Belajar dari Totok Daryanto, Pindah Dapil Popularitas 0% Bisa Sukses Raih Kursi DPR RI

Amanat.news – Politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) H Totok Daryanto layak dijadikan role model bagi caleg-caleg pemula maupun politisi senior yang saat ini tengah menyusun strategi untuk berkontestasi dalam pileg 2019.

Meski pada 2014 silam berstatus incumbent legislatif DPR RI yang maju lagi, namun pada pileg 2014 tersebut, Totok Daryanto (TD) harus maju dari daerah pemilihan (Dapil) yang berbeda.

Periode sebelumnya TD maju dari Dapil Yogyakarta, namun pada pemilu periode 2014, ia harus maju dari Dapil V Jawa Timur (Malang Raya).

Tentu sejumlah tantangan harus dihadapi di tempat baru itu, mulai dari kompetitor incumbent hingga kompetitor yang sudah populer di daerah pemilihan baru ini.

IMG 4490 - Belajar dari Totok Daryanto, Pindah Dapil Popularitas 0% Bisa Sukses Raih Kursi DPR RISebagai caleg pendatang, sudah pasti Totok masih belum dikenal di dapil barunya. Berdasarkan survey PusDeHam (April 2013), popularitas TD pada konstituen di Malang Raya 0% ! Alias tidak ada yang mengenal Totok Daryanto sama sekali, meski ia berstatus politisi senior yang sebelumnya juga menjadi anggota DPR RI.

Itu masih ditambah elektabilitas PAN di Malang Raya yang sangat rendah, setidaknya jika dibandingkan dengan partai lainnya.

Lalu apa sebenarnya kunci sukses TD dalam menaklukkan hambatan tersebut?

Alfianida Rahmahwati, salah seorang tim TD mengungkapkan jika TD menjalankan political public relations yakni melakukan media management. Yakni memanfaatkan media massa untuk memperlancar strategi pemenangan.

“Yang pertama kali dilakukan adalah melakukan upaya-upaya untuk menjalin relasi dengan pihak media di Malang Raya. Kami melakukan media visit dan gathering dengan media, sambil melakukan diskusi-diskusi agar kami mendapatkan gambaran tentang agenda masing-masing media dan menyelaraskan dengan sudut pandang yang akan kita bangun,” terang Via, sapaan Alfianida Rahmawati.

News value, lanjut Via, tetap menjadi perhatian tim agar setiap agenda yang dibuat selalu memiliki poin untuk dimuat di media.

“Jadi kalau berita kita tidak produktif atau searah dengan agenda media, ya jangan berharap itu dimuat dan menjadi pesan yang hot untuk khalayak. Nah, itulah fungsi monitoring media, untuk mengikuti kecenderungan isu yang dibawa oleh media,” ujar Via.

Blusukan mengunjungi masyarakat juga menjadi poin penting yang berhasil mendongkrak popularitas TD di Malang.

Untuk menjalankan blusukan ini, memang harus melakukan analisis yang disejajarkan dengan target yang ingin dicapai. TD memilih daerah-daerah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian oleh pemerintah, dan mempelajari isu apa yang tengah menjadi perbincangan masyarakat setempat.

Kala itu TD berkunjung ke sejumlah desa yang jauh dari pusat kota dengan medan yang tidak mudah. Disana, Totok melakukan audiensi dengan warga sekitar seperti petani, nelayan, dan sebagainya.

Dalam prosesnya tentu melibatkan peran media massa untuk menciptakan efek masif. Tim TD memperhatikan dengan cermat komunikasi politik yang diharapkan bisa menghasilkan efek seperti menjadi lebih dramatis, menarik bagi penonton media massa, serta menghasilkan banyak simbol yang diharapkan dapat mempengaruhi persepsi audiens.

“Ada banyak simbol menarik yang ditransferkan seperti kepedulian, kerja keras, dan rela turun kebawah untuk melihat langsung kondisi di masyarakat.  Tak sedikit warga yang meminta foto bersama TD, sebab telah muncul persepsi bahwa TD adalah pemimpin yang sangat peduli dengan rakyatnya. Karena rela datang ketempat mereka meskipun sangat jauh,” papar Via.

Jelas sekali, dari gambaran kerja-kerja strategis yang dilakukan oleh Totok Daryanto dan timnya dalam rangka merebut hati pemilih dibutuhkan keseriusan untuk menjalani proses dengan gigih.

“Sangat bahaya jika caleg berada dalam zona nyaman, ia tak akan sensitif terhadap pola-pola kreatif untuk kerja-kerja pemenangan,” pungkas Via.//cw

 

Tinggalkan Balasan