Rab. Des 11th, 2019

Rethinking PAN dan Keajaiban ‘Kuasa’ yang memabukkan

3 min read
IMG 20190406 134529 - Rethinking PAN dan Keajaiban 'Kuasa' yang memabukkan

Oleh: Windiarto Kardono, Waksekjend DPP PAN

Kekuasaan sering terlihat paradoks, bahkan banalitas paradoks itu eksplisit. Kuasa dengan segala manifestasinya ibarat evil necessary dalam sebuah wadah demokrasi.

Pada satu sisi wajah ‘kekuasaan’ menjadi momok bagi mereka yg ‘tuna kuasa’, kekuasaan secara psikologis tak jarang diasosiasikan dengan sesuatu yang lekat dengan dusta, pengkhianatan, penyalahgunaan, korupsi dan secara riil seringkali asosiasi psikologis itu diperkuat oleh perilaku kuasa yang sengaja ditampakkan.

Tetapi di sisi lain harapan tetap melekat pada kekuasaan, karena kanal aspirasi, tuntutan dan kewajiban pertanggungjawaban adalah hal konstitusional dan efektif bagi pengawasan kuasa dalam paradigma demokrasi.

Refleksi secara intelektual seringkali absen dalam proses politik karena ‘libido kuasa’ yang begitu menggebu-gebu, tak jarang nalar sering surut ke belakang hanya sabagai alat pembenar.

Kenapa kekuasaan harus direfleksikan? agar kekuasaan kembali pada khittahnya yaitu untuk membuat wajahnya menjadi lebih ‘kamanungsan’, manusiawi, dan lebih memiliki makna transedental.

Salah satu penanda penting bagi manusia adalah kemampuannya untuk mengambil jarak eksistensial dari dirinya sendiri atau menatap diri dan dunianya sebagai orang ketiga, inilah yang secara umum disebut dengan refleksi.

Refleksi mengandaikan rasio, dan dalam logika Aristotelian, rasio adalah differensia, atau pembeda antara ‘manusia’ dari yang ‘selain manusia’, dan salah satu sifat pembeda yang merupakan konsekuensi logis (propium) dari keberadaan rasio adalah dari cara “berkuasa”.

Dengan kata lain secara logika, “kekuasaan” seharusnya bergantung pada “rasio”, proses kuasa mustilah mengandaikan politisi-politisi yang yang memaksimalkan “rasio” nya. Pemilik kuasa yang mengekslusi peran rasio, atau tidak menghargai kemasukakalan, adalah proses berkuasa yang sedang mewartakan kematiannya sendiri. Disinilah letak urgensi memikirkan, merefleksikan dan membincang ulang kekuasaan.

Sambil tetap menyadari sepenuhnya malapetaka  perilaku penyalahgunaan dari pemilik kuasa di  atas,  kita tidak boleh  mengabaikan sisi yang  lain. MAR pernah mengingatkan tentang tak kalah bahayanya dampak menjadi ‘tuna kuasa’ (powerlessness) seperti berikut.

‘Tuna Kuasa’ adalah  situasi ketika orang  menerima keadaan  yang ada, walaupun  keadaan  itu  tidak  menyenangkan,  karena merasa tidak punya kuasa untuk merubahnya menjadi  keadaan yang lebih baik. Keadaan tuna kuasa  dapat merugikan kerjasama sosial dan  kehidupan bersama. 

Anggapan atau persepsi  tuna kuasa dapat  menimbulkan berbagai  efek negatif dalam kehidupan sosial. Anggapan tuna kuasa  menyebabkan orang tidak ingin mengadakan perubahan yang  seharusnya dapat  dilakukan terhadap berbagai kekurangan,  ketidakadilan, dan penyelewengan  kekuasaan karena cenderung  dipandang  sebagai “kenyataan.”

Karena dianggap kenyataan, ada rasa khawatir akan kalah,  tersingkir, dan  dikesampingkan orang  lain. Apabila angapan ini tidak hanya dianut oleh satu orang melainkan oleh banyak orang, maka terjadilah penularan dan penyebaran anggapan  dan perasaan tuna kuasa  di masyarakat.

Mereka juga menyalahkan diri sendiri  sebagai pihak yang  bertanggungjawab di  balik situasi tersebut. Warganegara Indonesia cukup terlatih menerima  dan memahami keadaan  yang ada walaupun  keadaan itu penuh dengan bentuk-bentuk  penyelewengan perilaku dari pemilik kuasa.

Adakah perdebatan hari hari ini dalam dinamika konsolidasi organisasi PAN senyatanya memang sedang membincang secara substansi dari bahaya ‘perilaku kuasa’ yg terus menerus menekan dan menutup diri dari upaya2 perbaikan, alih alih membincang pula kekhawatiran akan bahaya saat seluruh komponen struktural organisasi PAN telah menjadi ‘tuna kuasa’, bermental ‘yes sir’, pak turut dan segala sesuatunya menjadi nderek kerso, pasrah bongkokan ‘serahkan saja pada pimpinan’, dan keadaan ketika pimpinan partai di bawah secara berjenjang merasa pasrah, menerima keadaan bahwa PAN sedang baik baik saja, serta tidak berdaya untuk merubahnya menjadi lebih baik?

Kemanakah hendak di sembunyikan arus deras pemikiran kader guna melakukan refleksi dan mengikuti ajakan MAR tentang perlunya memikirkan ulang prinsip dasar dan stratak perjuangan PAN dalam menghadapi tantangan politik ke dePAN?

Memilih bergerak atau mati

Mungkinkah hanya diam, pasrah dan menerima saja keadaan? Kader? Militan? Yg bener? Kok gitu sih?

Allahu’alam bi Showwab

jelang 212-19

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.