Mengenang Kiprah Amien Rais Kobarkan Semangat Aksi Masa di Reformasi 1998

Amanat.news – Minggu pertama di bulan Mei 1998, Amien Rais mengumpulkan sejumlah tokoh dan mengajak mereka untuk turut serta dalam aksi massa dengan melakukan long march yang sedianya bakal digelar pada 20 Mei 1998. Tujuannya adalah mendesak agar Presiden Soeharto mundur.

Berbagai elemen dengan pendukung mencapai ratusan ribu orang sudah memberikan kesanggupan mendukung rencana aksi massa tersebut.

Rencana tersebut ternyata mendapat tantangan dari Orde Baru. Panglima ABRI (saat ini TNI), Jenderal Wiranto meminta Amien Rais membatalkan rencana long march. Pada tanggal 18 Mei 1998, Wiranto juga mengimbau agar masyarakat tak berkumpul di Monas.

464834 583631158334703 781665681 o - Mengenang Kiprah Amien Rais Kobarkan Semangat Aksi Masa di Reformasi 1998Wiranto meminta masyarakat mengingat kerusuhan yang membumihanguskan Jakarta. Jangan sampai karena terprovokasi sekelompok orang, peristiwa itu terjadi kembali. Banyaknya massa yang berkumpul di satu titik sangat potensial memicu kerusuhan dan jatuh korban jiwa.

TNI menutup seluruh akses jalan menuju Monas. Tentara bersenjata lengkap, panser dan pagar berduri terlihat di mana-mana.

“… Dengan tidak terpengaruh dan terhasut untuk melakukan berbagai tindakan yang nyata-nyata hanya akan mengeruhkan suasana bahkan tergiring untuk berhadapan dengan aparat keamanan,” kata Jenderal Wiranto. Demikian dikutip dari buku Hari-Hari Terpanjang Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto yang ditulis James Luluhima dan diterbitkan Kompas tahun 2005.

Sebelumnya, pada tanggal 16 Mesi 1998, Kepala Staf Kostrad Mayjen Kivlan Zen, mengancam akan menangkap Amien Rais jika nekat menggelar People Power.

Tak cukup gertakan tersebut, seperti yang disebut dalam buku “Sintong & Prabowo” karangan A Pambudi, Prabowo pada Senin 18 Mei 1998 petang, sampai perlu khusus menemui Amien Rais agar membatalkan aksi tersebut. Tidak mempan juga.

Akhirnya, Mayjen Kivlan Zen, sebagaimana diakui dalam bukunya ‘Konflik dan Integrasi TNI AD (2009), menelepon Amien Rais.

Isinya, sebagaimana nukilan bukunya; “Pada hari Kebangkitan Nasional itu, Amien Rais merencanakan people power mengepung Istana Negara. Namun people power itu tak jadi dilaksanakan antara lain karena adanya ancaman dari Kepala Staf Kostrad Mayjen Kivlan Zen. Kepala Staf Kostrad akan menangkap atau terjadi pertumpahan darah seperti peristiwa Tiananmen di Beijing tahun 1989. Untuk menghadang gerak laju massa, aparat keamanan telah menyiapkan kawat berduri pada jalan-jalan masuk ke Monas. Aparat juga menempatkan tank yang siap menghalau massa serta tembakan peluru tajam seperti di Tiananmen.”

Tanggal 19 Mei, jelang tengah malam, Amien Rais melihat situasi di Monas. Rupanya Amien sadar jika aksi long march tetap digelar, akan jatuh banyak korban.

“Berat ini,” kata Amien Rais saat melihat ketatnya barikade aparat di Monas.

Dengan alasan keamanan, Amien Rais kemudian membatalkan rencana long march itu. Dan memilih untuk berstrategi lain.

Melalui televisi dalam siaran khusus pukul 02.00 dinihari, Amien akhirnya membatalkan aksi People Power tersebut.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional digeser ke Gedung DPR/MPR yang dikuasai ribuan mahasiswa. Amien Rais saat itu jadi bintang.

Dia dielu-elukan mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto segera mundur. Amien Rais menjadi satu-satunya tokoh nasional yang diizinkan mahasiswa masuk dari gerbang utama DPR.

“Presiden Soeharto sudah kehilangan legitimasinya karena rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya, sehingga hari-harinya sudah bisa dihitung. Karena itu, tetap jaga terus persatuan dan kesatuan. Jangan mau dipecah-pecah,” kata Amien disambut teriakan gegap gempita mahasiswa.

Keesokan harinya, pada tanggal 21 Mei 1998, setelah memalui dinamika yang sangat cepat, pada pukul 09.00 WIB, Presiden Soeharto berpidato mengumumkan pengunduran dirinya. Mengakhiri kekuasaan yang direngkuhnya sejak 32 tahun. Indonesia pun memasuki era baru./cw

Tinggalkan Balasan