Menangguk untung dari hidroponik

Amanat – Dengan metode hidroponik yang tak membutuhkan banyak lahan, kegiatan bercocok tanam tetap bisa dilakukan di daerah perkotaan.  Konsumsi airnya juga relatif lebih sedikit dibandingkan metode tanam konvensional.

“Teknik ini juga tidak memerlukan pestisida, sehingga aman untuk dikonsumsi,” jelas Dian Nursari dari Komunitas Hidroponik Surabaya (KHS).

KHS merupakan wadah bagi para pecinta hidroponik, khususnya di Surabaya, untuk berkumpul, belajar, dan sharing pengetahuan.

Menempati sekretariat di Pasar Induk Modern Agrobis Puspa Agro, Taman, Sidoarjo, bermacam program dan kegiatan dilakukan oleh KHS.

Ada program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), yaitu sosialisasi bercocok tanam hidroponik dan pendampingan terhadap perkampungan warga. Ada sosialisasi dan pendampingan terhadap pelajar dan mahasiswa yang mereka namakan HS Goes To School and Campus.

KHS juga melakukan pelatihan dan pendampingan terhadap organisasi dan komunitas, pameran hasil produksi, serta workshop terbuka untuk umum.

“Secara rutin setiap bulan, kami juga mengadakan kopdar, pertemuan anggota komunitas. Di pertemuan inilah kami bisa saling belajar dan sharing pengetahuan,” lanjut Dian.

Menurut Dian, kebanyakan para pecinta hidroponik masih memfungsikan cara bercocok tanam ini seperti sebuah taman. Sebagai penghias ruang kosong dan hasilnya pun dinikmati sendiri. Namun, di antara plasma binaan KHS telah mulai ada yang mengembangkan metode ini sebagai sebuah bisnis.

Dian memberi contoh, untuk menanam 1000 batang selada air misalnya, hanya dibutuhkan modal sekitar Rp.800.000,-. Jumlah itu untuk keperluan membeli bibit, nutrisi atau pupuk, rockwool sebagai media tanam, listrik (untuk menggerakkan water pump), dan air.

Dengan asumsi tingkat keberhasilan 90% dan harga selada hidroponik yang mencapai Rp. 5.000,-/buah, bisa dihitung berapa keuntungan yang bisa ditangguk.  Panen bisa dilakukan setelah 40 hari dan bisa langsung ditanami lagi. Jadi dalam setahun bisa panen sampai 9 kali.

“Modal awal, untuk membeli peralatan seperti pipa, water pump, dan lain-lain, memang agak mahal. Tapi setelah itu hasilnya bisa berlipat ganda,” pungkas Dian. HK

 

Tinggalkan Balasan