Kam. Des 3rd, 2020

Biografi Muhammad Najikh yang Belum Terwujud

10 min read
IMG 20200418 WA0030 - Biografi Muhammad Najikh yang Belum Terwujud

Oleh Henri Nurcahyo

Amanat.News – Beberapa tahun yang lalu saya diajak Mas DIW menulis buku biografi Moh. Nadjikh. Sayangnya belum ada kata sepakat sehingga rencana itu tidak berlanjut, sehingga belum terwujud..
Kemaren (17/4/2020) pengusaha perikanan yang sukses itu meninggal dunia. Dan saya teringat artikel saya sebagai bahan kasar buku biografi tersebut, untuk mengenang beliau Biografi singkat Saya bagikan disini, teriring doa semoga Pak Nadjikh khusnul khotimah.

IMG 20200418 WA0031 - Biografi Muhammad Najikh yang Belum Terwujud
Henri Nurcahyo penulis & seniman

M. NADJIKH, NELAYAN GO INTERNASIONAL
Lahir tanggal 8 Juni 1962, Mohammad Nadjikh adalah anak sulung dari 8 bersaudara dari pasangan Munarjo dan Asnah. Ayahnya adalah seorang pedagang ikan yang tergolong berhasil untuk ukuran kampung pada masa jayanya. Nadjikh akhirnya berhasil menamatkan SMA dan melanjutkan kuliah melalui jalur tanpa tes (PMDK/PBUD) di Jurusan Teknologi Industri Pertanian angkatan 17 di Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dalam membiayai kuliah dan hidupnya dia bekerja sebagai guru di SMA, menerima jasa les privat, membantu penelitian dosen sekaligus pula menjadi asisten dosen. Ia tidak pernah minder dengan teman-temannya yang notabene dari kalangan keluarga menengah atas.

IMG 20200418 WA0032 - Biografi Muhammad Najikh yang Belum Terwujud
M Najikh bersama Zulkifli Hasan Ketua Umum DPP PAN saat berkunjung ke PT KML

Namun pada saat kuliah tahun ketiga ayahnya meninggal dunia dan kondisi ekonomi keluarga menurun, padahal saat itu bertepatan dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Terpaksa ia harus meminta bantuan uang kepada keluarganya sebagai tambahan untuk membayar uang KKN. Akhirnya ia dapat menyelesaikan perkuliahannya di IPB dengan baik dan mendapat nilai terbaik.

Setelah lulus dari IPB pada 1984, dia bekerja sebagai dosen di almamaternya yang dijalaninya selama setengah tahun saja karena tidak merasa cocok. Setelah berhenti menjadi dosen, lelaki yang saat itu berusia 24 tahun ini bekerja di salah satu BUMN PT Karya Nusantara, bidang Processing Coklat di Surabaya sebagai Manager Produksi. Di sana dia banyak memberikan kontribusi sehingga perusahaan mampu mencapai keuntungan yang berlipat ganda. Dalam jangka waktu satu setengah tahun dia diangkat menjadi Branch Manager (Pimpinan Cabang). Tetapi karena terjadi dualisme kepemimpinan akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri.

IMG 20200418 WA0033 - Biografi Muhammad Najikh yang Belum Terwujud
Zulkifli Hasan Ketua Umum PAN sangat kagum pada sosok M Najikh

Kemudian dia dilirik oleh Cold Storage Surabaya (ICS) yang bergerak dalam bidang pengolahan udang untuk pasar ekspor, yang nantinya banyak memberi pengalaman kepadanya dalam menjalankan bisnis di kemudian hari. Kali ini dia langsung menjabat sebagai Bussiness Development Manager (BDM). Di sana dia diberi tugas khusus agar perusahaan tidak hanya tergantung pada udang saja, melainkan harus ada diversifikasi. Karena kemampuan yang dimilikinya dia mampu menjawab amanat yang ditugaskan kepadanya.

Namun setelah sekian lama bekerja di sana dan sudah banyak prestasi yang disumbangkan kepada perusahaan dia merasa tidak mendapat reward yang sepadan. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari perusahaan pengolahan udang di Surabaya tersebut.

