Rab. Des 11th, 2019

Agenda Kongres

5 min read
WhatsApp Image 2018 10 28 at 07.50.14 - Agenda Kongres

Catatan A Basuki Babussalam*

mas bas1 - Agenda Kongres

Kita menyongsong kongres. Kongres Partai Amanat Nasional. Permusyawaratan tertinggi partai kita. Perhelatan yang kita mahfumi, sebagai forum pengambil kebijakan tertinggi partai yang kita cintai. Karena itu, mari memulai langkah menuju kongres dengan sebuah ikhtiar kebeningan hati. Kongres ini kongres kita. Kongres yang akan menentukan masa depan kita. Tak elok bila hajat kebaikan, diisi dengan sikap, perilaku dan kata yang tidak mulia.

Kongres adalah momentum membangun kembali semangat perjuangan  politik kita. Kongres harusnya menjadi sarana bercermin dan meneguhkan komitmen menata kemenangan. Kongres harus mampu membaca dengan cermat. Apa saja yang terjadi di masa lalu. Membaca semua peristiwa. Mengurai semua keadaan. Dan menawarkan sebuah solusi terbaik untuk masa mendatang. Kongres tidak boleh tercerabut dari esensinya karena terlalu sibuk hanya membahas soal ketua umum. Ada banyak agenda kongres, yang sejatinya menentukan mau jadi seperti apa partai politik kita.

Kita mulai dengan membaca kelembagaan. Mari kita bercermin dengan utuh. Bercermin utuh dalam arti tidak hanya untuk menohok orang per orang. Tapi kita melihat secara bening, agar jujur untuk membuat sebuah formula perbaikan ke depan. Apakah struktur partai kita ideal? Berapa ratus orang pengurusnya, dan berapa orang yang sejatinya bekerja sesuai kapasitasnya. Apakah kepemimpinan yang dalam AD/ART disebutkan kolektif kolegial berjalan? Apakah kepemimpinan sudah menjawab akan hadirnya leadership partai yang bisa menggerakkan, bukan hanya pengurus DPP, tapi menggerakkan kelembagaan partai secara nasional. Komposisi dan kombinasi apa yang harus kita tentukan, agar struktur partai berjalan efektif, terukur dan tepat dalam banyak hal.

Membayangkan bahwa semua jejaring pengurus, kader dan simpatisan partai kita adalah sebuah ornamen musik, kita merindukan satu ‘conductor’ yang memimpin orkestra politik kebangsaan. Seorang yang mampu menyerasikan irama nada di seluruh persada nusantara. Seorang yang mampu mewujudkan perbedaan bisa dibunyikan dalam keserasian. Seorang yang mampu menutupi kekurangan agar tetap terdengar serasi dalam kebinekaan. Seorang yang mampu mendengar, menguatkan, mengokohkan dan mewujudkan beribu harap ditengah semua kondisi yang dilalui.

Mari kita berdialog soal perkaderan. Perkaderan itu bukan hanya soal jumlah dan mutu dalam proses pelatihan. Yang untuk itu, kita bisa lihat betapa kurang dan gagapnya kita. Perkaderan yang sempurna itu adalah perkaderan yang bisa menyediakan kader untuk semua keperluan perjuangan partai kita. Mau pencalegan, kader kita harusnya sudah berlimpah sehingga kita tidak kebingungan mencari caleg seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Mau pemilihan kepala daerah, harusnya kita sudah memiliki banyak kandidat internal sehingga kita tidak sekedar mendompleng calon lain. Dan yang terpenting, ketika mau regenerasi kepemimpinan partai di semua tingkatan, kita sudah memiliki calon berlimpah untuk mengisi skuadron perjuangan politik di jajaran pengurus di semua tingkatan.

Perkaderan politik kita, tidak boleh terjerumus pada narasi normatif. Perkaderan harus mampu memberikan penguatan. Selain perkaderan formal, kita perlu beribu perkaderan non formal. Perkaderan yang bisa memberikan keterampilan pada ribuan tenaga staf administrasi keuangan partai kita di semua jenjang kepengurusan. Perkaderan yang mampu memberikan keterampilan mengelola big data di era revolusi data saat ini. Perkaderan yang mampu memberikan keterampilan pemenangan pada ratusan ribu calon anggota legislatif dan eksekutif yang akan diberangkatkan oleh PAN. Perkaderan yang memberikan panduan berbicara yang elok bagi semua anggota legislatif PAN terpilih. Kita juga rindu ada perkaderan non formal bidang ekonomi, seperti kewirausahaan, pelatihan jual beli saham, sampai bicara soal aplikasi dan start-up.

