Risma ajak warga Surabaya warisi semangat pejuang

Amanat – Parade Surabaya Juang yang dilakukan setiap tahun di kota pahlawan ini sudah menjadi event nasional, karena sudah mendapat lisensi dari Kementerian Pariwisata. Tahun ini (5/11) dilakukan dengan mengampil route dari Tuguh Pahlawan – Tunjungan – Gubernur Suryo – Jendral Sudirman – Urip Sumoharjo – Darmo dan finish di Taman Bungkul Surabaya dan 28 lokasi di sepanjang jalur yang dilalui untuk dijadikan tempat teaterikal perjuangan.

Dalam sambutannya Risma Harini Walikota Surabaya, selain mengungkapkan sejarah perjuangan arek arek Suroboyo, juga mengajak warga surabaya untuk mewarisi semangat para pejuang. “Tentu semangatnya sekarang tidak lagi berperang melawan sekutu seperti pada tahun 1945, tetapi semangat untuk mengisi pembangunan dengan karya-karya kreatif yang positif dalam mengisi kemerdekaan,” tandas Risma berapi api sebelum memberangkat peserta parade.

Menurut Kabid Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Retno Hariati, Parade kali ini banyak melibatkan elemen masyarakat, seperti PNS, Forum Pemimpin Daerah, Komunitas Seni, Pelajar dan Mahasiswa, bahkan Walikota Surabaya juga ikut parade dengan menaiki mobil Tank TNI.

Sebagai pelaksana lapangan Herry Lentho Ketua Komunitas Surabaya Juang,  Parade Surabaya Juang kali ini  menempuh rute sejauh 6,5 kilometer dan diikuti ribuan peserta. Parade diawali dengan teatrikal Sumpah Pregolan (sumpah merdeka atau mati), pemeran tokoh Gubernur Suryo lalu memberikan plakat (prasasti perang kemenangan perjuangan Surabaya) kepada Ibu Wali Kota Surabaya.

Lalu peserta melanjutkan perjalanan, teatrikal juga dilakukan di kawasan Siola, yakni perang TKR laut, kemudian teatrikal perobekan bendera belanda di Hotel Mojopahit dilanjutkan pembacaan puisi “Surabaya” karya K.H. Mustofa Bisri. Kemudian teatrikal perang 10 November di depan Grahadi, lalu di Tugu Bambu Runcing dan Polisi Istimewa-Santa Maria.

Diakui Herry Lentho, Parade Surabaya Juang tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, kalau dulu parade lebih banyak jalan, sekarang sosiodrama. Ada urutan cerita dari awal hingga akhir. “Tidak kurang 350 pecinta sejarah ikut ambil bagian, ada dari Kalimantan, Sulawesi. Ibaratnya, Parade Surabaya Juang ini merupakan hari rayanya pecinta sejarah,” katanya.

Menurut Herry Lentho, ini berhikmah memperingari Hari Pahlawan. “Inilah cara Sederhana kami, untuk menanam, menumbuhkan, dan menguatkan nilai kepahlawanan dan Kebangsaan, serta jangan pernah lagi kita berperang,” tandasnya.  (TJ)

Tinggalkan Balasan