Perempuan

Amanat – Di belakang setiap laki-laki sukses selalu ada wanita yang hebat.

Begitulah bunyi pepatah yang sering kita dengar. Entahlah. Pepatah itu memaksudkan hebatnya peran seorang wanita atau malah menegaskan peran wanita yang cukup hanya di belakang layar saja, tak perlu muncul di permukaan panggung. Yang jelas, pepatah itu selalu dikutip secara luas dimana-mana di seluruh dunia setiap kali ada cerita sukses seorang laki-laki.

Kaum feminis pasti menghedaki peran wanita yang sama dan sederajat dengan pria. Tapi kalangan tradisional tentu tak mudah menerima gagasan itu. Dalam konsep Jawa, perempuan tetap disebut sebagai ‘’kanca wingking’’ (teman di belakang) yang menegaskan peran perempuan sebagai partner hidup yang mengurusi hal-hal di belakang tanpa harus muncul ke depan, karena yang di depan cukup diurus kaum laki-laki.

Peran wanita didegradasikan dalam akronim ‘’3M’’; masak, macak, manak, memasak, bersolek, dan melahirkan. Fungsi perempuan dibatasi dengan ketat pada urusan-urusan logistik rumah tangga (masak) dan urusan-urusan reproduksi (manak), serta sebatas menjadi hiasan dan pameran kecantikan (macak).

Gugatan terhadap posisi perempuan yang terkebelakang ini baru terjadi di pertengahan abad ke-18 dan awal abad ke-19 di Eropa dan Amerika. Gerakan feminisme lahir sebagai hasil dari munculnya mazhab pemikiran kritis yang menggugat kemapanan peran laki-laki yang dijustifikasi oleh kekuatan status quo yang konservatif.

Sejak Revolusi Prancis 1789, bibit-bibit gerakan feminisme mulai muncul menjadi gerakan politik.Meski demikian, baru pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 perempuan bisa mendapatkan hak untuk memilih dalam pemilu. Gerakan keseteraan gender menjadi gerakan yang masif seiring dengan menguatnya gerakan kiri setelah Revolusi Rusia 1917 sehingga muncul gerakan feminisme radikal dan feminisme marxis yang berhaluan kiri.

Di Indonesia gerakan untuk memperjuangkan kesetaraan peran perempun diperkenalkan oleh R.A Kartini pada 1880. Dia dianggap sebagai tokoh feminis paling utama di Indonesia yang dengan gigih memperjuangkan hak-hak perempuan dalam politik dan kehidupan sosial yang lebih luas. Meskipun Kartini sendiri adalah korban ketidakadilan gender–dia menjadi istri kedua yang kemudian mati muda–tapi ia adalah martir bagi gerakan feminisme Indonesia. Perjuangan Kartini dilanjutkan oleh Dewi Sartika pada 1904. Pada masa kemerdekaan Indonesia dan setelahnya, perempuan Indonesia mendapatkan peran yang signifikan dengan banyaknya tokoh-tokoh perempuan yang muncul di panggung politik nasional.

Dalam umurnya yang baru beranjak dari setengah abad, Indonesia sudah menorehkan sejarah dengan mempunyai seorang presiden perempuan pada diri Megawati Soekarnoputri. Ia adalah presiden kelima dari tujuh presiden yang dipunyai republik ini. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mengklaim diri sebagai kampiun demokrasi yang sudah berumur lebih 200 tahun. Sampai sekarang Amerika belum sekalipun punya presiden perempuan. Dari 45 presiden yang sudah memimpin Amerika, Hillary Clinton satu-satunya capres perempuan yang nyaris menang di pilpres 2016. Ironisnya, Clinton kalah oleh Donald Trump yang banyak disebut sebagai penista perempuan.

Secara keseluruhan negara-negara Asia lebih banyak mempunyai pemimpin perempuan yang menonjol dibanding Eropa. Margaret Thatcher, yang menjadi perdana menteri Inggris 1979 sampai 1990, adalah perdana menteri terlama dalam sejarah modern Inggris. Ia dikenal keras dan dijuluki sebaga The Iron Lady (Wanita Besi) karena kebijakan sosial ekonominya yang konservatif dianggap banyak menyengsarakan rakyat kecil. Partnernya yang klop adalah Presiden Ronald Reagan yang flamboyan di Amerika Serikat yang juga dikenal lebih pro orang kaya ketimbang rakyat miskin.

Setelah era Thatcher praktis tidak ada lagi pemimpin perempuan yang menonjol di Inggris maupun Eropa. Perdana Menteri Inggris sekarang adalah perempuan Theresa May,biasa-biasa saja dan mungkin tidak akan bisa bertahan lama karena isu Brexit, pemisahan Inggris dari Uni Eropa yang kontroversial.

Asia pernah punya Benazir Bhuto di Pakistan yang sangat berani. Di Bangladesh, negara mayoritas Islam pecahan Pakistan punya perdana menteri perempuan di era 1990-an Khaleda Zia. India punya perdana menteri legendaris Indira Gandhi yang menjabat 1966 sampai 1977. Gandhi yang memerintah dengan tangan besi terbunuh oleh dua pengawalnya sendiri pada 1984.

Sekarang ini, Singapura mengukir sejarah dengan mempunyai presiden perempuan pertama sejak merdeka 47 tahun yang lalu. Halima Yacob, 63 tahun, perempuan dan muslimah, dianggap sebagai simbol kesetaraan gender dan minoritas di Singapura. Ada saja yang meremehkan terpilihnya Yacob karena dianggap hanya sekadar aksesori politik Singapura yang sebenarnya berpolitik totalitarian. Tapi, apapun, Yacob mengukir sejarah sebagai presiden pertama di Singapura, negara kecil yang unik dan sejahtera.

Kita di Indonesia sudah lama memberikan hak-hak yang setara bagi perempuan. Kalau sekarang undang-undang pemilu mewajibkan 20 persen kuota perempuan, itu adalah penegasan dari komitmen nasional kita untuk memberi peran yang semakin besar kepada perempuan. Akankah dalam waktu dekat muncul pemimpin nasional perempuan di Indonesia? Kita tunggu. (*)

 

Dhimam Abror Djuraid

Tinggalkan Balasan