Di era revolusi 4.0, komunikasi dalam organ politik tentu menjadi pilar utama. Mari kita berbilas diri. Sejauh mana jangkauan kita dalam membangun komunikasi yang efektif dengan semua jejaring tingkatan kepengurusan partai. Sudahkan kita, memiliki sistem dan alat yang menjadikan komunikasi lintas tingkatan. Adakah kita telah memiliki sistem untuk membangun komunikasi yang sistemik, aman, dan efektif untuk menggerakkan semua komponen simpul-simpul organisasi kita. Bilakah kita memiliki kader di semua lini yang mampu menarasikan perjuangan platform politik kita? Ada berapa ribu mesin komunikasi digital yang kita gunakan untuk menyebarkan berita-berita kebaikan yang dilakukan oleh kader kita? Rasanya masih banyak pekerjaan yang harus kita mulai dalam dunia ini.

Kongres partai, juga memiliki titik tekan pada program. Dengan program kerja, kita berharap semua tujuan partai bisa diwujudkan. Mari kita buka kembali lembaran program kerja hasil  kongres-kongres kita yang lalu. Pernahkan kita memiliki program kerja yang sudah diwujudkan secara sungguh sungguh? Program kerja yang dirinci secara detail dalam rakernas. Kemudian diturunkan untuk dijalankan ditingkat wilayah, daerah, cabang dan ranting. Saatnya kita bercermin. Begitu mudahnya kita mengabaikan membahas penyusunan program kerja. Dibahas sambil lalu dalam rapat-rapat kerja. Diserahkan pada tim perumus. Tapi nyatanya, tak pernah lahir satupun sebuah program kerja yang terstruktur, sistematis dan membumi hingga ke akar para kader.

Kita juga perlu merenung dan berpikir keras soal keuangan dan aset partai. Sebagai partai besar, saat partai kita pernah nomer urut lima, kita harusnya sudah tegak berdiri dalam kelayakan sebagai sebuah organisasi partai. Kita pernah punya banyak pejabat negara. Kita punya banyak kepala daerah. Kita juga punya ribuan anggota legislatif yang tersebar di seluruh Indonesia. Tapi marilah kita lekat menatap diri ke dalam. Apa yang sudah kita ikhtiarkan untuk mewujudkan perjuangan politik yang kita sepakati dalam platform perjuangan politik kita. Penataan aset kita masih begitu lemah. Pengelolaan keuangan partai kita masih jauh dari standar. Dan sayangnya, tidak pernah ada pembinaan, pelatihan, bahkan pengarahan sekalipun, bagaimana sejatinya semua potensi itu harus ditata untuk kemenangan partai kita.

Dan akhirnya, kita berharap kongres ini mampu melahirkan spirit yang menyatukan semua elemen organ politik di Partai Amanat Nasional. Dalam masa pancaroba politik di era reformasi, Pak Amien Rais bersama seluruh pendiri, menyatukan kita dalam partai ini karena sebuah rangkian nilai perjuangan yang menyatukan. Kita rindu dengan semangat penyatuan itu. Kita sedih, menjelang kongres yang menyeruak justru kekuatan perbedaan. Banyak pihak angkat tangan tinggi-tinggi, untuk menuding dan menunjukkan keburukan saudara sendiri. Padahal kita sudah diajari, kalau banyak kader menyuarakan kebencian dan keburukan, kesimpulannya hanya satu, bahwa yang buruk dan membencikan itu bisa menjadi warna pemahaman publik terhadap partai kita.

Saatnya kita bekerja dengan keras dan sungguh sungguh menjelang kongres. Untuk menyatukan agar semua kembali bersama. Satu arah ke titik tujuan yang sudah kita canangkan. Membuat perencanaan kebijakan yang konprehensip yang diperlukan oleh partai kita tercinta. Selamat Ber-Kongres. Semoga Allah memberikan kemenangan dan limpahan keberkahan kepada kita sekalian.

*(A Basuki Babussalam, Bermukim di @basukibiru dan istanakambong@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.