Kajian Ramadhan PWM Jatim, Ketua PP Muhammadiyah: Politik Itu Kerja Kebajikan

Amanat.news – Kondisi politik Indonesia saat ini dipersepsikan tidak begitu baik. Hal ini salah satunya dipicu karena maraknya praktik-praktik politik pragmatime dan politik uang.

“Kebetulan dalam bahasa Indonesia kata politik itu konotasinya negatif, berbeda dengan bahasa arab yang mengartikan politik sebagai al-siyasah yang berarti mengurus, melatih mendidik dan mengendalikan,” kata Hajriyanto. Y. Thohari,  Ketua PP Muhammadiyah.

Hajriyamyo menyampaikan hal tersebut di acara kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (Jatim) 1439 H yang bertempat di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 19 – 20 Mei 2018, dengan tema utama ‘Politik Nilai untuk Indonesia Berkemajuan’.

Menurut Hajri, dalam politik itu semuanya mungkin dan tidak ada yang tidak mungkin.

“Namun, janganlah pernah bermain diatas ketidakmungkinan. Memang Allah bisa Maha kuasa, dengan kun fa yaa kun tetapi intervensi Tuhan tidak dilakukan secara semena-mena. Tetap harus mengukur kemampuan,” jelas Hajri.

Hajri mengatakan pandangan politik yang sering dikaitkan dengan hal negatif ini perlu diluruskan.

“Tema tentang politik nilai ini penting karena kita ingin menjadikan politik itu proporsional. Politik itu mau didefinisikan dari mana saja ujung-ujungnya ya kekuasaan, persepsi masyarakat tentang kekuasaan juga berbeda-beda,” imbuhnya.

Ia melanjutkan kalau memang tidak yakin dapat mengatur daerah dengan sebaik-baiknya lebih baik jangan mengambil peran untuk berkuasa. “Menurut pandangan Islam, orang boleh berkuasa tapi kemudian diajukan pertanyaan, mengapa?” tegasnya.

Hajri juga menegaskan politik itu panggilan yang merupakan kerja kebajikan. “Maka,  kita harus melakukan substansiasi nilai keislaman, kemuhammadiyahan, keadilan, kepentingan bersama, yang itu merupakan kerja kebajikan,” tandas Hajri.

Lebih lanjut Hajriyanto menandaskan bahwa seharusnya ada persepsi yang positif tentang politik, dengan memandang secara proporsional, tidak memandang secara negatif tetapi juga tidak berlebih-lebihan.

“Orang ini berpolitik berarti terjun di bidang kehidupan yang keras yang kadang-kadang kejam, yang dia mengorbankan pribadinya, keluarganya, waktunya, energinya untuk berjuang memikirkan bangsanya, untuk berjuang memikirkan ummatnya, itu jarang sekali,” tutur Hajriyanto.

Ia melanjutkan, meskipun ujung-ujungnya untuk kekuasaan, pada dasarnya politik itu adalah kerja kebajikan. “Kalau kita bisa melatihnya secara baik, menguasainya, mengelolanya dan kemudian bisa mengendalikannya, kekuasaan itu bisa memberikan banyak keindahan,” tandasnya.

Menurut pandangan Islam, masih menurut Hajriyanto, orang boleh berkuasa, tetapi harus ditanya untuk apa kekuasaan tersebut, itulah salah satu politik nilai yang memandang politik sebagai panggilan, kerja kebajikan.

“Karena kerja kebajikan maka jangan mengukur keberhasilan politik seseorang itu dengan dia mendapatkan kekuasaan atau tidak, ini nampak seperti idealis, tetapi politik nilai memang seperti itu,” tandasnya.

Untuk itu, lanjut Hajriyanto, nilai-nilai keislaman bahkan ke-Muhammadiyahan sangat relevan dimasukkan ke dalam politik nilai seperti kejujuran, amanah, keadilan, meletakkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan kelompoknya.

“Itu adalah nilai-nilai kebajikan yang perlu disuntikkan kepada politik, agar politik di Indonesia ini mengalami pemulihan (recovery)” pungkasnya.//cw

Tinggalkan Balasan