AM Fatwa, Sang Pemberani (1): dipenjara orde lama dihajar orde baru

Amanat – Kepergian AM Fatwa meninggalkan cerita inspiratif yang luar biasa. Sejak muda ia sudah demikian kuat memegang prinsip idealisme. Tak pernah surut oleh teror kekerasan, disiksa di tahanan, hingga dipenjara menjadi risiko yang harus dijalani.

Seperti itulah jalan hidup yang dilakoni Andi Mappetahang Fatwa atau AM Fatwa semasa muda di zaman Orde Lama hingga jelang Orde Baru tumbang.

Saat menjadi mahasiswa di IAIN Jakarta pada tahun 1957, Fatwa aktif dan menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat dan pengurus PB HMI. Saat itu rezim Orde Lama di bawah Presiden Soekarno sedang kuat-kuatnya.

Persinggungan pertamanya dengan aparat terjadi ketika dia menjadi anggota Dewan Mahasiswa Jakarta pada tahun 1963. Saat itu terjadi demonstrasi di kampusnya yang mengkritik kebijakan rektor IAIN dan Menteri Agama. Tapi, oleh pemerintah, demonstrasi itu dianggap merongrong kewibawaan pemimpin besar revolusi, dianggap mengganggu persiapan Ganefo dan Indonesia yang sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.

“Saya sebenarnya pengagum Bung Karno, tapi akhirnya itu saya ada sikap kritis. Ya kebetulan saya dulu sering berkunjung ke keduataan Malaysia. Ada alamat dan nomor telepon kedutaan Malaysia di kantor saya, nah itulah seperti menjadi serius. Jadi itukan Bung Karno pemimpin besar revolusi yang kalau diusik sedikit, seolah merongrong. Lalu kaitan dengan Malaysia itu kan kurang baik tuh, sehingga dicurigai macam-macam,” cerita Fatwa di hadapan para jurnalis awal tahun lalu.

Fatwa mengatakan, sebenarnya, demonstrasi mahasiswa yang dia ikuti saat itu hanya mengkritik kebijakan Menteri Agama. Namun, oleh aparat, demo itu dinilai merongrong kewibawaan Bung Karno. Fatwa juga dianggap sebagai penghubung tokoh-tokoh yang suka mengkritik Bung Karno. Dia akhirnya ditahan dengan tuduhan menggerakkan demo mahasiswa dan dijerat dengan Undang-undang 11/1963 atau yang dikenal dengan UU Subversi.

Diciduk oleh pihak intelijen, Fatwa kemudian dibawa ke Markas Besar Angkatan Kepolisian (Mabak) yang kini gedungnya menjadi Polda Metro Jaya. Kemudian dia dipindahkan ke Sukabumi, Jawa Barat. “Saya ingat, yang menangkap saya Komisaris Polisi FX Soetarto yang di era Orde Baru ditahan bersama-sama saya di Cipinang,” ujarnya kala itu.//cw-bbs

Tinggalkan Balasan