Sab. Mar 28th, 2020

Melawan Doktrin “Politik Rasional” Abal-Abal

2 min read
SAVE 20191208 122235 - Melawan Doktrin "Politik Rasional" Abal-Abal

Oleh: Nazaruddin*

SAVE 20191208 121420 - Melawan Doktrin "Politik Rasional" Abal-Abal

Pandangan bahwa politik yang rasional itu terjemahannya adalah sikap politik yang pragmatis, yang selalu membebek kepada penguasa, yang pendirian dan sikap politiknya bergantung ke arah mana angin bertiup, adalah sebuah pandangan yang sangat menyesatkan.

Sebagai kader partai kita sangat miris dengan penyesatan politik semacam itu. Apalagi hal itu ditambah lagi dengan “bumbu penyedap” bahwa penurunan jumlah kursi yang dialami PAN dalam pemilu legislatif kemarin adalah karena posisi yang diambil oleh PAN yang berseberangan dengan penguasa. Slogan dari doktrin ini adalah “jangan jualan surga dan neraka dalam politik”.

Doktrin politik yang menyesatkan ini hanya akan menghasilkan kader-kader partai yang pragmatis-oportunis. Kader-kader yang akan mencampakkan platform dan garis perjuangan partai. Kader-kader yang hanya akan menjadikan partai sebagai tunggangan kepentingan pribadi dan segera mencampakkannya ketika kepentingannya sudah terpenuhi.

Sikap semacam itu yang mendorong PAN menjadi partai politik yang seolah kehilangan makna, aktualitas dan relevansinya dalam kancah politik nasional. Justru di tengah situasi politik sebagaimana yang kita hadapi saat ini, kemampuan partai dalam mentransformasikan platform dan garis perjuangan partai serta kemudian mengartikulasikannya ke dalam sikap politik yang jelas dan tegas menjadi sangat esensial. Karena kemampuan itulah yang akan membentuk identitas partai. Sebaliknya, ketidakmampuannya akan menjadikan partai tergagap-gagap dan lamban dalam menanggapi segala perkembangan politik. Akan membuat partai mengalami krisis identitas.

Pada titik inilah para kader partai harus punya kesadaran tentang betapa mendesaknya PAN dipimpin oleh figur yang sungguh-sungguh memahami dan menghayati platform dan garis perjuangan partai serta memiliki kemampuan untuk mengartikulasikannya menjadi haluan dan sikap politik yang jelas, tegas, dan bermartabat.

Figur yang memimpin PAN harus bisa membawa PAN sebagai partai yang mampu menjalankan peran politiknya sebagai penjaga dan pengawal bagi tegaknya demokrasi dan menjadi bandul demi menjaga keseimbangan, check and balances kekuasaan dan pemerintahan, yg jika diperlukan tidak ragu mengambil sikap menjadi oposisi kekuasaan. PAN tidak perlu figur pemimpin yang mudah mengubah pernyataan “mendukung penguasa tanpa syarat” dan untuk mengucapkan kata oposisi saja lidahnya kelu.

Figur pemimpin PAN harus mampu menjadikan PAN sebagai partai yang jelas “jenis kelaminnya”, jelas “political standingnya”. Kesulitan PAN berkembang menjadi besar adalah karena ketidakjelasan posisi politik yang diambil selama ini. PAN selama ini dikenal sebagai partai yang ‘bukan-bukan’, bukan di barisan penguasa, juga bukan di barisan oposisi. Padahal partai kompetitor terdekat PAN sudah membuktikan kesuksesannya melalui sikap yang jelas dan konsisten sebagai oposisi.

Figur Ketua Umum mendatang juga harus mampu menghindarkan PAN menjadi partai yang pemimpinnya hanya mampu menyediakan karpet merah bagi agenda ideologis dan politis partai lain seperti dalam soal amandemen UUD.

*Ketua DPW PAN DI Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.