Mengejar Gengsi dalam Karapan Sapi Piala Presiden

Amanat – Sapi-sapi itu menjadi pusat perhatian di siang yang sangat terik selama dua hari berturut-turut di Stadion Pamekasan pada Minggu (29/10) lalu.

Masing-masing sapi mengenakan semacam ‘pakaian kebesaran’, yang menonjolkan ciri khas daerah asalnya. Sebenarnya, perlengkapan yang ternyata cukup mahal itu hanya dikenakan sebagai unjuk kreatifitas saja oleh si pemilik sapi. Sebab, saat balapan berlangsung, pasangan sapi hanya diberi ikat kepala yang disebut obbet, dan media tunggangan joki (penongkok) yang disebut kaleles.

Kain obbet bukanlah sembarang kain. Kain yang membebat kepala sapi ini memuat simbol spiritual. Kain yang biasanya berwarna hitam ini seringkali didapat dari orang tua yang memiliki kemampuan spiritual tertentu.

Dan…..wuusssss……!! Sesaat setelah juri mengibaskan bendera start pada hitungan ketiga sapi-sapi berlari kencang menarik kaleles dan jokinya sepanjang rute lintasan mencapai 180 – 200 meter. Sesekali, sang joki mengibaskan cemetinya agar sapi berlari lebih kencang lagi.

10375 thumb Untitled 2 - Mengejar Gengsi dalam Karapan Sapi Piala Presiden                Sorak sorai menggemuruh di pinggir lapangan, tatkala sapi jagoannya menjadi pemenang. Begitulah suasana di sepanjang ‘pesta’ karapan sapi di Madura yang terus berulang hingga semua pasang sapi kebagian berlomba.

Perlombaan balapan sapi merupakan kegiatan rutin setiap tahun di Pulau Madura. Sapi-sapi yang dilombakan merupakan pasangan sapi yang menang pada lomba karapan sapi tingkat kecamatan dan kabupaten.

“Setiap mengikuti perlombaan ini, kami tidak pernah mengejar hadiahnya. Yang kami kejar hanyalah menjadi juara dan meneruskan tradisi orang Madura,” kata Ibrahim, peserta asal Sumenep.

Selain mendongkrak gengsi, gelar juara juga melesatkan harga sapi hingga berlipat-lipat. Dari puluhan juta menjadi ratusan juta. Maklum, untuk membentuk tubuh pasangan sapi yang sehat, dibutuhkan biaya puluhan juta setiap bulan per pasang sapi. Sapi aduan itu dijejali aneka jamu dan puluhan telur ayam setiap hari, terlebih menjelang perlombaan.

Seperti dituturkan Ahmad Hasan, salah seorang pemilik sapi kerap dari Kabupaten Sampang. Ia merogoh kocek hingga Rp. 150 juta untuk mempersiapkan sepasang sapi agar bisa diikutsertakan dalam karapan. Dana sebesar itu hanyalah untuk sepaang sapi. Padahal juragan besi tua ini menyertakan tiga pasang sapi untuk sekali lomba. Berarti dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp. 450 juta. Setiap hari, sapi-sapi tersebut diberikan telur sebanyak 75 butir. //CW

Tinggalkan Balasan