Pada bulan Agustus tahun 1993 dia mendirikan PT. Madura Prima Instan di Sumenep, Madura, dengan produk utama berupa teri nasi dan kerang. Hingga selang beberapa waktu ada rekan yang mengajaknya membeli sebuah lahan di kawasan Tuban untuk dijadikan pabrik teri. Padahal, waktu itu Najikh hanya memiliki dana sebesar Rp 15 (lima belas) juta yang direncanakan untuk renovasi rumahnya. Tetapi Rp 12 (dua belas) juta malah diambilnya untuk membeli lahan di desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, kabupaten Tuban. Di situlah Nadjikh membangun sebuah unit pengolahan ikan sederhana berdinding bambu sebagai tempat mengolah teri nasi.

Sejak tanggal 24 November 1994 itulah nama PT. Madura Prima Instan diubah menjadi PT. Kelola Mina Laut (KML) dan juga membuka cabang di Situbondo. Dan setelah mengalami perpindahan beberapa kali akhirnya PT KML berkantor pusat di Kawasan Industri Gresik (KIG), Jl. KIG Raya Selatan Kav. C-5, Gresik, Jawa Timur.

Ketika masa awal merintis usahanya, Nadjikh menggunakan modal yang berasal dari urunan dengan temannya sebesar 20 jutaan, meminjam uang kepada pamannya dan koleganya dari Jepang, masing-masing sebesar 160 dan US$50 (atau sekitar 100 juta pada masa itu).

Uang itu digunakan untuk membeli tanah, alat-alat produksi, dan membangun gedung pabriknya, dan diresmikan bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1994. Ketika baru menyelesaikan membangun pabrik kemudian ia mengundang para pemasok ikan untuk datang ke pabrik barunya, namun yang hadir hanya tiga orang saja, dan di antara mereka ada yang mengatakan bahwa pabriknya seperti “Kandang Kuda Irak”. Cemoohan itu justru melejitkan semangatnya untuk terus berpacu agar menjadi lebih baik.

Saat awal-awal berdiri, KML Food menggunakan panas matahari untuk mengeringkan ikan teri basah yang diperoleh dari nelayan. Maklum, investasi untuk membangun pabrik sangat mahal. Meski begitu di pasar ekspor kualitas produknya tidak kalah dari Jepang yang dikeringkan di pabrik.

Pengiriman 1 (satu) kontainer dengan standar internasional secara rutin merupakan tantangan yang harus diselesaikan untuk dapat eksis. Karena keterbatasan sarana produksi Nadjikh terpaksa melakukan processing di tempat orang lain. Kalau pabriknya baik, katanya, baru bisa bersaing, untung dan jalan.

“Pembeli yang besar nantinya akan banyak menuntut. Kita jadi ditantang terus, kreativitas muncul. Ini yang membuat bisnis cepat berkembang. Dulu, saya punya pabrik berkapasitas 10 ton perhari untuk ikan teri, kakap merah, dan udang. Namun, lebih sering terpenuhi hanya separuhnya,” katanya.

Toh dia tak patah semangat dan justru memutuskan membangun pabrik berkapasitas 40 ton perhari agar pembeli percaya. Dia melakukan lompatan kuantum dengan memanfaaatkan booming udang vannamie, yakni spesies yang merupakan penemuan baru seperti ayam ras.

Kuncinya adalah mengetahui ilmunya dan meyakinkan pembeli potensial dari Amerika Serikat, Uni Eropa dan juga Jepang agar mereka percaya. Standar kualitas produk dijaga lewat pengolahan yang bersih sehingga tampilannya cemerlang, penyimpanan bagus agar tidak berubah warna dan bau.

Pengalaman pahit tentu saja tidak terhindarkan. Selama 3 (tiga) bulan perusahaan mengalami kerugian. Dia tidak tahu lagi harus mencari pinjaman kemana untuk mengatasinya. Kemudian muncullah gagasan untuk menawarkan kepada rekannya asal Jepang agar produk teri nasinya dapat diekspor ke Jepang.

