Sen. Jul 6th, 2020

Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (2): Soko Tatal Ala Masjid Demak di Masjid Tiban Jenar Kidul

2 min read
IMG 20200502 152739 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (2): Soko Tatal Ala Masjid Demak di Masjid Tiban Jenar Kidul

Amanat – Nama ‘tiban’ diberikan karena masjid ini dipercaya terjadi dan ada secara tiba-tiba, tanpa proses pembangunan terlebih dulu. Sebagian lain mengartikan ‘tiban’ sebagai kemudahan-kemudahan dalam pembangunannya.

Masjid Tiban Jenar Kidul masih berdiri kokoh sampai sekarang. Setiap bulan Ramadhan pada tahun-tahun lalu, masjid selalu ramai didatangi warga. Terutama saat diadakan pengajian sore dan menjalankan salat tarawih.

Peninggalan Islam yang berlokasi di Dusun Kauman, Desa Jenar Kidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo, ini, konon dibangun oleh Sunan Kalijogo sekitar 1468 M. Bila ini benar, berarti usianya lebih tua 11 tahun dari Masjid Agung Demak yang dibangun pada 1477 M.

Menurut cerita masyarakat, Sunan Kalijogo ingin mendirikan masjid di Jenar Kidul yang waktu itu masih dikelilingi hutan belantara. Namun belum sampai selesai, ia mendapat panggilan dari anggota Walisongo yang lain untuk ikut membantu pembangunan Masjid Agung Demak.

IMG 20200502 154011 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (2): Soko Tatal Ala Masjid Demak di Masjid Tiban Jenar Kidul
Empat soko guru dibuat dari tatal kayu mirip soko tatal Masjid Agung Demak.

Sunan yang oleh masyarakat Bagelen dikenal sebagai Syech Udan Baring ini, terpaksa mempercepat pembangunan masjid di Jenar Kidul. Ia menggunakan tatal kayu untuk membuat 4 soko guru atau tiang utama.

“Pengerjaan masjid dikebut dan atas izin Allah bisa selesai dalam waktu singkat, makanya disebut masjid Tiban,” kata Sutarno, salah seorang pengurus masjid.

Kemudian diketahui, konstruksi 4 soko guru atau tiang utama Masjid Jenar Kidul mirip dengan soko tatal Masjid Demak. Tatal atau potongan-potongan kayu tersebut diikat menggunakan lempengan besi.

Sebagai umpak atau penyokong 4 soko guru di atas, menggunakan yoni, pahatan batu lambang kelamin perempuan peninggalan jaman Hindu. Benda purbakala semacam itu memang banyak terdapat di sana, terawat rapi di dalam maupun sekitar masjid.

IMG 20200502 153710 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (2): Soko Tatal Ala Masjid Demak di Masjid Tiban Jenar Kidul
Batu yoni digunakan untuk umpak atau penyangga 4 soko guru.

Pada 1980an, masyarakat juga menemukan sebuah batu prasasti di tembok atas bagian selatan masjid. Batu bertulis aksara Jawa Kuno ini difungsikan sebagai ganjal antara kayu atap dan tembok. Prasasti Sipater, demikian batu itu disebut, dibuat pada zaman Rake Watukura Dyah Balitung dan sekarang disimpan di Museum Tosan Aji Purworejo.

Keunikan lain Masjid Jenar Kidul, ada pada gapuranya yang dibuat dari batu bata dan hanya dilekatkan dengan tanah. Gapura yang sempat sedikit rusak karena ‘tersenggol’ truk ini, pernah direnovasi pada 1991.

Di sebelah kanan masjid juga terdapat bak atau jambangan air dari batu. Masyarakat setempat menamainya Kolah Al-Musyaffa yang berarti mengobati. Konon, air yang ada di jambangan tersebut berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

“Percaya atau tidak, atas ijin Allah banyak yang sembuh dari penyakitnya setelah meminum air dari jambangan ini,” ungkap Sutarno.

IMG 20200502 154529 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (2): Soko Tatal Ala Masjid Demak di Masjid Tiban Jenar Kidul
Batu hitam di salah satu sudut masjid yang dipercaya sebagai bagian Hajar Aswat.

Di dekat Kolah Al Musyaffa ada sebuah batu hitam. Batu ini dipercaya merupakan bagian dari batu hitam Hajar Aswad yang ada di Ka’bah, Makkah. Sunan Kalijaga membawanya dan meletakkan di tempat itu sebelum masjid dibangun.

Di bawah batu terdapat sebuah tulisan beraksara dan berbahasa Arab. Untuk melindunginya, di sekitar batu sekarang diplester dengan semen dan letaknya agak menjorok beberapa senti dari permukaan tanah. HK (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.