Sen. Jul 6th, 2020

Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (3): Ragam Motif Ukiran Unik di Masjid Sunan Geseng

3 min read
IMG 20200502 072220 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (3): Ragam Motif Ukiran Unik di Masjid Sunan Geseng

Amanat – Masjid Sunan Geseng terletak di Dusun Kauman Barat, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen. Purworejo. Tidak ada catatan pasti kapan dibangun, namun diperkirakan sudah ada sejak abad XVI.

Masjid yang menjadi salah satu aset Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah ini masih berdiri kokoh hingga kini. Kondisi asli masjid juga terawat baik, tak berubah oleh beberapa kali pemugaran yang dilakukan.

Saat Amanat mengunjunginya beberapa waktu lalu, sedang dilakukan perawatan oleh petugas BP3. Dari luar, daya tarik masjid ini terlihat pada model atap tumpang satu, seperti masjid-masjid kuno lain di Tanah Bagelen. Di puncak atap juga terdapat mustaka yang terbuat dari tanah liat.

Masjid terdiri dari ruang utama dan bangunan serambi yang beratap limasan. Ruang utama disokong oleh 4 tiang utama atau soko guru dan 12 soko rowo. Semua berbentuk bulat dan terbuat dari kayu jati kualitas tinggi.

IMG 20200503 105300 1024x658 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (3): Ragam Motif Ukiran Unik di Masjid Sunan Geseng
Atap tumpang satu Masjid Sunan Geseng ditopang oleh 4 soko guru kayu jati.

Pada kerangka kayu atau blandar molo yang terangkai di atas tiang-tiang tersebut, keunikan utama masjid ini berada. Di bagian ini terdapat ukiran-ukiran yang motifnya berbeda antara satu dengan yang lain. Ukiran dengan motif berbeda juga terdapat pada langit-langit masjid.

“Pada kayu blandar molo, langit-langit, dan bagian lain, semua berukir dengan motif berbeda-beda. Kalau sekarang kan ukirannya sama atau seragam antara kayu sebelah kanan dan sebelah kiri,” kata takmir Masjid Sunan Geseng, Zumarudin.

Motif hias dalam ukiran tersebut berupa flora, tumpal, meander, dan palang Yunani. Selain pada kerangka kayu di atas, motif hias ini juga terdapat pada daun pintu dan bedug. Bedug, selain kentongan dan mimbar, memang menjadi benda kuno lain yang masih ada hingga sekarang.

Menurut cerita tutur, keberadaan Masjid Sunan Geseng masih ada kaitan dengan Petilasan Sunan Geseng yang terletak sekitar 3 kilometer di sebelah timur. Masjid dibangun oleh masyarakat sebagai penghormatan terhadap salah satu murid Sunan Kalijogo tersebut.

IMG 20200503 105214 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (3): Ragam Motif Ukiran Unik di Masjid Sunan Geseng
Motif ukiran di bandara molo, langit-langit, dan kerangka kayu lain berbeda satu dengan yang lain.

“Waktu itu masyarakat membangun masjid ini untuk hadiah atau penghormatan kepada Sunan Geseng atas jasanya menyebarkan Islam di daerah Purworejo dan sekitarnya,” jelas Zumarudin.

Beberapa sumber menyebut Sunan Geseng adalah tokoh asal Purworejo yang memiliki nama asli Cokrojoyo. Ia merupakan keturunan kelima dari pepunden trah Bagelen, Nyai Ageng Bagelen. Garis keturunan tersebut adalah Nyai Bagelen – Bagus Gento – Raden Damarmoyo – Raden Rara Rengganis – Pangeran Semono alias Pangeran Muryo– Cokrojoyo.

Nama Sunan Geseng disematkan kepadanya berkaitan kisah pertemuannya dengan Sunan Kalijogo. Ia yang ingin menjadi murid salah satu anggota Walisongo ini, diperintahkan oleh Sang Sunan untuk bertapa sujud di sebuah bukit di daerah Bagelen.

IMG 20200503 105445 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (3): Ragam Motif Ukiran Unik di Masjid Sunan Geseng
Pemugaran yang beberapa kali dilakukan tetap mempertahankan bentuk asli Masjid Sunan Geseng.

Lebih satu tahun kemudian, ketika Sunan Kalijogo melewati tempat itu lagi, ia bergegas mencari Cokrojoyo. Namun, alang-alang dan tumbuhan liar yang sudah demikian lebat, membuat pencarian sepertinya akan sia-sia.

Sunan Kalijogo kemudian membakar tempat itu. Benar, setelah alang-alang dan tetumbuhan liar habis terbakar, terlihat jelas tubuh Cokrojoyo. Keadaannya geseng (bahasa Jawa hangus) dan dalam posisi masih bersujud.

Sejak itulah dia diangkat menjadi murid Sunan Kalijogo. Cokrojoyo kemudian ikut menjadi pendakwah Agama Islam yang dikenal dengan nama Sunan Geseng. Lokasi Cokrojoyo bertapa diyakini berada di atas Bukit Siringin, Dusun Gatep, sekitar 1 kilometer timur laut Pesarean Nyi Ageng Bagelen. HK (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.