Nadjikh berprinsip, untuk menjadi besar, harus menggandeng partner yang besar. Oleh karena itu, ia menggandeng pembeli dari Amerika Serikat, yang sebenarnya tidak biasa mengonsumsi ikan tropis. Namun, ia berhasil meyakinkan mereka untuk mencicipi ikan kakap merah yang hanya ditemukan di perairan Indonesia.

“Saya dulu kalau gak nekat, ya gak kayak gini,” ujar Nadjikh.
“Bagaimana saya bisa mendevelop bisnis menjadi terkenal? Bangun koneksi, jaringan, meyakinkan pasar, ini tantangannya. Saya juga pionir ekspor ikan lele ke Eropa. Kami harus bisa bersaing dan mensuplai secara kontinyu sejak tahun 2002,” kata Nadjikh mantap.

Tetapi arek Gresik ini tak pernah gentar. Pasar yang dibangunnya bisa menang. Produk ikan olahannya juga menembus pasar Amerika, masuk ke Walmart dan produk daging rajungannya menjadi langganan Presiden Barrack Obama. Bahkan, pada tahun 2015, produknya sudah masuk ke Gedung Putih.

Berpihak pada Nelayan
Lahir sebagai anak nelayan yang go international tidak menjadikan Nadjikh lupa diri. Justru apa yang dilakukan selama ini adalah untuk memberdayakan kaum nelayan yang masih dipandang sebagai golongan masyarakat lemah dan dilemahkan. Nelayan itu identik dengan kemiskinan abadi. Dan Nadjikh merasa bahwa dia memikul tanggungjawab moral untuk mengentas kemiskinan tersebut.
Salah satu kelemahan yang mendera nelayan dan pelaku bisnis perikanan adalah, ikan-ikan yang dengan susah payah dijaring dari lautan luas itu mudah sekali rusak atau cepat membusuk. Jalan pintas yang selama ini dilakukan kalangan nelayan adalah dengan memergunakan boraks, formalin atau bahan pengawet lainnya sehingga lalat pun tidak mau hinggap merubungnya. Ikan-ikan yang tidak habis terjual, termasuk yang sengaja diproduksi sebagai ikan asin, terpaksa diberikan formalin agar bisa lebih awet dan terasa renyah. Itulah buah simalakama yang masih dihadapi pelaku bisnis perikanan, khususnya skala kecil.

Solusinya adalah bagaimana ikan-ikan hasil tangkapan itu harus segera dikelola dengan baik agar tidak rusak. Itulah sebabnya KML Food membangun miniplant di dekat daerah penangkapan sehingga nelayan yang datang langsung menjual produk di tempat. Dengan mendekat ke sumber bahan baku, sekaligus membentuk jaringan penguasaan bahan baku.

Adalah sebuah fakta bahwa pasokan ikan banyak tersedia di perairan Indonesia. Lautan Indonesia adalah sorga yang terhampar luas. Bukan lautan, hanya kolam susu, kata Koes Plus. Tinggal bagaimana nelayan Indonesia mendapatkan sumber daya laut tersebut sebanyak-banyaknya. Apabila bahan baku sudah ada, maka tugas berikutnya adalah mengelola sebaik-baiknya.

Untuk pengadaan bahan baku produksinya itu KML disokong oleh 600 UKM (pengepul) dan 250.000 jaringan nelayan di seluruh Indonesia. Beberapa produk laut yang dipasok para nelayan tersebut antara lain berupa ikan, rajungan, udang, cumi-cumi, gurita dan lainnya. Bukan hanya nelayan saja, melainkan juga isteri-isteri nelayan. Sebanyak 2.600 – 2.800 isteri nelayan dilibatkan untuk pengupasan dan pengolahan rajungan. Kemitraan ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan kualitas produksi KML Food.

