Mengunjungi ‘Pesantren Dolly’ (1): Tempat mengaji di bekas adu birahi

Amanat – Dalam rangkaian safari kebangsaan di Jawa Timur,  Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan direncanakan mengunjungi Pesantren Jauharotul Hikmah yang berada di kawasan bekas lokalisasi Dolly, Surabaya, 7 Februari mendatang. Seperti apa profil pesantren ini?

Dulu, rumah yang beralamat di Putat Jaya IV B Timur/4, Surabaya, itu, digunakan para penjaja seks melayani pelanggannya. Lokasinya memang berada di salah satu kompleks lokalisasi yang pernah disebut terbesar di Asia, Jarak Dolly.

Namun, sejak 2008 lalu fungsi wisma tanpa nama itu berubah 360 derajat. Sekumpulan anak muda alumni sebuah perguruan Islam setempat, Sekolah Bahrul Ulum, telah merubahnya. Mereka menyulap tempat adu birahi itu menjadi pesantren yang mereka berinama Jauharotul Hikmah (JH).

Anak-anak muda yang sebagian besar lahir dan besar di daerah lokalisasi itu sadar bahwa pendidikan dan syiar agama sangat penting untuk warga di sana. Terutama bagi anak-anak yang setiap hari selalu disuguhi hal-hal negatif di sekitarnya.

“Jauharotul Hikmah itu kurang lebih berarti permata yang memberi manfaat. Tekad kami waktu itu, kalau memang tidak bisa menghijrahkan mereka, ya bikin pendidikan agama di sini,” kata Ustadz Mokhammad Nasih (37), salah satu pendiri dan pengasuh Jauharotul Hikmah, saat Amanat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.

Meskipun berdiri di tengah masyarakat yang sering dicap hidup dari kemaksiatan, tidak ada tentangan terhadap JH. Bila ada sedikit gesekan, itu terjadi saat kompleks lokalisasi ini akan ditutup pemerintah 4 tahun lalu. Sikap JH yang pro penutupan cukup merepotkan posisinya.

“Ada yang bilang ‘kalau Dolly tidak jadi tutup berarti JH yang tutup’. Mental kami benar-benar diuji waktu itu,” ujar Ustadz Nasih. HK/bersambung

 

Tinggalkan Balasan