Di Pilgub jatim, Botoh bisa menunggangi keadaan dan memperkeruhnya

Amanat Pemilu selalu menjadi momentum bangkitnya kekuatan para botoh. Meski seringkali luput dari sorotan, bukan berarti golongan “penjudi politik” itu tidak ada.

Ketua Komite Pemenangan Pemilu Wilayah (KPPW) PAN Jatim Achmad Rubaie mengungkapkan bahwa botoh inilah yang sebenarnya bermain money politic. Mereka menggunakan kekuatan uang untuk mempengaruhi suara dan mengalahkan kandidat tertentu.

“Pasti ada botoh itu di Jatim. Mereka bisa mengalahkan calon dengan kekuatan uang. Ini yang bahaya, semestinya calon bisa menang dan akhirnya kalah karena botoh ini,” katanya usai menjadi pembicaraa di Seminar Politik yang diadakan The Initiative Institute di Hotel Sahid Surabaya pada Kamis (16/11).

Sebanarnya peran botoh inilah, lanjut Rubaie, yang lebih dominan memainkan praktik money politic. “Jadi media dan masyarakat sebaiknya lebih bijak dalam memandang persoalan money politic, sebab selama ini yang dituduh bermain selalu kandidat dan partai politik saja. Botoh itulah yang sebenarnya bermain,” tandas mantan anggota DPRD Jatim dan DPR RI ini.

Botoh juga bisa bergerak di luar mesin politik. Di luar sistem kampanye yang dibangun oleh tim pemenangan, botoh bekerja sendiri untuk membangun opini publik atau memobilisasi massa supaya memilih calon pemimpin yang sudah dipasangi taruhan.

Meski mengintervensi politik, botoh yang cuma bersyahwat pada uang dan tak segan menggunakan taktik yang kontraproduktif dengan prinsip-prinsip-prinsip dan nilai-nilai demokrasi.

“Sebagai pihak ketiga, botoh justru lebih leluasa mendayagunakan trik-intrik kotor. Botoh menunggangi keadaan dan memperkeruhnya,” kata Rubaie.

Walhasil, kampanye hitam, fitnah, money politic, dan sejenis kecurangan lain itu bukan ulah tim sukses belaka, tapi juga onar para penjudi politik (botoh). CW

Tinggalkan Balasan