Sebagai pengusaha, Nadjikh tidak ingin dicap sebagai pedagang yang cenderung hanya mengejar keuntungan semata. Dia tidak mau berlaku membeli dengan harga rendah dari nelayan dan menjual dengan harga mahal ketika tidak ada stok di nelayan. Dia ingin agar PT KML menjadi industri yang memikirkan potensi dan peluang di masa yang akan datang. Logikanya sederhana saja, manakala kesejahteraan nelayan tidak diperhatikan maka akan banyak nelayan yang nantinya beralih profesi.

Kalau para nelayan sudah tidak mau melaut lagi, yang susah adalah pengusaha, pemerintah dan juga masyarakat secara keseluruhan. “Makanya kita gandeng nelayan dan kita bisa sama-sama,” tegasnya.

Selama lebih dari 25 (dua puluh lima) tahun Nadjikh menjalankan bisnis perikanan, dia menjalankan model kemitraan yang disebut grass root di perusahaannya, yang melibatkan tiga pihak, yaitu perusahaan, nelayan dan pemasok (supplier). Model bisnis seperti ini dijalankan atas pertimbangan untuk menjamin kelangsungan hidup tiga pihak tersebut dan sekaligus memutus rantai kemiskinan di kalangan nelayan.

Menurut pendiri PT KML Group ini, diperlukan visi yang sama antara perusahaan, nelayan dan pemasok. Ketiganya harus melakukan pembagian tugas, saling mengerti keinginan pihak lain dan menjalankan tugas masing-masing secara bersama. Untuk mencapai hal itu beberapa strategi yang dilakukan antara lain;

Pertama, pihaknya harus transparan dalam menetapkan harga beli ikan hasil panen nelayan. Masalah yang selama ini muncul adalah ketika hasil panen melimpah, nelayan mendapat tekanan harga dari para tengkulak. Transparansi ini sangat penting untuk keadilan nelayan yang pada akhirnya diharapkan akan menjamin pasokan secara berkelanjutan.

“Kami harus membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh nelayan tersebut selama ini. Jika harga naik, kami bilang harga naik, kendati hasil panen melimpah,” tuturnya.

Kedua, pihaknya juga harus membantu dalam hal pembiayaan nelayan, yaitu pembayaran yang diberikan dengan cepat dengan tingkat harga yang stabil sesuai dengan harga pasar lokal dan global.
Ketiga, membeli dalam kuantitas berapapun dan dimanapun asal sesuai dengan standar kualitas yang diharapkan. Otomatis pasokan bahan baku di perusahaan tercukupi secara kontinyu.

Keempat, membina kualitas untuk meminimalisasi risiko. Kalau terjadi penurunan kualitas, harga beli ikan turun sehingga perusahaan harus membina kualitas agar meminimalisasi risiko jika terjadi penurunan kualitas yang menyebabkan harga beli ikan turun.

Dengan menjalankan strategi tersebut maka masalah-masalah yang dihadapi nelayan di bidang finansial, serta volume hasil tangkapan yang melimpah dapat teratasi. Tersedianya bahan baku dengan kualitas yang baik dan risiko yang minimal, pada akhirnya dapat menjamin kelangsungan produksi.

Nadjikh menilai, program inklusi bisnis yang dicanangkan pemerintah sangat bagus. Namun pemerintah perlu membuat model kemitraan atau membuat program-program yang sesuai untuk masing-masing komoditi. Sebab, satu paket tidak bisa dijalankan untuk semua komoditas. Pemerintah juga diharapkan mencari model bisnis yang berkesinambungan (sustained), seperti yang dilakukan pebisnis yang telah sukses.

Nadjikh alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sudah sejak awal bertekad untuk membantu nelayan agar dapat hidup lebih sejahtera dan juga dapat lebih mengembangkan masyarakat nelayan dan perikanan Indonesia pada umumnya. Dan melalui PT Kelola Mina Laut (KML) dapat terus diupayakan memberdayakan ekonomi nelayan melalui bisnis model kemitraan.

