PAN Jatim: Banyak toko ritel tutup, indikator lesunya perekonomian

Amanat – Pelaku bisnis sektor ritel sangat merasakan penurunan daya beli masyarakat. Pusat perbelanjaan yang selama ini menjadi tempat legendaris diserbu pengunjung, ternyata sejak awal tahun sepi pengunjung dan mengalami penurunan hingga di atas 30 persen.

Kondisi ini mestinya menjadi perhatian pemerintah. Namun sayangnya, pemerintah terus mengelak bahwa tak terjadi penurunan daya beli dengan alasan berbagai macam.

mas bas1 300x191 - PAN Jatim: Banyak toko ritel tutup, indikator lesunya perekonomian
Sekretaris DPW PAN Jatim, DR Basuki Babussalam

“Berdasarkan laporan hasil survey Indef, yernyata sepanjang semester I-2017 itu pusat perbelanjaan seperti di Glodok yang begitu legendaries saja mengalami penurunan omset. Mereka mengalami penurunan mencapai 34 persen dibanding tahun sebelumnya,” tandas Sekretaris DPW PAN Jatim, DR Basuki Babussalam.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyebut penurunan daya beli dan beberapa toko ritel yang tutup karena konsumen banyak yang melakukan belanja secara online, termasuk belanja online dari luar negeri.

Menurut  Bambang Brodjonegoro hadirnya toko online cukup berpengaruh dan menjadi ancaman.

“Meskipun mungkin porsinya tidak terlalu besar dari belanja ritel jadi belanja online, tapi itu sudah mulai serius ya,” tutur.

Namun PAN JATIM melalui DR Basuki Babussalam mengungkapkan jika lesunya pelaku bisnis sektor ritel bisa menjadi indikator perekonomian yang tengah lesu, sehingga membuat daya beli masyarakat menurun.

“Saya kira banyak juga took-toko yang bermain online, tapi omzet mereka juga tak bisa menyamai omzet di tahun-tahun sebelumnya. Itu artinya memang ada penyebab lain yang berlangsung secara makro yakni pertumbuhan ekonomi yang tak berkembang,” tandas anggota DPRD Jatim ini. cw

Tinggalkan Balasan