AM Fatwa dalam empati dan kesan sejumlah tokoh

Amanat – Meninggalnya tokoh nasional dan politikus senior Andi Mappetahang Fatwa, mengundang empati berbagai kalangan. Tak sedikit yang merasa kehilangan atas kepergian tokoh yang dikenal sebagai pejuang pemberani dan sosok humanis tersebut.

“Karena beliau ini tipe orang yang humanistik, yang senang berkawan. Sehingga dia sangat memegang betul tali silaturahim. Kalau ada yang meninggal, di mana pun, pasti ada Pak AM FAtwa. Ia senang berkawan, membantu orang, dan murah senyum,” kata Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, seperti dikutip Republika.co.id, Kamis (14/12).

Tidak hanya itu, Anwar menilai Fatwa sebagai sosok yang sangat membela dan menjunjung tinggi demokrasi. Bahkan setelah reformasi, beliau tetap berjuang di parlemen.

“Dia bukan hanya tokoh umat, tapi tokoh bangsa. Karena beliau tidak hanya dekat dengan umat Islam. Senang kita dibuatnya. Memang itulah salah satu tujuan hidupnya,” lanjutnya.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Hatta Rajasa, menilai AM Fatwa adalah tokoh yang konsisten menegakkan kebenaran.

“Bapak adalah sahabat perjuangan sejak reformasi. Banyak jasa beliau untuk bangsa. Beliau adalah tokoh yang konsisten menegakkan kebenaran,” ujar Hatta Rajasa di rumah duka, Jalan Condet Pejaten.

Sosok AM Fatwa bagi Hatta Rajasa tidak hanya sebagai seorang politikus tapi juga seorang negarawan. AM Fatwa juga ulama dan tokoh yang selalu berani demi kebenaran.

“Almarhum bukan hanya sorang politisi tapi juga negarawan dan ulama. Sosoknya adalah tokoh yang selalu berani berbicara apalagi demi sebuah kebenaran. Seorang tokoh yang kepada politisi selalu mengajarkan untuk keadilan,”ucap Hatta yang juga mantan Ketua Umum PAN tersebut.

WhatsApp Image 2017 12 13 at 23.10.20 300x200 - AM Fatwa dalam empati dan kesan sejumlah tokohPresiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengaku sering terlibat diskusi dengan AM Fatwa untuk memikirkan masa depan bangsa Indonesia.

“Sosok AM Fatwa mencintai kebenaran, demokrasi, kebebasan, keadilan dan perasamaan hak. Itulah pikiran almarhum. Sosok kritis,” ujar SBY saat bertakziah di kediaman almarhum.

Meskipun sebagai sahabat dekat, AM Fatwa tetap tidak kehilangan daya kritisnya. Khususnya saat SBY menjabat sebagai presiden. Tidak hanya mengkritik pemerintah, AM Fatwa juga sering mengkritik dirinya secara pribadi.

“Saya dengarkan semua karena justru kritik, saya bisaa mengerti perasaan rakyat dan yang diinginkan,” kata Ketua Umum Partai Demokrat itu.

Sementara Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menyebut AM Fatwa sebagai sosok negarawan sejati yang memiliki tekad untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Bahkan ketika di penjara, AM Fatwa tetap menyuarakan dan mengkritisi keadaan di Indonesia

“Dia sampai dipenjara, tapi tetap saja dia melanjutkan cita-cita untuk bangsa ini, di DPD, DPR,” ujar Jusuf Kalla saat melayat di Rumah Sakit MMC, Jakarta Selatan.

Jusuf Kalla mengaku kerap bertemu dengan AM Fatwa di berbagai forum dan pertemuan. Komunikasi terakhir antara keduanya yakni ketika AM Fatwa meminta Jusuf Kalla untuk meresmikan masjid.

“Kadang-kadang di pertemuan, perkawinan, apa, tapi terakhir dia minta saya resmikan masjidnya,” kata Jusuf Kalla. HK

Tinggalkan Balasan