Penghargaan dan Jabatan
Pengakuan dan reward atas perusahaan ini setidaknya dinyatakan dalam sejumlah penghargaan yang diterimanya. Pada tanggal 16 November 2017, KML Food menjadi salah satu penerima anugerah emas pada SNI Award 2017 katagori Perusahaan Menengah Barang Sektor Pangan, Pertanian dan Kesehatan (PMB PPK) yang diberikan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN). Penghargaan ini diterima KML Food karena dinilai paling baik dan konsisten menerapkan SNI.

“SNI Award merupakan apresiasi tertinggi dari Pemerintah kepada perusahaan/organisasi yang konsisten dan komitmen dalam menerapkan SNI serta mempunyai dikerja yang sangat baik,” ujar Kepala BSN Bambang Prasetya saat memberikan sambutan dalam acara yang diselenggarakan di studio Metro TV, Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta.

Pada tahun yang sama, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Susi Pudjiastuti, juga menganugerahkan penghargaan kepada perusahaan yang berpusat di Gresik ini sebagai UPI Skala Besar dengan Kinerja Baik serta telah menerapkan mutu dan keamanan hasil perikanan secara konsisten. Penghargaan ini diberikan pada Malam Penganugerahan dan Pagelaran Budaya Bahari 2017 pada tanggal 17 Desember 2017 di Silang Monas Jakarta.

Selang sehari dari peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebuah penghargaan kembali diterima oleh KML Food dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kali ini yang berhak menerimanya adalah Ir. Mohammad Nadjikh, Presdir KML Food, yang dinyatakan sebagai Tokoh Inspirator Inklusi Keuangan 2018 melalui pengembangan BUMDes da LKM Syariah.

Penghargaan prestisius ini langsung diserahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo, pada hari Kamis, 18 Agustus 2018. KML Food, khususnya Ir. Mohammad Nadjikh, dinilai oleh OJK karena memiliki gagasan yang inovatif dan kontribusi dalam perluasan akses keuangan, terutama melalui sektor perikanan dan kepeduliannya atas terwujudnya pemberdayaan ekonomi, terutama terhadap masyarakat mikro kecil.

Selain 3 (tiga) penghargaan besar tersebut di atas PT KML Food sebelumnya juga telah mengantongi sejumlah sertifikat yang menjamin mutu, keamanan pangan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, seperti Good Manufacturing Practise (GMP) dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HAACCP) yaitu sistem yang menjamin keamanan pangan saat produksi. Sertifikat Pengawasan Keamanan Makanan Terpadu ISO 22000:2015; British Retail Concorcium (BRC) Global Standard yaitu sertifikat yang menjamin standar produk budidaya perairan; sertifikat C-TPAT (Customs-Trade Partnership Against Terorisme) yatu sistem yang menjamin keamanan rantai perdagangan internasional dari tindakan kejahatan. Dan tentu saja Sertifikat halal dan nomor MD dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Penghargaan lainnya adalah:
• Indonesian Export Award “Primaniyarta Award” dari Presiden RI (2001)
• Pengusaha Berprestasi dari Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (2001)
• Pelopor Industri Pengolahan Hasil Perikanan dari Menteri Kelautan dan Perikanan (2002)
• International Award for Best Performance 2002 dari Council of International Award United Kingdom
• Eksportir Jatim Berprestasi Terbaik dari Disperindag Jatim (2002)
• Finalis Entrepreneur of The Year 2003 dari Ernst and Young
• Sepuluh Eksekutif 2003 dari Lions Club Surabaya Patria Jawa Pos Group
• Primaniyarta Award 2005 kategori Eksportir Berkinerja

Meski demikian, toh Nadjikh masih meluangkan waktunya untuk terlibat dalam keorganisasian seperti;
• Executive Director Asosiasi Pengusaha Coldstorage Indonesia (APCI) Jatim
• Ketua Komite Tetap Konseling Investasi pada KADIN Jatim
• Ketua II Komisi Udang Indonesia
• Anggota Dewan Penasihat Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI)
• Anggota Dewan Pertimbangan Daerah Himpunan Alumni IPB Jatim. (hnr)

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.