Rab. Des 11th, 2019

Tanpa Modal Popularitas, Dua Anak Muda PAN Madura Ini Tembus Jadi Anggota Dewan

3 min read
amanat1 - Tanpa Modal Popularitas, Dua Anak Muda PAN Madura Ini Tembus Jadi Anggota Dewan

Amanat.news – Anak-anak muda Caleg PAN terpilih ini berhasil mematahkan teori yang mengungkapkan jika orang baru tanpa popularitas sebelumnya akan sulit berhasil menembus kontestasi pileg, apalagi kontestasi pileg 2019 yang disebut-sebut paling rumit dan brutal.

Perubahan sistem penghitungan pileg 2019 dari metode Kuota Hare atau BPP (Bilangan Pembagi Pemilih) menjadi Sainte Legue (Murni) memang sangat menguntungkan partai besar.

Sedangkan bagi partai menengah dan kecil, sistem ini akan menjadi petaka, karena sistem ini akan membagi habis perolehan suara dari partai besar tanpa mempertimbangkan sisa suara, perolehan partai kecil akan diadu atau dihitung ulang dengan sisa suara partai besar, apabila masih banyak sisa suara partai besar, maka kursi akan diambil oleh partai besar, sehingga kursi legeslatif sudah pasti akan didominasi oleh par

IMG 9664 - Tanpa Modal Popularitas, Dua Anak Muda PAN Madura Ini Tembus Jadi Anggota Dewan
Mochammad Azis

ti besar.

Bagi incumbent atau petahana terutama dari partai besar, sistem Sainte Legue juga sangat menguntungkan. Para calon legeslatif yang incumbent atau petahana terutama yang dari partai besar, biasanya sudah punya basis massa yang cukup banyak di akar rumput, baik yang di jaga oleh jaringan atau yang mereka bangun saat melakukan reses.

Selain itu, para petahana ini juga mempunyai energi, dana dan ditambah popularitas, sehingga mudah diingat oleh pemilih, kondisi ini menjadikan para petahana akan lebih mudah melakukan mobilisasi massa, sehingga perolehan suaranya bisa maksimal, karena setiap perolehan suara akan sangat diperhitungkan dalam sistem Sainte Legue ini.

Namun bukan berarti tak ada celah sama sekali yang bisa ditembus dan dimanfaatkan untuk merebut simpati pemilih, terutama bagi caleg baru (bukan petahana) yang bukan berasal dari partai besar, seperti PAN.

“Kuncinya adalah membuka ruang interaksi seluas mungkin dan sedekat mungkin dengan warga pemilih. Sebab hanya dengan cara ini, kita bisa efektif mengenalkan diri dan meyakinkan warga. Cara ini sekaligus bisa langsung mengukur efek pesan kampanye yang kita lakukan,” tutur Mochammad Azis (38), Caleg PAN DPRD Propinsi terpilih dari daerah pemilihan Madura.

Azis memang berhasil mematahkan mitos lama yang berkembang di daerah pemilihan Madura bahwa popularitas caleg menjadi faktor penentu kemenangan.

Nama lain yang cukup menarik perhatian dari Dapil Madura adalah Slamet Riyadi (29), Caleg PAN DPR RI terpilih.

Sama halnya seperti Azis, keberadaan Slamet di deretan daftar calon legislatif kurang diperhitungkan karena bersanding dengan tokoh-tokoh besar petahana yang sudah memiliki bekal popularitas lebih.

“Itu tantangan yang melecut saya untuk tidak setengah-setengah dalam bekerja untuk meyakinkan masyarakat dan merebut simpati merek

IMG 9702 - Tanpa Modal Popularitas, Dua Anak Muda PAN Madura Ini Tembus Jadi Anggota Dewan
Slamet Riyadi

a. Praktis usai DCT (daftar calon tetap, red) ditetapkan KPU saya langsung tancap gas untuk turun lapangan,” terang mantan Wakil Presiden Universitas Trunojoyo ini.

Sampang menjadi wilayah utama bagi Slamet sebagai target sosialisasi. “Saya putra Sampang, tumbuh besar di Sampang dan sehari-hari menjalani hidup di Sampang. Jadi di wilayah ini saya merasa lebih kenal,” ujarnya.

Nampaknya Slamet melihat celah ini sebagai modal tambahan untuk merebut simpati masyarakat. Ia merupakan caleg DPR RI satu-satunya yang asli orang Sampang. Praktis akan lebih mudah bagi Slamet untuk membangun kedekatan emosional saat melakukan sosialisasi pada masyarakat Sampang.

Slamet tak memilah-milah kelompok masyarakat yang dijadikan target sosialisasi. Semua wilayah, semua kelompok dimasukinya. “Tentu sambil kemudian diukur dan dievaluasi potensinya,” aku Slamet.

Baik Azis maupun Slamet juga berhasil mematahkan mitos tentang nomor jadi. Selama ini, nomor urut dalam pencalegan tetap dianggap sebagai hal penting, yang tak jarang memancing riak persoalan.

Banyak pendapat mengungkapkan jika nomor urut berpengaruh terhadap tingkat keterpilihan. Kebanyakan pemilih, utamanya yang pengetahuan politiknya rendah, tidak mau repot-repot menyisir daftar nomor urut di surat suara. Sehingga ada kemungkinan hanya caleg nomor urut teratas yang dipilih oleh masyarakat

Selain itu, ada juga anggapan sosialisasi nomor urut kecil lebih mudah ketimbang nomor besar.

Tapi, mitos nomor jadi ini berhasil dipatahkan oleh keempat sosok anak muda ini. Mochamad Azis yang berebut kursi DPRD Provinsi Jatim berada di nomor urut 7 untuk daerah pemilihan Madura. Slamet Riyadi berada di nomor urut 5 dalam daftar pencalegan DPR RI dari dapil Madura. //cw

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.