Kam. Apr 9th, 2020

Prof. Zainudin Maliki: Negeri ini Kaya Tapi Kenapa Tak Sejahtera?

2 min read
IMG 9491ok - Prof. Zainudin Maliki: Negeri ini Kaya Tapi Kenapa Tak Sejahtera?

Amanat.news – Anggota F-PAN DPR RI, Prof Dr Zainudin Maliki MSi mengungkapkan jika sesungguhnya bangsa Indonesia memiliki modal banyak tapi susah mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dan malah terjebak utang yang menumpuk.

“Negeri ini sudah diberi modal sangat banyak oleh Allah berupa kekayaan alam yang melimpah. Sebagai penghasil beras nomor 3, pala nomor 1, dan karet nomor 2 di dunia. Tapi kenapa rakyanta masih belum sejahtera dan masih punya utang begitu banyak?” tanyanya.

Anggota Komisi X DPR RI ini menyampaikan hal tersebut saat menjadi pemateri di Diklat Kebangsaan Simpatik Jawa Timur yang diselenggarakan di Trawas – Mojokerto, minggu lalu.

“Kemakmuran suatu bangsa tidak bergantung pada luasnya wilayah yang dimiliki, juga bukan pada melimpahnya sumber daya alamnya,” tandasnya.

Kemakmuran suatu bangsa, lanjut Prof Zainudin, terletak pada jumlah pikiran yang terdidik dan moral yang tinggi.  

“Suatu bangsa yang jumlah penduduknya kecil, bisa saja memiliki kemakmuran yang jauh lebih besar, serta memiliki kekuatan fisik dan moral yang lebih besar daripada bangsa besar jumlah penduduknya,” tambahnya.

Karena itulah, lanjut Prof Zainudin, konsep pendidikan di Indonesia harus segera dirubah.  

“Saat ini yang terjadi adalah pendidikan yang tidak mendidik, education but not educating. Yang terjadi adalah pengajaran yang menjadikan anak-anak didik cerdas secara akademis, secara intelektual, tetapi tidak cerdas secara moral emosional dan spiritual,” ungkapnya.

Sejauh ini, menurut Prof Zainudin, siswa didik dijejali berbagai macam mata pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak sehingga tidak cukup bagi guru-guru untuk menerapkan strategi pembelajaran mendalam atau apa yang disebut dengan deep learning 

Padahal, dia melanjutkan, untuk membentuk kepribadian, watak, dan pengembangan kreativitas membutuhkan pendekatan pembelajaran mendalam bukan hanya learning to know. Sehingga siswa hanya sekadar tahu tetapi pendidikan juga harus bisa mengarahkan siswa learning to do, siswa bisa melakukan.

“Tidak hanya berhenti di situ, siswa kemudian belajar menginternalisasi apa yang dikerjakan itu menjadi learning to be dan setelah menjadi watak diri siswa kemudian dijadikan bekal untuk belajar memasuki kehidupan bersama,” terangnya.

“Nampaknya Pak Menteri (Mendikbud, red) tengah merancang rencana-rencana untuk upaya perbaikan. Pak Menteri melakukan dekonstruksi terhadap narasi yang selama ini disakralkan, seperti mengganti UN. Dan, perubahan-perubahan memang harus dimulai, meski untuk itu butuh persiapan yang matang,” pungkasnya.//cw

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.