Mengunjungi ‘Pesantren Dolly’ (2): Serius dengan disiplin ketat

Amanat – Ustadz Mokhammad Nasih  dan kawan-kawan berjuang mendirikan dan menjalankan JH dengan sangat serius. Selain mengubah wisma tempat beradu peluh menjadi tempat mengaji, mereka juga mendatangkan guru-guru berkualitas.

Saat ini, dari sembilan guru yang ada, tujuh guru adalah sarjana dari berbagai bidang ilmu. Di antaranya adalah lulusan ponpes ternama, Ponpes Al Amin, Sumenep, dan Ponpes Modern Darussalam, Gontor.

Mereka dibantu santri senior yang telah dipersiapkan menjadi kader, yang kelak bisa ikut berjuang mengajar di pesantren yang sering disebut Pesantren Dolly tersebut.

Para ustadz dan ustadzah itu bertanggungjawab terhadap kurikulum yang diajarkan di JH yaitu TPQ dan Diniyah. Meliputi pembelajaran baca tulis Al Quran, Fiqh, Tarikh, Aqidah, Akhlak, Bahasa Arab, Tarjim, dan sebagainya.

Guru-guru tersebut digaji lebih tinggi dari gaji guru ngaji pada umumnya. Timbal-baliknya, disiplin ketat diterapkan. Untuk guru yang terlambat ada sanksi berupa pemotongan gaji sebesar Rp. 1000,- permenit keterlambatan.

“Kami serius, maka disiplin  kami tegakkan,” tegas Ustadz Nasih.

Uang untuk membayar guru-guru tersebut bukan berasal dari siswa. Nasih dan kawan-kawan patungan, selain sumbangan dari para donatur. Para siswa sendiri tidak dipungut biaya sepeserpun, kecuali berupa infaq berdasar keikhlasan.

Selain tidak dipungut biaya, siswa-siswa mendapat makanan kecil gratis setiap Jumat. Buku dan alat-alat tulis lain juga disediakan secara cuma-cuma. Bahkan ada beasiswa pendidikan SD, SMP, dan SMA khusus anak yatim. Termasuk untuk anak-anak PSK yang tidak jelas siapa bapaknya. HK/bersambung.

 

Tinggalkan Balasan