Ki Bagus Hadikusumo, perumus konsep membangun negara di atas dasar ajaran Islam

Amanat – Mata Kasman Singodimejo nampak berkaca-kaca. Batinnya bergulat pada perasan bersalah karena merasa memiliki andil besar dalam melunakkan hati Ki Bagus Hadikusumo yang berusaha keras mempertahankan ‘tujuh kata’ dalam rumusan dasar negara yang kala itu tengah dipersiapkan untuk menyongsong terbentuknya negara merdeka Indonesia.

Tujuh kata yang dimaksud adalah rumusan sila pertama Pancasila pada dokumen politik yang kemudian disebut sebagai Piagam Jakarta yang berbunyi; “Percaya kepada tuhan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”\

13.bmp  182x300 - Ki Bagus Hadikusumo, perumus konsep membangun negara di atas dasar ajaran Islam
Ki Bagoes Hadikoesoemo

Ketika itu, Kasman mengatakan kepada Ki Bagus bahwa Belanda sedang thingil-thingil dan thongol-thongol (sedang bersiap dari kejauhan) menyerbu dan merebut kembali Indonesia yang baru merdeka.

Karena itu logika yang diajukan oleh Kasman untuk meyakinkan Ki Bagus adalah alasan keamanan nasional, di mana kemerdekaan bangsa yang masih sangat muda sedang terancam. Selain itu, Kasman juga meyakinkan Ki Bagus bahwa UUD tersebut bersifat sementara, sebagaimana dikatakan Sukarno pada awal penyampaian pengantar setelah membuka rapat PPKI pada 18 Agustus siang harinya.

Kisah di seputar pergulatan perumusan dasar negara saat menyongsong kemerdekaan Indonesia itulah yang menjadi latar belakang cerita di film berjudul Toedjoeh Kata, karya Bayu Seto, sineas yang tergabung dalam Muhammadiyah Multimedia Kine Klub (MMKK).

Film ini menjadi menarik lantaran dibuat oleh anak-anak muda dan mengupas hal yang selama ini nyaris luput dari perhatian khalayak, bahwa sebenarnya banyak sekali pergulatan batin dari para ulama pejuang kala itu di balik kesediaan tokoh-tokoh Islam menerima penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

“Salah satu dasar pembuatan film ini untuk mengisi kurangnya penokohan pejuang Islam dalam film-film yang dihasilkan oleh anak-anak muda. Tujuan idealnya adalah untuk melestarikan keteladanan pada para ulama pejuang di era kolonial,” ujar Bayu Seto, sutradara Toedjoeh Kata pada sesi diskusi yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surakata, beberapa waktu lalu.

Tinggalkan Balasan