Pidatonya Dianggap Menyesatkan, Ketua MPR: Pemerintah Seharusnya Terbuka Soal Kondisi Ekonomi

Amanat.news – Pidato sambutan Ketua MPR, Zulkifli Hasan pada acara kenegaraan 16 Agustus 2018 lalu dianggap telah menyesatkan publik karena menggunakan data yang salah oleh Menkeu Sri Mulyani Indarwati.

Zulhasan – demikian Ketua MPR biasa disapa – tidak terima jika pidatonya itu dianggap menyesatkan dan dinilai sebagai kampanye terselubung untuk menjatuhkan pemerintah Jokowi.

“Ini Rizal Ramli yang katakan dan semua koran tulis itu, lho kok baru sekarang pemerintah bilang utang memberatkan dari kemarin-kemarin kemana? Ini ekonom yang bilang bukan saya, kalau saya politisi,” ujar Zulhasan.

Dia menuding balik, bahwa Menkeu Sri Mulyani yang tidak terbuka terhadap rakyat soal kondisi ekonomi.

Selain Rizal Ramli, Zulhasan juga mengutip data dari Indef yang menyebutkan jika pemerintah menambah utang lagi maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa berbahaya.

“Indef juga menyoroti, kalau pemerintah menambah utang baru itu akan menghambat pertumbuhan ekonomi yang sekarang hanya 5,3 persen,” tandasnya.

“Catat ya, yang menyesatkan itu Ibu Sri Mulyani (Menkeu) bukan ketua MPR. MPR ini lembaga politik bukan lembaga sosial, tugasnya menyerap aspirasi,” kata Zulhasan.

Dia pun mengutip pernyataan Sri Mulyani yang menyebutkan bahwa beban utang jatuh tempo senilai Rp 409 triliun memberatkan APBN.

“Ini Bu Sri Mulyani sendiri bilang utang Rp 409 triliun di APBN 2018 akan memberatkan anggaran di 2019, ini kata beliau Menteri Keuangan,” tegasnya.

Kata Zulhasan, Menkeu seharusnya membuka hal itu kepada publik. Dia pun membantah bahwa pidatonya bukan bagian dari kampanye jelang Pilpres 2019.

Hal yang sama disampaikan oleh Ekonom senior Rizal Ramli menyayangkan pemerintah terlalu menutupi utang.

Giluran sudah jatuh tempo, baru kelabakan dan mengumumkan ke publik.

“Lho kok baru ngaku? Piye toh? Jadi ngapain ngibul dan bantah-bantah selama ini Madamme Anomali?,” cetus Rizal dalam akun twitter pribadinya @RamliRizal, Sabtu (18/8).

Rizal kerap mengingatkan pemerintah mengenai beban utang yang besar di berbagai kesempatan.

Beberapa waktu lalu, pria yang akrab disapa RR ini menilai kondisi perekonomian Indonesia, khususnya masalah uutang sedang dalam kondisi yang kurang sehat. Namun, pemerintah selalu mengelak dengan menyatakan utang Indonesia masih aman.

Pemerintah, kata RR selalu membandingkan rasio utang Indonesia lebih baik dengan negara lain seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Padahal, perbandingan tersebut tak sesuai untuk dilakukan.

Menurutnya pemerintah bisa saja mengurangi beban utang tanpa biaya. Salah satunya dengan sistem pertukaran. Contohnya Indonesia memberikan lahan hutan konservasi kepada Jerman, dengan ketentuan pertukaran itu bisa mengurangi utang Indonesia dari Jerman.

RR menilai jika pemerintah tidak memiliki manajemen inovatif dalam membayar utang, maka Indonesia akan terus menjadi good boy  yang selalu tepat waktu membayar utang.

“Tidak bisa lagi sekedar good boy dipuji-puji sama asing gitu,” ujarnya sebagaimana dikutip dari merdeka.com. //cw

Tinggalkan Balasan