Pakar Komunikasi Politik: Kampanye hitam bisa berbalik menguntungkan korban

Amanat – Istilah kampanye hitam kembali menyeruak mengiringi proses mundurnya calon Wakil Gubernur Azwar Anas dari kontestasi Pilgub Jatim. Sebagaimana diketahui, Anas mengembalikan mandat yang telah diterimanya kepada PDI-P sebagai partai pengusung, usai beredarnya foto-foto tak senonoh sosok yang disebut-sebut mirip dengan Anas di media sosial beberapa hari belakangan.

Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto mengeluarkan statemen bahwa Azwar Anas merupakan korban kampanye hitam. Dalam siaran pers yang dirilis, Hasto menyatakan bahwa Anas telah menjadi korban kampanye hitam yang dilakukan melalui rekayasa pelanggaran moral.

Pakar Komunikasi Politik, Prof. Tjipta Lesmana mengungkapkan bahwa ada dua terminologi yang berbeda yakni kampanye hitam dan kampanye negatif.

TJIPTA LESMANA 300x188 - Pakar Komunikasi Politik: Kampanye hitam bisa berbalik menguntungkan korban
Pakar Komunikasi Politik Prof. Tjipta Lesmana

Kampanye hitam biasanya hanya berupa fitnah dari sumber-sumber tak jelas yang menebas langsung ke karakter seseorang.

Sedangkan kampanye negatif agak lebih objektif dengan mengungkapkan fakta data mengenai kekurangan pihak lawan dan argumentasi yang logis.

Menurut Prof. Tjipta, sebenarnya bagi pihak yang melancarkan model kampanye negatif maupun hitam ini tak akan pernah bisa menuai hasil apa-apa.

“Sebagai strategi politik, kampanye hitam takkan bisa mendongkrak dukungan pada pihak yang melancarkan. Malah cenderung merugikan pihak sendiri, apalagi dengan psikologis bangsa Indonesia yang mudah simpatik dengan korban kampanye hitam,” urainya.//CW

Tinggalkan Balasan