Bambu runcing Pertempuran 10 November 1945 ‘disepuh’ oleh kyai-kyai dari Parakan

Amanat – Para pejuang yang ikut melawan tentara Sekutu dalam peristiwa yang kemudian dikenal dengan Pertempuran 10 November 1945, banyak yang hanya bersenjata bambu runcing.

Konon, bambu runcing yang mereka gunakan bukan bambu biasa, melainkan bambu yang sudah diberi kesaktian.  Saat itu, Kota Parakan di Temanggung, Jawa-Tengah, yang paling dikenal sebagai tempat ‘menyepuh’ bambu runcing dan senjata tajam lainnya.

Penyepuhan atau pemberian mantera lewat doa-doa pada bambu runcing tersebut dilakukan oleh para kyai. Antara lain Kyai Raden Sumomihardho, Kyai Subchi, KH. Nawawi, KH. Abu Umar, Kyai Ali, dan KH. Abdurrahman.

Pada awalnya, penyepuhan yang diorganisir oleh Barisan Muslimin Temanggung (BMT) itu hanya dimaksudkan untuk memberi bekal semangat perjuangan kepada masyarakat sekitar Parakan. Namun karena kebutuhan perjuangan yang sama di daerah lain, penyepuhan itu berkembang semakin luas.

Menurut buku “Cuplikan Sejarah Bambu Runcing Parakan” yang disusun KH. Muhaiminan Gunardho, kegiatan BMT tersebut telah mengundang banyak pejuang kemerdekaan datang ke Parakan.

Bahkan suatu saat terdengar kabar bahwa Hadratussyech KH. Hasyim Asy’ari akan berkunjung ke Parakan. Sang Kyai rencananya akan memberi wejangan kepada BMT.

Mendengar itu, untuk menghormati KH. Hasyim Asy’ari, pengurus BMT dan para Ulama sepakat untuk berkunjung terlebih dulu ke Tebuireng. Mereka yang sowan ke Tebuireng adalah KH. Subchi, KH. Nawawi, Kyai Ali dan Kyai. Syahid Baydhowi.

Di sana, oleh KH. Hasyim Asy’ari, mereka ternyata diminta untuk menyepuh bambu runcing juga, dengan tata cara seperti di Parakan. Bambu runcing dari Jombang yang sudah disepuh oleh kyai-kyai Parakan ini lah yang kemudian dibawa oleh para pejuang ke medan pertempuran di Surabaya.

Saat ini, jejak penyepuhan bambu runcing di atas masih bisa ditemui di Parakan. Tepatnya di Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing yang didirikan oleh almarhum KH. R. Muhaiminan Gunardo, putra Kyai Raden Sumomihardho.

Di pesantren ini penyepuhan senjata terus berlanjut sampai sekarang. Dilakukan saat acara mujahadah kubro, setiap malam Jum’at terakhir Bulan Muharram. HK

Tinggalkan Balasan