dibawakan budayawan Taufik Ismail yang dipandu Dedi Gumelar alias Miing pelawak senior yang juga anggota DPR-RI. (KaT)

 

Tinggalkan Balasan