Jum. Jul 3rd, 2020

Retorika Politik Gincu dan Garam ala Bang Zul

4 min read
IMG 5664 ed - Retorika Politik Gincu dan Garam ala Bang Zul

Oleh : Windiarto Kardono *)

“Dalam soal oposisi, adalah hal yang berbeda antara saya dengan Pak Amien. Oposisi sudah menjadi milik partai lain, kalo kita ikut-ikutan, kita akan habis, betul atau betul?…..Kita gak perlu ikut-ikutan politik gincu, kita musti gunakan politik garam dengan lebih mengutamakan substansi dan isi daripada tampilan”

windi1 - Retorika Politik Gincu dan Garam ala Bang Zul
Windiarto Kardono, Wasekjend DPP PAN

Demikian kira-kira bunyi rekaman beredar dari forum konsolidasi di Riau, yang telah memperdengarkan kepada khalayak partai bagaimana Bang Zul secara bersemangat menjelaskan pandangannya, beberapa di antaranya adalah: preferensi capres yang semula berbeda antara Pak Amien dan Bang Zul, meski kemudian bersepakat sebagaimana putusan Rakernas dengan mendukung salah satu capres, tapi pada akhirnya kembali berbeda saat Bang Zul memiliki pandangan sendiri terhadap hasil pemilu serentak nasional 2019 lalu dan berakibat menurunnya perolehan kursi PAN.

Bagi sebagian kalangan yang mengikuti genealogis pemikiran politik, khususnya Islam di negeri ini, tentu sudah mafhum dengan artikulasi politik gincu dan garam di atas. ”Pakailah filsafat garam, tak tampak tapi terasa. Janganlah pakai filsafat gincu, tampak tapi tak terasa.” Demikian sejatinya pemikiran orisinal Bung Hatta dengan maksud agar nilai-nilai Islam dapat menggarami kehidupan budaya bangsa, hingga akhlak mulia dan keadilan dapat ditegakkan secara nyata, bukan sekedar dikutip dalam format retorika politik yang tidak bertanggung jawab dan tak tepat kontekstualisasinya.

Meskipun perdebatan gincu versus garam yang dalam genealogis pemikiran politik Islam disematkan pada dinamika pemikiran Pak Natsir versus Bung Hatta itu debatable dan patut diuji kesahihannya, tapi apa yang dikatakan Bung Hatta sejatinya hendak memberi sebuah sinyal kuat bagi sebuah proses artikulasi politik umat Isam pada masa Orde Baru. Bung Hatta sama sekali tak hendak berbicara gincu dan garam pada masa-nya ( ingat: justru bung Hatta lah yang mendorong lahirnya partai partai politik dengan identitas perjuangan politik yang jelas melalui Maklumat X), di mana ideologi menjadi faktor yang mendasari lahirnya partai-partai politik termasuk Masyumi dengan Islam-nya, PSI dengan sosialismenya, PNI dengan Marhaenismenya hingga PKI dengan komunismenya. Sinyal Bung Hatta kemudian inilah yang ditangkap oleh tokoh-tokoh intelektual Neo Modernis Islam, terutama the three musketeers alumni chicago, dalam menghadapi era Soeharto yang nyata-nyata telah memainkan kartu “the end of Ideology”.

Cak Nur misalnya yang setahun sebelum pemilu 1971 mengumandangkan slogan “Islam yes, Partai Islam no” menjadi katalis politik islam akomodatif dalam menghadapi zaman Orde Baru yang memberlakukan azas tunggal Pancasila. Demikian pula MAR dalam wawancara Majalah Tempo di tahun-tahun awal reformasi bergulir pernah mengatakan, “Jika politik bendera atau gincu yang dipegang, akan tampak berkibar-kibar dan menyala-nyala. Tapi hal itu akan menimbulkan reaksi dari kelompok lain. Sebaliknya jika politik garam yang dipegang, itu tak akan menyala atau berkibar-kibar. Cuma rasa gurih dan asinnya langsung dirasakan masyarakat.”

Bang Zul jelas tak tepat menempatkan kontekstualitas dalam membaca pikiran tokoh-tokoh bangsa tersebut di atas. Pokok masalah yang hendak dijelaskan Bang Zul bukanlah soal semangat keberIslaman, apa yang dkemukakan Bang Zul jauh dari semangat membumikan artikulasi politik ummat dalam menghadapi situasi politik nasional. Retorika politik garam dan gincu yang dikemukakan Bang Zul senyatanya adalah bagian dari proyek deideologisasi parpol dari kaum elit oligarkhi yang dampaknya akan terus memicu inflasi parpol, sebab setiap saat semua orang dapat mendirikan dan bergabung ke parpol dengan tujuan menjaga dan meraih kepentingan politik sesaatnya, tanpa terbebani oleh tanggung jawab ideologi politik perjuangannya.

Apa yang di kemukakan Bang Zul makin memperjelas rendahnya party-id bagi PAN. Pandangan Bang Zul yang menggunakan retorika politik gincu dan garam itu tak selaras, justru di saat partai-partai lain hendak memperjelas party-id nya masing-masing, sebut saja selain PKS, juga PDIP, PKB dan Nasdem yang dalam setiap konsolidasi konsolidasi internalnya malah hendak memperkuat identitas dirinya masing masing dengan tak sebatas jargon klise, melainkan berupaya membumikan ideologi perjuangannya dalam program, perencanaan dan tindakan nyata. Sebuah Roadmap Program Perjuangan Politik kepartaian yang jelas, terencana dan terukur.

Dengan mencontohkan Demokrat dan Golkar, Bang Zul tak pelak makin mempertegas kenyataan bahwa justru partai2 tersebut, yang tergabung dalam koalisi apapun, selama tak memiliki identitas dan sikap politik jelas akan berakibat menurunnya perolehan kursi pada pemilu serentak 2019 yang lalu.

Alih- alih hendak menegaskan diferensiasinya terhadap pemikiran dan jalan perjuangan politik MAR, Bang Zul malah seturut dengan irama kaum elit oligarkhi yang justru hendak memainkan kembali kartu “the end of ideology“, adakah Bang Zul alpa bahwa pandangannya sedemikian malah akan berbalik menjadi kartu “the end for PAN“? Tidakkah sebaiknya Bang Zul bercerita soal legacy nya selama 5th terakhir? Sebagaimana cerita warisan Ketua-Ketua Umum terdahulu yang masih terpatri kuat dalam ingatan dan benak sebagian besar stakeholder partai, dan insyaallah, semoga kelak menjadi amal jariyah yang tak terputus pahalanya melalui harta dan ilmu yang bermanfaat, dengan melahirkan generasi penerus perjuangan politik PAN yang tetap tak putus berdoa bagi para pendiri dan senior pejuang partai terdahulu?

Allahua’lam bi Asshawab….

*) Wasekjend DPP Partai Amanat Nasional

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.