Rab. Nov 20th, 2019

Soal Pertahanan Ibu Kota Baru, Pengamat Milter: Saat Ini Tak Ada Kawasan Benar-Benar Aman

2 min read
90bcec46 4e85 45b7 9914 f2e6f8b7e489 - Soal Pertahanan Ibu Kota Baru, Pengamat Milter: Saat Ini Tak Ada Kawasan Benar-Benar Aman

Amanat – Presiden Joko Widodo secara resmi telah mengumumkan rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur. Atas rencana pemerintah ini, pro kontra pun bermunculan. Dari yang kontra, di antaranya mengaitkan lokasi ibu kota baru dengan faktor pertahanan dan keamanan negara.

Namun menurut pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, tak ada kawasan yang benar-benar aman hari ini. Dari sisi pertahanan keamanan, tak ada lagi ruang yang benar-benar ideal.

“Saat ini bentuk perang sudah beragam. Ada perang konvensional, perang proksi, perang asimetris hingga perang hibrida. Ancaman bisa datang dari mana saja,” kata Khairul dalam pesan whatsapp kepada amanat.news, Rabu (4/9/2019).

Ancaman yang bersifat militer bisa hadir di darat, laut, maupun udara. Yang nirmiliter, bahkan lebih mengancam kedaulatan politik, ekonomi, hukum maupun sosial budaya. Belum lagi yang terkait keamanan dan kedaulatan cyber, dari dalam maupun luar negeri.

“Bisa dipastikan sekarang ini, berada di liang semut pun takkan mampu membuat kita benar-benar terlindung. Apa boleh buat, teknologi sudah menyediakan segalanya bagi para penggemar perang.” lanjutnya.

mi 185x300 - Soal Pertahanan Ibu Kota Baru, Pengamat Milter: Saat Ini Tak Ada Kawasan Benar-Benar Aman
Khairul Fahmi

Soal pemindahan ibu kota, Khairul tak menampik bahwa ada konsekuensinya di sektor hankam. Konsekuensi tersebut adalah menyiapkan sebaik-baiknya sistem pertahanan keamanan yang pada saatnya nanti mampu melindungi ibu kota baru.

Menurut Khairul, perumusan rencana strategi dan pembangunan sistem pertahanan ibu kota baru mestinya merupakan diskusi yang melibatkan para analis dan peramal yang detail, cermat dan visioner.

“Mereka harus terdiri dari berbagai sektor, mulai analis militer hingga ahli anggaran. Karena ini bukan soal ancaman saja, tapi juga soal kemampuan pembiayaan,” jelas sarjana Ilmu Politik Unair tersebut.

Jadi, lanjut Khairul, jika kita hendak khawatir, khawatirlah soal kemampuan kita menyiapkan sistem pertahanan yang memadai pada waktunya. Karena kemampuan anggaran kita tak cukup meyakinkan untuk menghadirkan yang ideal.

“Tapi sebenarnya itu bisa disiasati dan lebih murah. Caranya? Mengubah pola pikir terhadap konflik dan ancaman itu menjadi soal kolaborasi dan peluang. Tak hanya dalam urusan antarbangsa, tapi terutama malah dalam urusan domestik,” pungkas Khairul. HK

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.