Sen. Jul 6th, 2020

Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (1)

2 min read
IMG 20200502 071539 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (1)

Amanat – Selain masjid-masjid berasitektur megah yang dibangun di era modern, Indonesia memiliki banyak masjid kuno dengan segala keunikannya. Masjid-masjid kuno tersebut menjadi saksi perkembangan Agama Islam di Nusantara.

Beberapa di antaranya bahkan menjadi saksi keberadaan kebudayaan dan agama yang lebih dulu ada sebelum Islam. Ini bisa dilihat di beberapa masjid kuno di Pulau Jawa, yang arsitektur tradisionalnya bernuansa Hindu.

Misalnya keberadaan atap tajuk, mustaka pada puncak atapnya, dan pendopo atau serambi di depan masjid. Ada pula yang penyangga tiang-tiangnya menggunakan batu yoni, lambang kelamin wanita dalam kebudayaan Hindu.

IMG 20200502 071325 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (1)
Masjid-masjid kuno di Purworejo banyak menyimpan perpaduan berbagai budaya dan kepercayaan.

Agama Islam yang masuk ke Nusantara dengan jalan damai, memungkinkan perpaduan-perpaduan itu terjadi. Meski pada awalnya proses selektif dilakukan, sebagian nilai-nilai lama masih tetap diterima.

Masjid-masjid itu kemudian menjadi cermin sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, lingkungan, serta adat-istiadat setempat. Bukan hanya arsitekturnya, tetapi juga menyangkut nilai-nilai mistis di dalamnya. Orang-orang percaya beberapa benda yang ada di masjid bernilai sakral dan bisa mendatangkan berkah.

Hampir semua daerah di Pulau Jawa memiliki masjid-masjid semacam itu, misalnya di Purworejo, Jawa-Tengah. Di tanah Bagelen ini, masjid-masjid kuno berarsitektur unik tersebar di beberapa desa. Masjid-masjid yang tercatat dalam daftar benda cagar budaya (BCB) itu antara lain Masjid Loano, Masjid Tiban Jenar Kidul, dan Masjid Santren.

Masjid Al Iman Loano, Pucuk Mustaka Penanda Bencana

IMG 20200502 071500 2 1024x654 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (1)
Pucuk Mustaka Al Iman yang bisa miring ke segala arah dipercaya sebagai penanda kejadian tertentu.

Masjid Al Iman Loano memiliki keunikan pada ujung atau pucuk mustakanya. Benda yang ada di puncak masjid itu bisa miring ke semua arah. Masyarakat setempat mempercayai, arah miringnya menjadi petunjuk terjadinya bencana.

“Sebelum terjadi tsunami di Aceh dulu, arah pucuk mustaka itu juga mengarah ke sana,” jelas Mustafa, salah satu pengurus masjid kepada amanat beberapa waktu lalu.

Meski telah berumur ratusan tahun, pucuk mustaka yang terbuat dari kayu jati itu sampai sekarang tidak keropos sama sekali. Padahal setiap hari terkena cuaca yang berganti-ganti, kepanasan dan kehujanan.

Pada mustakanya yang terbuat dari tanah liat terdapat gambar-gambar fauna seperti bulus, burung puyuh, dan naga. Menurut beberapa sumber, gambar-gambar itu adalah sebuah sengkalan memet (candra sengkala, simbol angka yang sudah dipelajari) yang berarti angka tahun 1486 M.

IMG 20200502 071418 1 - Melihat Keunikan Masjid-Masjid Kuno di Tanah Bagelen (1)
Aksara Jawa terpahat di salah satu kayu atap menjelaskan kapan Masjid Loano direnovasi.

Namun menurut R. Soekarsono, mantan Kepala Museum Tosan Aji Purworeno yang juga menjadi pengurus Masjid Al Iman Loano, masjid tersebut dibangun pada 1439 M. Ini merujuk pada ukiran angka tahun yang terdapat pada salah satu kusen jendela yang sekarang sudah tertutup cat.

Konon masjid yang berlokasi di Dusun Loano, Desa Loano, Kecamatan Loano, ini dibangun oleh Sunan Geseng atas perintah Sunan Kalijogo. Diperkirakan lokasi pertama saat didirikan berada sekitar 150 meter dari posisinya sekarang.

Gagak Handoko yang ditunjuk oleh Belanda menjadi patih di Loano, yang memindahkan masjid. Pemindahan dilakukan pada 1879 M, bertujuan agar masjid lebih dekat dengan jalan. Saat direlokasi, juga dibangun serambi. Bangunan aslinya sendiri adalah ruang tengah yang disangga oleh 4 soko guru dan 12 soko rowo. HK (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.