Pemenang Pilgub Jatim di tangan generasi milenial

Amanat – Fakta-fakta dari hasil survei yang  dipaparkan IT-Riset Politic Consultant (iPol) Indonesia ini bisa menjadi bahan kajian baru bagi kontestan pilgub di Jawa timur. Sebab, Pemilih millenial, diperkirakan bakal menjadi kunci kemenangan kandidat yang maju di Pilgub Jawa Timur 2018.

Untuk itu, para calon yang berlaga di pilgub Jatim harus mampu mengambil hati generasi milenial tersebut.

“Data statistik mencatat, bonus demografi di Jawa Timur adalah 43,9 persen dari total penduduk yang mencapai 38,85 juta jiwa. Itu artinya ada sekitar 17,1 juta kelompok usia produktif yang masuk kategori pemilih rasional,” papar CEO iPol Indonesia, Petrus Hariyanto.

Dari jumlah tersebut, generasi millenial atau generasi yang lahir antara tahun 1981-1994, mencapai 14.506.800 jiwa. “Secara umum, dengan jumlah yang signifikan ini, generasi ini akan menjadi target kampanye para kandidat dalam menyampaikan pesan,” terang Petrus Hariyanto.

Menariknya, menurut Petrus, karakteristik pemilih millenial lebih percaya User Generated Content (UGC). “Artinya, konten yang di-publish oleh timses, relawan kandidat melalui media massa tidak serta merta mempengaruhi keputusan pemilih,” tandas Petrus.

Melihat realitas yang demikian, dibutuhkan trik khusus bagi kandidat berusia tua agar bisa mengambil hati generasi milenial ini. “Mereka harus mampu merepresentasikan diri agar diterima di kalangan millenial. Misalnya berpikir smart, visioner, peka zaman dan lain-lain,” kata Petrus.

Petrus menegaskan, pemilih millenial sebagai motor viral informasi adalah kunci kemenangan bagi para kandidat yang berlaga di pilgub jatim. “Syaratnya, para kandidat harus memiliki cara khusus untuk mengelola isu,” pesan Petrus.

Survei yang dilakukan oleh ipol ini memang berbeda dengan survey-survei yang digelar oleh lembaga lain sebelumnya, sebab  survei iPol ini tidak memotret masalah elektabilitas, popularitas, maupun akseptabilitas para kandidat. Termasuk mencermati masalah margin of errornya.

“Kita tidak memihak calon manapun, iPol hanya mengkaji pemilihan rasional berdasarkan sejumlah pemberitaan media massa yang diviralkan melalui media sosial,” pungkas Petrus.//CW

Tinggalkan Balasan